Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 Juni 2017

MORFOLOGI



BAB I


1.        Tujuan :

1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian dan lingkup kajian morfologi.
2. Mahasiswa dapat menidentifikasi kedudukan morfologi.
3. Mahasiswa mampu mengontraskan morfologi dengan kajian yang lain.

2.        Pokok pembahasan

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·      Pengertian morfologi
·      Lingkup Kajian
·      Kedudukan morfologi dalam Linguistik

Secara etimologi morfologi berasal dari kata morf yang berarti ‘bentuk’ dan kata logi yang berarti ilmu. Secara harfiah kata morfologi berarti ‘ilmu mengenai bentuk (Chaer, 2015:3). Hal ini berbeda dengan yang disampaikan oleh Arifin (2009:2) memeberikan pengertian bahwa morfologi adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna. Lebih terperinci Ramlan (2016: 32) memberikan pengertian Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik sebuah simpulan tentang pengertian morfologi yaitu ilmu bahasa yang mempelajari bentuk-bentuk dan pembentukan kata.

·         Lingkup Kajian
Kajian morfologi berada diantara kajian fonologi dan sintaksis yang mempunyai kaitan baik dengan fonologi maupun sintaksis. Keterkaitannya dengan fonologi yaitu dengan adanya kajian yang disebut morfofonemik atau morfonologi yaitu yang mengkaji terjadinya perubahan fonem akibat adanya proses morfologi. Chaer, 2015:4.

Dalam linguistik model ini disebut model proses. Di samping model itu, dikenal pula model lain yaitu model penataan dan model paradigma (lihat Hocket 1959 dan Robins 1960) untuk menjelaskan ketiga model itu, kita ambil kata pesuruh sebagai contoh. (Kridalaksana, 2007).
Morfologi dalam bidang Leksiko grafi adalah kelanjutan kerja dari leksikologi, dalam arti kalau hasil kerja leksikologi dituliskan, maka proses kerja penulisan itu adalah disebut leksikografi ; dan hasilnya adalah sebuah kamus. Jelas, dalam proses penyusunan kamus bidang morfoloogi ini memegang peranann pentn. Sebagian besar proses penyusunan kamus: mengurusi: masalah bentuk dan pembentukan kata: dan sebagian lagi adalah berkenaan dengan kerja penyusunan definisi, atau penjelasan mengenai makna kata (Chaer, 2015: 6).
Morfologi dalam etimologi morfologi membicarakan proses pembentukan kata yang berlaku secara umum sebagai suatu sistem berkaidah. Sedangkan etimologi membicarakan pembentukan atau terbentuknya kata atau asal usul yang tidak berkaidah, misalnya, kata sinonimi berasal dari bahasa yunani syn yang artinya ‘dengan’ dan kata bahasa yunani Onoma yang berarti ‘nama’. Contoh lain kata sekaten (dalam bahasa jawa) berasal dari kata bahasa arab Syahadatain (yaitu ucapan dua kalimat syahadat ) (Chaer, 2015:6-7).

BAB II

3.      Tujuan:

1.   Mahasiswa dapat membedakan bentuk tunggal dan bentuk kompleks.
2.   Mahasiswa dapat mencontohkan bentuk bebas dan bentuk ikat, bentukasal dan bentuk dasar.
3.   Mahasiswa dapat mendiskusikan morfem, morf, dan alomorf.

4.      Pokok Pembahasan

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·         Pengertian satuan gramatik
·         Bentuk tunggal dan bentuk kompleks
·         Satuan gramatik bebas dan satuan gramatik tertikat
·         Gramatik asal dan bentuk dasar
·         Morgem, morf, alomorf, dan kata
Ramlan (2012: 27) berpendapat bahwa gramatikal adalah satuan-satuan yang mengandung makna baik makna leksikal maupun mkana gramatikal.
·         Bentuk Tunggal Dan Bentuk Kompleks Menurut Ramlan (2012: 28)
Bentuk tunggal adalah satuan gramatik yang tidak terdiri dari satuan yang lebih kecil. Sedangkan bentuk kompleks adalah satuan yang terdiri dari satu satuan yang lebih kecil lagi.

Menurut Yasin (1988: 31)
Bentuk tunggal adalah kata tunggal terdiri atas satu morfem, sedangkan bentuk kompleks terdiri atas dua morfem atau lebih.
Contoh Bentuk Tunggal                     Contoh Bentuk Kompleks
Makan                                                 Makanan
Minum                                                 Minuman
Tidur                                                   Bertiduran
Duduk                                                             Kedudukan
Sepeda                                                Bersepeda

·         Satuan Gramatik Bebas Dan Satuan Gramatik Terikat
Menurut Kridalaksana (2007: 11) berpendapat bahwa gramatikal bebas yaitu satuan gramatik yang memiliki potensi untuuk berdiri sendiri secara sintaksis bisa langsung menjadi kata. Sedangkan gramatkal terikat yaitu satuan yang merupakan peralihan diantara morfem bebas dan terikat hal itu diuraikan secara tersendiri.

·         Jenis Morfem BI Dan Distribusinya
Dalam bukunya “Tata Bentuk Bahasa Indonesia” Masnur Muslich (2010: 11-20) , mengatakan  jenis morfem BI dan distribusinya adalah sebagai berikut.
a.       Jenis morfem berdasarkan kemampuan berdistribusinya
1)    Bentuk bebas
Bentuk-bentuk yang dapat dipakai secara tersendiri dalam kalimat atau tuturan biasa disebut bentuk bebas atau free form atau free morpheme. Contoh bentuk bebas adalah makan, minum, kuliah, pergi, jalan, dan lain-lain.
2)    Bentuk terikat
Bentuk yang tidak dapat berdiri sendiri, baik dalam kedudukannya sebagai kalimat maupun kata yang menjadi unsur pembentuk kalimat disebut bentuk terikat (bound form atau bound morpheme). Contoh bentuk terikat adalah terbangun, janjian, terjatuh, dan lain-lain.
3)    Bentuk semibebas
Bentuk yang masih mempunyai kebebasan disebut bentuk semibebas (semi-free form atau semi-free morpheme). Contoh bentuk semibebas adalah dari, ke, juga, dan lain-lain.
b.      Jenis morfem berdasarkan produktifitasnya
1.   Afiks produktif
Morfem afiks yang terus-menerus mampu membentuk kata baru disebut afiks produktif (productive affix). Contoh : morfem afiks (per-an) yang dapat membentuk kata-kata sebanyak-banyaknya : perjalanan, pergaulan, perkelahian, perkebunan, perekonomian, persaudaraan, dan lain sebagainya.
2.   Afiks tak produktif
Morfem yang sudah tidak mampu lagi membentuk kata-kata baru disebut afiks tak produktif (anproductive affix). Contoh : morfem ke-, -em-, -el-, dan –er-.
c.       Jenis morfem berdasarkan relasi antar unsurnya
1.   Morfem utuh
Morfem yang deretan fonemnya tidak terpisah disebut morfem utuh. Contoh morfem utuh adalah pohon, rumah, buku, mata, telinga, kaki, dan sebagainya.
2.   Morfem terbelah
Morfem yang terpisah dalam deretan pemakaiannya disebut morfem terbelah. Contoh morfem terbelah adalah ke-tuhan-an, ke-manusia-an, ke-rajin-an, di-kerja-kan, di-paksa-kan, di-timbang, per-kuliah-an, dan sebagainya.
d.      Jenis morfem berdasarkan sumbernya
1.   Morfem yang berasal dari bahasa indonesia asli
Morfem-morfem afiks yang berasal dari bahasa indonesia asli disebut morfem yang berasal dari bahsa indonesia asli. Morfem afiks yang di maksud adalah prefiks (men N-, ber-, peN-, dan sebagainya, infiks (-el-, -em-, -er-), sufiks (-an, -kan, -i), konfiks (pe-an, ke-an, per-an, dan sebagainya).
2.   Morfem yang berasal dari bahasa daerah yang berada di wilayah indonesia
3.   Morfem yang berasal dari bahasa asing.
e.       Jenis morfem berdasarkan jumlah fonem yang menjadi unsurnya
1.   Monofonemis
Morfem yang berunsur satu  fonem disebut monofenemis.morfem bermakna yang maknanya bisa diperiksa dalam kamus disebut morfem leksikal adalah hujan, durian, matahari, langit, awan.
2.   Morfem gramatikal
Morfem yang maknanya baru diketahui bila sudah berada dalam kontruksi yang lebih besar , atau dikatakan telah melekat pada bentuk-bentuk dasar , bentuk dari  kelompok  pertama disebut  morfem gramatikal.

·         Menurut Arifin (2009: 2) Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna. Sedangkan menurut Chaer (2015: 15) Morfem merupakan barang abstrak karena ada dalam konsep. Dalam bukunya Chaer (2015: 16) berpendapat tentang Morf yang berarti bentuk yang belum dikethui statusnya, apakah sebagai morfem atau sebagai alomorf. Jadi sebenarnya wujud fisik morf adalah sama dengan wujud fisik alomorf. Arifin (2009: 3) juga memberikan pendapat bahwa Alomorf adalah anggota satu morfem yang wujudnya berbeda tetapi mempunyai fungsi dan makna yang sama. Selain itu Chaer (2015: 15) berpendapat lain bahwa Alomorf merupakan barang yang konkret yang ada dalam pertuturan.


BAB III

5.      Tujuan:

1.   Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian proses morfologis.
2.   Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri kata yang mengalami prosoes morfologi.
3.   Mahasiswa dapat menjelaskan macam-macam proses morfologis.
4.   Mahasiswa dapat menjelaskan pembentukan kata di luar proses morfologis.

6.      Pokok pembahasan:

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·         Pengertian proses morfologis
·         Ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis
·         Macam-macam proses morfologis
·         Pembentukan kata di luar proses morfologis

Yasin (1998: 48) Proses morfologi ialah suatu pereistiwa (cara) pembentukan kata-kata denganmenghubungkanmorfem yang satuan morfem yang lain.
·           Ciri Suatu Kata Yang Mengalami Proses Morfologis
Chaer (2015: 3) memberikan pendapat mengenai ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis yaitu dengan berbagai proses pembentukan kata seperti afiks melalui proses afiksasi, duplikasi, atau pengulangan melalui proses reduplikasi, penggabungan melalui proses komposisi dan lain sebagainya. Jadi akhir dari proses morfologis adalah terbentuknya kata dalam bentuk dan makna sesuai dengan keperluan dalam suatu tindak pertuturan.
·           Macam-Macam Proses Morfologis
Menurut Kridalaksana, Harimurti (2007:12)
1.         Derefasi zero
2.         Afiksasi
3.         Reduplikasi
4.         Abreviasi (pemendekan)
5.         Komposisi (perpaduan)
6.         Derivasibalik
MenurutArifin, Zaenal. (2007: 9)
a.         Derifasi zero
b.         Afiksasi
c.         Reduplikasi
d.        Komposisi
e.         Abreviasi
f.          Derivasibalik
g.         Metanalisiss
h.         Analogi
i.           kombinasi proses
Menurut Yasin, Sulchan (1988:50)
1.         afiksasi
2.         reduplikasi
3.         pemajemukan
Menurut Chaer, Abdul  (2015:25)
Proses morfologi melibat kankomponen 1) Bentukdasar 2) alatpembentuk (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dankonversi) 3) maknagramatikal, dan 4) hasil proses pembentukan.


7.      Tujuan:

1.   Mahasiswa dapat menyebutkan macam-macam afiks dan afiksasi.
2.   Mahasiswa dapat mengidentifikasi kaidah morfofonemis.
3.   Mahasiswa dapat menjelaskan morfem afiks.

8.      Pokok Pembahasan:

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·         Pengertian afiks dan afiksasi
·         Perubahan fonem akibat afiksasi
·         Arti morfem afiks
·         Fungsi morfm afiks

Arifin (2009: 10) berpendapat tentang pengertian afiksasi bahwa afiksasi atau pengimbuhan adalah proses morfologis yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mendapat afiks, yang dalam bahasa kita cukup banyak jumlahnya.
 Menurut Parera (2007: 18) proses afiksasi adalah suatu proses yang paling umum dalam bahasa, proses afiksasi tersebut terjadi apabila sebuah morfem terikat dibubuhkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus. Namun menurut Kridalaksana (2007: 28) pengertian afiksasi adalah proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Sedangkan menurut pendapat Alwi (2010: 31) afiks atau imbuhan adalah bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata.

·           Perubahan Fonem Akibat Afiksasi
Menurut Chaer (2015: 46) Morfofonemik dalam pembentukan kata bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi. Dalam proses reduplikasi dan komposisi hamper tidak ada. Dalam proses afiksasi pun terutama, hanya dalam prefiksasi ber-, prefiksasi me-, prefiksasi pe-, prefiksasi per-, konfiksasi pe-an, dan sufiksasi –an.
·           Arti Morfem Afiks menurut Chaer (2015: 23) yaitu morfem yang bukan menjadi dasar dalam pembentukan kata, tapi menjadi unsur  pembentuk dalam proses afiksasi.
·           Fungsi Morfem Afiks
Dalam buku Chaer (2015: 23) fungsi morfem afiks sendiri yaitu menjadi unsur pembentuk dalam proses afiksasi.

BAB V

9.      Tujuan :

1.   Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri bentuk dasar kata ulang.
2.   Mahasiswa dapat mendeskripsikan jenis-jenis pengulangan dalam BI.
3.   Mahasiswa dapat menjelaskan morfem ulang.
4.   Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi morfem ulang

10.  Pokok Pembahasan :

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·         Pengertian kata ulang (Reduplikasi)
·         Ciri bentuk dasar kata ulang
·         Jenis pengulangan
·         Arti morfem ulang
·         Fungsi morfem ulang

Reduplikasi atau pengulangan adalah proses morfologis yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mengalami proses morfologis (Arifin, 2009:11). Sedangkan Chaer (2015:178) memberikan pengertian bahwa reduplikasi atau pengulangan bentuk satuan kebahasaan merupakan gejala yang terdapat dalam banyak bahasa di dunia ini. Selain itu Yasin, Sulchan (1988: 129) berpendapat bahwa reduplikasi ialah pengulangan bentuk atas suatu bentuk dasar.
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik sebuah simpulan tentang pengertian reduplikasi adalah suatu pengulangan bentuk dasar karena mengalami proses morfologis.
·         Ciri Bentuk Dasar Kata Ulang
Menurut Kridalaksana (2007: 90) ciri bentuk dasar kata ulang yang bersifat non idiomatis dan bersifat idiomatis, reduplikasi non idiomatis itu menyangkut reduplikasi yang maknanya leksikal dari bentuk dasarnya tidak berubah, sedangkan reduplikasi idiomatis itu pengulangan kata yang maknanya tidak sama dengan makna leksikal komponen - komponennya.

·         Jenis pengulangan:
Menurut Yasin, Sulchan (1988: 132)
1.      Pengulangan seluruh bentuk dasar tanpa variasi fonem dan afiksasi
2.      Pengulangan sebagian yang terdiri atas bentuk kompleks dan bentuk tunggal.
3.      Pengulangan dengan berimbuhan / afiksasi
Menurut Arifin, Zaenal (2009: 11)
1.      Dwipurwa (pengulangan suku awal)
2.      Dwilingga (pengulangan penuh)
3.      Dwilingga salin suara (pengulangan penuh yang berubah bunyi)
4.      Dwiwasana (pengulangan suku akhir)
Menurut Kridalaksana, Harimurti (2007: 88) dalam bukunya sependapat dengan yang ada dalam buku Arifin, Zaenal (2009: 11). Namun dalam bukunya, Kridalaksana menulis 3 jenis reduplikasi atau pengulangan lebih lengkap, yakni:
1.      Reduplikasi fonologis
2.      Reduplikasi morfemis
3.      Reduplikasi sintaksis
4.      Repduplikasi Semantik
5.      Repduplikasi morfologis

·         Arti Morfem Ulang
Morfem ulang bahasa indonesia dapat membentuk kata dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja, benda, dan sifat. Disamping itu mirfem ini ada juga yang berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam bentuk suatu kata misal, dengan ke an dal kekuning-kuningan.
·         Fungsi Morfem Ulang
1)        Morfem ulang sebagai  pembentuk kata benda
Bentuk yang akan dibendakan bisa disebut mengalami proses nominasi lazimnya berkelas kata kerja, terutama kata kerja yang sudah berafiks. Tetapi tidak sembarang kata kerja berafiks yang di ulang mampu mengubah kelas kata kerja kekata benda.
2)        Morfem ulang sebagai pembentuk kata tugas\ sarana
Dalam tuturan anaknya cantik-cantik. Dan gurunya galak- galak, cantik-cantik dan galak-galak tetap berkelas kata sifat seperti bentuk dasarnya,yaitu cantik dan galak.

BAB VI 

11.  Tujuan:

1.   Mahasiswa mengidentifikasi ciri-ciri kata yang mengalami proses pemajemukan.
2.   Mahasiswa dapat  menjelaskan kontruksi kata majemuk.

12.  Pokok Pembahasan:

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·         Pengertian pemajemukan
·         Ciri kata yang mengalami pemajemukan
·         Arti morfem konstruksi majemuk
·         Fungsi Morfem

Kridalaksana (2007: 104) memberikan pendapat tentang pengertian pemajemukan suatu proses penggabungan dua leksem atau lebih yang membentuk kata. Hal berbeda disampaikan oleh Arifin (2009: 12) adalah proses morfologis yang mengubah gabungan leksem menjadi satu kata, yakni kata majemuk. Sedangkan menurut Ramlan (2012: 77) pemajemukan adalah kata yang terjadi dari dua kata sebagai unsur.
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik sebuah simpulan tentang pengertian pemajemukan adalah proses penggabungan dua leksem atau lebih menjadi satu kata.
·         Ciri kata yang mengalami pemajemukan menurut Yasin (1988: 152):
a.       Kedua unsurnya menunjuk / membentuk / menimbulkan pengertian baru. Contoh:
Kapal terbang: pesawat yang dapat terbang. Satu benda satu pengertian.
b.      Hubungan antara kedua unsurnya sangat erat dan rapat sehingga tidak dapat dipertukarkan atau dibolak-balik. Contoh:
Bentuk Majemuk
Tidak Dapat Dijadikan
Panjang tangan
Mata sapi
Tangan panjang
Sapi mata

c.       Hubungan kedua unsur sangat rapat dan erat sehingga diantara keduanya tidak dapat disisipi unsur lain. Contoh:
Mata sapi sebagai Bentuk Majemuk berbeda pengertiannya dengan matanya sapi, mata dan sapi, mata dari sapi an lain sebagainya.
d.      Hubungan antara kedua unsur sangat rapat dan erat sehingga jika diberi afiks harus kena pada seluruh kata dan tidak boleh disisipkan diantara kedua unsurnya. Contoh:
Mata sapi --- mata sapinya bukan matanya sapi.

·         Arti Morfem Kontruksi Majemuk
Dalam buku Mulsich (2010: 91-93) dapat diambil simpulan bahwa Morfem ini apabila bergandeng dengan morfem lain dapat membentuk-bentuk  majemuk. Morfem yang bergandeng dengan morfem unik ada dua jenis, yaitu berjenis kata kerja dan berjenis kata sifat. Jenis morfem yang diikuti morfem unik ini akan berpengaruh dalam penentuan arti morfem unik itu sendiri.oleh sebab itulah, penentuan arti morfem unik tidak dapat terlepas dari jenis morfem yang diikutinya.

·         Fungsi Morfem Kontruksi Majemuk
Menurut Muslich (2010: 99) bisa disimpulkan bahwa morfem dalam kontruksinya majemuk bisa berubah  kelas katanya. Perubahan itu diakibatkan oleh penggabungan unsur-unsurnya. kelas kata bentuk majemuk,  disamping bisa sama persis dengan kedua unsurnya, bisa pula sama dengan salah satu unsurnya, bahkan berbeda sama sekali dari unsur-unsurnya. 


BAB VII

13.  Tujuan:

1.   Mahasiswa dapat menjelaskan perubahan bentuk dalam bahasa indonesia.
2.   Mahasiswa dapat mencontohkan perubahan bentuk BI.
3.   Mahasiswa dpat menjelaskan makna perubahan bentuk kata dalam BI.

14.  Pokok Pembahasan:

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·         Perubahan bentuk kata dalam Bahasa Indonesia.

Dalam morfologi Bahasa Indonesia terdapat bentuk-bentuk yang secara historis tidak berasal dari bahasa melayu awal. Hal ini dikemukakan oleh Muslich (2010: 110-123):

1.      Versi Keraf
Gorys Keraf (1970) dalam buku Masnur Muslih ada seorang Ahli yang menjeniskan kriteria baru dalam pembentukan kata. Berdasarkan kiteria tersebut, kata bahasa Indonesia dapat digolongkan menjadi empat jenis sebagai berikut.
a.       Kata benda (Nomina)
Kata benda adalah segala macam kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan “yang+kata sifat”. Misalnya:
·         Matahari          yang terang
b.      Kata Kerja (Verba)
Kata kerja adalah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata “dengan + kata sifat.” Misalnya:
·         Berlari             dengan cepat
c.       Kata Sifat (Ajektival)
Kata SIfat adalah segala macam kata yang dapat mengambil bentuk “se + reduplikasi + nya,” serta dapat diperluas dengan: paling, lebih, sekali. Misalnya:
·         Se-pintar-pintar-nya    paling pintar
d.      Kata Tugas
Kata tugas adalah segala macam kata yang tidak termasuk salah satu jenis kata, atau menjadi subgolongan jenis-jenis kata yang ada di atas. Kata tugas tidak bisa menduduki fungsi-fungsi pokok dalam sebuah kalimat. Contoh kata tugas: di,ke, dari, dan, tetapi, supaya, lagi, sudah, tidak, sebelum, tentang, dengan, akan, oleh, terhadap, bagi.

2.      Versi Ramlan
Selain Versi Keraf yang tertulis dalam bukunya, Ramlan juga mengemukakan tulisannya. Ramlan telah mengemukakan bahwa penggolongan kata dalam tatabahasa structural tidak ditentukan berdasarkan arti, melainkan secara gramatikal, berdasarkan sifat atau perilakunya dalam membentuk satu golongan kata. Dalam bukunya, Ramlan menggolongakan kata dalam bahasa Indonesia dapat digolongkan menjadi tiga kata sebagai berikut.
a.       Kata Nominal
Kata nominal adalah semua kata yang dapat menduduki tempat objek dan yang dinegatifkan denan kata bukan. Golongan ini dapat dibedakan atas tiga golongan, ialah:
1)        s
b.      Kata Adjektif
Kata adjektif adalah semua kata yang tidak dapat menduduki tempat objek, dan dinegatifkan dengan kata tidak. Misalnya :
Ia bukan dokter, melainkan sopir.
Kata adjektif dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu
1)        Kata sifat, yang dapat didahului oleh kata amat, sangat, dan lebih.
2)        Kata kerja ajectival yang dapat didahului oleh kata boleh.
c.       Kata Partikel
Kata partikel ialah semua kata yang tidak termasuk golongan kata nominal dan ajektival kata pertikel ini dapat dibagi menjadi:
1)        Kata penjelas, kata yang di dalam frasa selalu berfungsi sebagai atribut dalam kontruksi indosentrik yang atributif; misalnya: semua, paling, suatu, lebih, boleh, harus, sedang;
2)        Kata keterangan, kata yang selain berfungsi sebagai keterangan bagi klausa; misalnya: dahulu, lusa, kemarin, sekarang;
3)        Kata penanda, kata yang menjadi director dalam kontruksi eksosentris yang direktif; misalnya: di, dari, ke, karena;
4)        Kata perangkat, kata yan berfungsi sebgai koordinator dalam kontruksi indosentris yang koordinatif; misalnya; dan, atau, tetapi;
5)        Kata Tanya, kata yang berfungsi membentuk kalimat Tanya; misalnya: bagaimana, dimana, apa, siapa, (5W+1H)
6)         Kata seru, kata yang tidak mempunyai sifat sebagai partikel yang lain; nih.
Berasarkan penunjuk satuan yang dipakai, dapat digolongkan menjadi:
1)        Kata benda manusiawi, yaitu kta benda yang mempergunakan kata orang sebagai penunjuk satuan.
2)        Kata benda hewani, yaitu kata benda yang mempergunakan kata ekor sebagai satuan.
3)        Kata benda lainnya, yaitu kata benda yang tidak mempergunakan kata orang dan ekor sebagai penunjuk satuan.
Versi lain yang telah dijelaskan dia atas ada versi seorag ahli yang tertulis di buku Masnur Muslich yaitu versi Samsuri.
3.      Versi Samsuri
Samsuri mengelompokan  kata dalam lima golongan, yaitu:
a)      Nomina, secara morfologis, nomina dibedakan menjadi dua golongan
1)      Nomina dasar, sederhana dan rumit. Contoh nomina dasar sederhana, misalnya, buku. Contoh nomina dasar rumit, misalnya, cecunguk.
2)      Nomina turunan, yaitu bentuk yang mengantung morfem.
b)      Verba
1)      Verba dasar
2)      Verba turunan
c)      Ajectiva
1)      Ajectiva dasar
2)      Ajectiva turunan
d)     Numeralia
1)      Ajectiva dasar
2)      Ajectiva turunan

e)      Kata sarana
1)      Kata sarana frase
2)      Kata sarana tranformasi tunggal
3)      Kata sarana tranformasi lajutan
4)      Kata sarana transformasi umum
4.      Tata bahasa baku Bahasa Indonesia
“Rombongan” Linguis Bahasa Indonesia
a.       Verba
Verba bercirikan:
1)      Berfungsi ssebagai (inti) Predikat
2)      Bermakna Dasar
3)      Verba yang bermakna keadaan tidak bisa di prefiksi.
Dilihat dari bentuknya verba dibedakan atas 1 asal, 2 turunan.
b.      Nomina
Dari segi semantic, Nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang,benda, atau konsep. Dari segi sintaksis ia bercirikan:
1)      Sebagai fungtor subject,
2)      Takbisa dibentuk ingkarkan dengan tidak, melainkan bukan
3)      Secara langsung atau tidak, lazimnnya bisa di ikuti ejektiva dengan perantara yang.
Dilihat dari segi morfologisnnya, dikenal
1)      nomina kata dasar
2)      nomina yang diturunkan dari kata lain.

c.       Pronominal
Pronominal adalah kata yang di pakai untuk mengacu nomina.
1)      Pronominal persona (aku, anda, mereka)
2)      Pronominal penunjuk (ini, begini, demikian)
3)      Pronominal penannya (apa, dari mana)

d.      Numeralia
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknnya maujud dan konsep. Numeralia dibedakan menjadi tiga.
1)      Pokok
2)      Tingkat
3)      Pecahan
e.       Ejektiva
Kata yang dipakai untuk menyatakan sifat/keadaan orang, benda, binatang, disebut kata sifat atau kata keadaan atau ejektiva. Ciri-cirnya
1)      Bisa diberi keterangan pembanding.
2)      Dapat diber keterangan penguat
3)      Dapat di ingkari dengan tidak
4)      Dapat diulang dengan
5)      Pada kata tertentu berakhir dengan –er,-i,-if.
Ada dua adjectiva, yang pertama (1) monomorfemis, (2) polimorfemis
f.       Adverbial
Adverbial adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adejctiva, nomina predikatif, atau kalimat yang sebut adverbial itu. Ada dua adverbial:
1)   Monomorfemis
2)   Polimorfemis
g.      Kata Tugas
Kata ini hanaya memiliki makana gramatikal. Disampig itu, hampir semua kata tugas tidak bisa mengalami perubahan bentuk. Ada lima kelompok dalam kata tugas:
1)      Preposisi
2)      Konjungsi
3)      Interjeksi
4)      Artikel
5)      Partikel

BAB VIII

15.  Tujuan:

1.   Mahasiswa dapat mendiskusikan problem pembentukan kata BI.

16.  Pokok Pembahasan

Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·         Problematika pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. 
Ada tujuh problematika pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia yang dikemukakan oleh Muslich (2010: 131-139):
1.      Problematika akibat bentukan baru
2.      Problema akibat kontaminasi
3.      Problema akibat adanya unsur serapan
4.      Problema akibat analogi
5.      Problema akibat perlakuan kluster
6.      Problema akibat proses morfologis bentuk serapan
7.      Problema akibat perlakuan bentuk majemuk
Setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, walaupun dikatakan mempunyai sistem, dalam pemakaiannya selalu timbul masalah-masalah, baik masalah yang berhubungan dengan bunyi, bentukan kata, penulisan, maupun pemakaian kalimat.
Pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbulkan problema-problema. Setelah dikelompokan, paling tidak ada tujuh problema, yaitu:
1.      Problema akibat pembentukan baru, banyak sekali bentukan baru sebagai kreasi pemakai bahsa Indonesia. Missal bentuk memberhentikan, keberhasilan, keterbelakangan. Bentuk ini tergolong bentuk baru sebab bentuk berkontruksi demikian (prefiks+ prefiks+bentuk dasar+sufiks).
2.      Pobrelamatika akibat kontaminasi. Kontaminasi merupakan gejala bahasa yang mengacaukan kontruksi kebahasaan. Dua kontruksi, yang mestinya harus berdiri sendiri secara terpisah, dipadukan menjaddi satu kontruksi. Akibatnya, kontruksi itu menjadi kacau atau rancu artinya. Kontaminasi dalam kontruksi kata, misalnya *diperlebarkan, *mengeyampingkan, *dipelajarkan.
3.      Pobrelamatika akibat unsur serapan, adanya unsur bahasa asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia juga membuat problema tersendiri. Hal itu terlihat pada kekecauan dan keraguan –raguan pemakaian bentuk data-data, datum- datum, data, datum; fakta-fakta, faktum-faktum, fakta, faktum;
4.      Pboblema akibat analogi: adalah bentuk bahasa denan menurut contoh yang sudah ada. Gejala analogi ini sangat penting dalam pemakaian bahasa sebab pada dasarnya pemakaian bahasa dalam penyunyusunan kalimat, frase, dan kata beranologi pada contoh yang telah ada atau yang telah diketahuinya. Sebagai contoh, dengan adanya bentuk ketidak adilan, kita dapat membentuk konstruksi ketidak beresan, ketidak baikan, dan seterusnya;
5.      Problema akibat perlakuan kluster; kluster atau konsonan rangkap mengundang problema tersendiri dalam pembentukan kata bahasa indonesiIndonesia disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal kluster. Kata yang berkluster (yang dipakai dalam bahasa Indonesia) itu bersaal dari unsur serapan, misalnya program, prklamasi, traktir, transfer;
6.      Problematika Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan, hampir semua bentuk serapan  dalam bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan penambahan afiks atau pengulangan. Yang menjadi pertanyaan adalah “ Apakahh semua bentuk serapan mengikuti sistem pembentukan kata yang selama ini diterapkan dalam bentuk-bentuk bahasa Indonesia asli?”
Bentuk serapan, kelompok pertama dapat diperlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia, termasuk proses morfologisnya, sedangkan kelompok kedua belum dapat diperlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia.
7.      Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk, problema morfologis terakhir yang berhasil di catat di sini adalah problema akibat perlakuan bentuk majemuk. Pobrelama itu terlihat pada persaingan pemakaian bentuk pertanggng jawaban dan pertanggungan jawab, kewarganegaraan dan kewargaan Negara, menyebarluaskan dan mnyebarakn luas. Dari contoh itu terlihat dua perlakuan bentuk majemuk, yaitu  bentuk majemuk yang unsur-unsurnya dianggap sebgai satu kesatuan, dan bentuk majemuk yang unsur-unsurnya dianggap renggang.


Daftar Pustaka
Ramlan, M. 2012. Morfologi Suatu Tinjaun Deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tata Bahasa Deskriptif. Malang: YA3.
Alwi, Hasan. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: P.T. Gramedia.
Yasin, Sulchan. 1988. Tinjauan Deskriptif Seputar Morfologi. Surabaya: Usaha Nasional.
Chair, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin, Zainal. 2009.  Morfologi Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: P.T. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Parera, Jos Daniel. 2007. Morfologi Bahasa. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

TEBAK KATA MATERI: Struktur Anekdot LANGKAH-LANGKAH Guru mempersiapkan media yang sudah lengkap dengan huruf-huruf. ...