Bab 1
pendahuluan
Latar Belakang.
Dewasa ini kurikulum menjadi pandangan dan pedoman bagi pendidikan dalam menjalankan pembelajaran. Oleh karena itu pemerintah membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan jaman dan disesuaikan dengan masalah pendidikan yang ada di Indonesia. Untuk membuat atau membentuk sebuah kurikulum harus direncakan terlebih dahulu dan dinamakan Perencanaan Kurikulum. Dalam bukunya Oemar Hamalik Perencanaan Kurikulum adalah suatu proses ketika peserta dalam banyak tingkatan membuat keputusan tentang tujuan belajar, cara mencapai tujuan, melalui situasi mengajar-belajar, serta penelaahan keefektifan dan kebermaknaan metode tersebut (Hamalik, 2008: 171).
Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional.
Konsep Kurikulum:
Beberapa tafsiran lainnya dikemukakan sebagai berikut ini.
Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Mata ajaran tersebut mengisis materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya.
Kurikulum sebagai rencana pembelajaran. Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa.
Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.
Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar. Itu sebabnya, suatu kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar maksud tersebut dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain; yang pada gilirannya menyediakan kemungkinan belajar secara efektif. Semua kesempatan dan kegiatan yang akan dan perlu dilakukan oleh siswa direncanakan dalam suatu kurikulum.
Kurikulum sebagai pengelaman belajar. Perumusan/pengertian kurikulum lainnya yang agak berbeda dengan pengertian-pengertian sebelumnya lebih menekankan bahwa kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. Salah satu pendukung dari pengalaman ini menyatakan sebagai berikut:
“Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not (Romine, 1945,h. 14).”
Pengertian itu menunjukan, bahwa kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan mencakup juga kegiatan-kegiatan diluar kelas. Tidak ada pemisahan yang tegas antara intra dan ekstra kurikulum. Semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar/pendidikan bagi siswa pada hakikatnya adalah kurikulum.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Undang-Undang No.20 TH. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi.
(Pasal 1 Butir 6 Kemendiknas No.232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa).
Kurikulum adalah serangkaian mata ajar dan pengalaman belajar yang mempunyai tujuan tertentu, yang diajarkan dengan cara tertentu dan kemudian dilakukan evaluasi. (Badan Standardisasi Nasional SIN 19-7057-2004 tentang Kurikulum Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan).
Dari berbagai macam pengertian kurikulum diatas kita dapat menarik garis besar pengertian kurikulum yaitu: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
Apa pengertian dari Perencanaan Kurikulum?
Apa saja prinsip-prinsip perencanaan Kurukulm?
Bagaimana Karakteristik Perencanaan Kurikulum?
Bagaimana Kerangka Kerja Perencanaan Kurikulum?
Bagaimana Komponen Perencanaan Kurikulum?
Apa saja azas-azas Perencanaan Kurikulum?
MANFAAT
Adapun Manfaat dari makalah ini sebagai berikut:
Mengetahui dan memahami pengertian Perencanaan Kurikulum.
Mengetahui dan memahami Prinsip-prinsip Perencanaan Kuriulum.
Mengetahui dan memhami karakteristik perencanaan kurikulum.
Mengethaui dan memahami Kerangka Kerja Perencanaan Kurikulum.
Mengetahui dan memahami Komponen Perencanaan Kurikulum.
Mengetahui dan memahami Azas-azas Perencanaan Kurikulum.
1.4 TUJUAN
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam makalah ini adalah:
Memberikan pemahaman yang luas bagaimana kurikulum dapat dibentuk.
Memberikan pemahaman kepada pembaca dalam mengelola perencanaan kurikum dengan tepat
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN PERENCANAAN KURIKULUM
Dalam bukunya Oemar Hamalik (2009: 171) pengertian perencanaan kurikulum adalah suatu proses ketika peserta dalam banyak tingkatan membuat keputusan tentang tujuan belajar, cara mencapai tujuan tersebut melalui situasi mengajar belajar, serta penelaahan keefektifan dan kebermaknaan metode tersebut.
Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional (Romanie, 1995: 14)
Sedangkan menurut Beane kurikulum adalalah “a process in which participants at many levels make decicions about what the purposes of learning ought to be, how those purposes might be carried out through teaching-learning situations, and whether the purposes and means are both appropriate and affective”. (Beane, 1996)
Yang artinya Sebuah proses di mana para peserta di berbagai tingkatan membuat keputusan tentang tujuan pembelajaran apa seharusnya, bagaimana tujuan itu dapat dilakukan melalui situasi belajar-mengajar, dan apakah tujuan dan sarana sesuai dan afektif.
PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN KURIKULUM
Perencanaan kurikulum berkenaan dengan pengalaman-pengalaman para siswa.
Perencanaan kurikulum dibuat berdasarkan berbagai keputusan tentang konten dan proses.
Perencanaan kurikulum mengandung keputusan-keputusan tentang berbagaii isu dan topik.
Perencanaan kurikulum melibatkan banyak kelompok.
Perencanaan kurikulum dilaksanakan pada berbagai tingkatan.
Perencanaan kurikulum adalah sebuah proses yang berkelanjutan.
Selain prinsip yang dikemukakan oleh Hamalik (2009, 172) ada prinsip-prinsip lain yang dikemukakan oleh sebuah tokoh yaitu pendapat dari Romanie (Romanie 16) prinsip-prinsipnya sebagai berikut:
Perencanaan yang dibuat harus memberikan kemudahan dan mampu memicu pemilihan dan pengembangan pengalaman belajar yang potensial sesuai dengan hasil (tujuan) yang diharapkan sekolah.
Perencanaan hendaknya dikembangkan oleh guru sebagai pihak yang langsung bekerja sama dengan siswa.
Perencanaan harus memungkinkan para guru menggunakan prinsip-prinsip belajar dalam memilih dan memajukan kegiatan-kegiatan belajar di sekolah.
Perencanaan harus memungkinkan para guru menyesuaikan pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan-kebutuhan pengembangan, kesanggupan, dan taraf kematangan siswa (level of pupils).
Perencanaan harus menggiatkan para guru untuk mempertimbangkan pengalaman belajar sehingga anak-anak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di dalam dan di luar sekolah.
Perencanaan harus merupakan penyelenggaraan suatu pengalaman belajar yang kontinu sehingga kegiatan-kegiatan belajar siswa dari sejak awal sungguh mampu memberikan pengalaman.
Kurikulum harus direncanakan sedemikian rupa sehingga mampu membantu pembentukan karakter, kepribadian, dan perlengkapan pengetahuan dasar siswa yang bernilai demokratis dan yang sesuai dengan karakter kebudayaan bangsa Indonesia.
Perencanaan harus realistis, feasible (dapat dikerjakan), dan acceptable (dapat diterima dengan baik).
KARAKTERISTIK PERENCANAAN KURIKULUM
Dalam perencanaan kurikulu, terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. Aspek-aspek yang menjadi karakteristik perencanaan kurikulum tersebut adalah sebagai berikut menurut Hamalik (2009, 172)
Perencanaan kurikulum harus dibuat dalam kerangka kerja yang komprehensif, yang mempertimbangkan dan mengkoordinasi unsur esensial belajar mengajar efektif.
Perencanaan kurikulum harus bersifat reaktif dan antipasif.
Tujuan-tujuan pendidikan harus meliputi rentang yang luas akan kebutuhan dan minat yang berkenaan dengan individu dan masyrakat.
Rumusan berbagai tujuan pendekatan harus diperjelas dengan ilustrasi konkrit.
Masyarakat luas mempunyai hak dan tanggung jawab untuk mengetahui berbagai hal yang ditujukan bagi anak-anak mereka melalui peerumusan tujuan pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, para pendidiklah yang wajib untuk memberitahukannya.
Dengan keahlian profsional mereka, pendidik berhak dan bertanggung jawab mengidentifikasikan program sekolah yang akan membimbing siswa ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Masyarakat boleh memberikan saran namun keputusan tetap pada pendidik.
Perencanaan kurikulum harus membuat artikulasi program sekolah dan siswa pada setiap jenjang dan tingkatan sekolah. Berkaitan dengan hal ini, kurikulum harus terdiri atas integrasi berbagai pengalaman yang relevan.
Program sekolah harus dirancang untuk mengkoordinasikan semua unsur dalam kurikulum kerangka kerja pendidikan.
Perlunya penelitian tindakan dan evaluasi, untuk menmyediakan revitalisasi rencana dan program kurikulum.
Partisipasi kooperatif harus dilaksanakan dalam kegiatan-kegiatan perencanaan kurikilum, terutama keterlibatan masyarakat dan para siswa dalam perencanaan situasi belajar menngajar yang spesifik.
Dalam perencanaan kuruikulum harus diadakan evaluasi secara kontinu terhadap semua aspek pembuatan keputusan kurikulum, yang juga meliputi analisis terhadap proses dan konten kegiatan kurikulum.
Diserdehakan oleh Romanie (1996, 19)
Sifat Perencanaan Kurikulum
Bersifat strategis Karena merupakan instrumen yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Bersifat komprehensif yang mencakup keeluruhan aspek-aspek kehidupan dan penghiduan masyarakat
Bersifat integrative Yang menintregasikan rencana yang luas, mencakup pengembangan dimensi kualitas dan kuantitas
Bersifat realistic Berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik dan masyarakat
Bersifat humanistic Menitik beratkan pada pengembangan sumberdaya manusia, baik kuantitatif maupun kualitatif
Bersifat Futuralistik Mengacu jauh kedepan dalam merencanakan masyarakat yang maju
Bagian Integral yang mendukung manajemen pendidikan secara sistemik
Mengacu pada Pengembangan Kompetensi
Berdiversifikasi untuk melayani peserta didik
Bersifat Desentralistik
2.4 KARAKTER KERJA PERENCANAAN KURIKULUM
Dalam perencanaan kurikulum, diperlukan adanya kerangka kerja umum, agar perencanaan kurikulum tersebut tersusun secara sistematis dan terorganisasi. Kerangka kerja perencanaan kurikulum dapat diuraikan sebagai berikut:
Fondasi
Pendidikan berdasarkan tiga daerah fondasi yang luas, yaitu filsafat, sosiologi, dan psikologi, yang berhubungan dengan kebutuhan individu maupun masyarakat.
Tujuan (Goals)
Area yang paling luas dari kerangka kerja kurikulum adalah definisi tujuan pendidikan secara menyeluruh.
General Objectives
Tujuan umum menyajikan berbagai tujuan yang mengalihkan kegiatan belajar mengajar sejalan dengan tingkat perkembangan siswa (dari anak-anak sampai dewasa) sehingga program pendidikan pun sejalan dengan tingkat perkembangan siswa tersebut.
Decision Screen
Guru atau pihak perencana kurikulum perlu mempertimbangkan lima daerah yang akan mempengaruhi keputusan (decision) mereka, yaitu:
Karakterteristik siswa yang menggunakan kurikulum terebut
Refleksi prinsip-prinsip belajar
Sumber-sumber umum penunjang
Jenis pendekatan kurikulum
Pengorganisasian pengelolaan disiplin spesifik yang digunakan dalam perencanaan situasi belajar-mengajar
Komponen Perencanaan Kurikulum
Perumusan tujuan belajar atau hasil tujuan yang digunakan
Konten yang terdiri atas fakta, dan konsep yang berhubungan dengan tujuan
Kegiatan yang mungkin digunakan untuk melaksanakan tujuan
Sumber-sumber yang mungkin digunakan untuk mencapai tujuan
Alat pengukuran untuk menentukan derajat pencapaian tujuan.
2.5 KOMPONEN PERENCANAAN KURIKULUM
Tujuan, perumusan tujuan belajar diperlukan untuk meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat, dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan linkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya. Implikasi tujuan adalah sebagai berikut:
Suatu pengertian tentang arah (sasaran) bagi setiap orang yang tertarik dengan proses pendidikan, seperti siswa, guru, administrator, orang tua, pengawas dan sebagainya.
Basis perencanaan kurikulum yang rasional dan logis
Memberikut suatu basis untuk penilaian siswa
Konten, merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan kajian dan mata peajaran. Untuk itu perlu diperhatikan dalam pemilihhan isis kurikulum yaitu:
Signifikansi, yaitu beberapa penting isi kurikulum pada suatu disiplin atau tema studi
Validitas, keakuratan isi kurikulum
Relevensi sosial, keterkaitan kurikulum dengan nilai moral, cita-cita dan masalah sosial lainnya
Utility (daya guna), berkaitan dengan kegunaan isi kurikulum dan mempersiapkan siswa menuju keiupan yang dewasa.
Learnability, kemampuan untuk dipelajari
Minat, berkaitan dengan minat siswa terhadap isi kurikulum tersebut
Aktivitas Belajar, didesain agar memungkinkan siswa memperoleh muatan yang ditentukan.
Expository atau penjelasan rinci, contoh ceramah, demontrasi.
Interaktif
Diskusi kelompok kecil
Inkuiri
Sumber adalah media bagi siswa untuk pembelajaran seperti buku, computer, kaset, TV, dan LCD
Evaluasi, adalah sebuah rangkaian ujian bagi siswa seberapa banyak ia menyerap informasi yang didapat, contonya Test lisan, Test tulis, wawancara dan sebagainya. 10
AZAS-AZAS PERENCANAAN KURIKULUM
Objektivitas, Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik berdasarkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai dengan kebutuhan.
Keterpaduan, Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua disiplin ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal, serta keterpaduan dalam proses penyampaian.
Manfaat, Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan dan keterampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.
Efisiensi dan Efektivitas, Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana, tenaga, dan waktu dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
Kesesuaian, Perencanaan kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik, kemampuan tenaga kependidikan, kemajuan IPTEK, dan perubahan/perkembangan masyarakat.
Keseimbangan, Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis bidang studi, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan program yang akan dilaksanakan.
Kemudahan, Perencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Berkesinambungan. Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan dengan tahapan, jenis, dan jenjang satuan pendidikan.
Pembakuan. Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis satuan pendidikan, sejak dari pusat sampai daerah.
Mutu, Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu, sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kualitas lulusan secara keseluruhan
BAB III
PENUTUP
Simpulan
perencanaan kurikulum adalah suatu proses ketika peserta dalam banyak tingkatan membuat keputusan tentang tujuan belajar, cara mencapai tujuan tersebut melalui situasi mengajar belajar, serta penelaahan keefektifan dan kebermaknaan metode tersebut.
Selain itu Dari uraian di atas yang membahas tentang Perencanaan Kurikulum, dapat disimpulkan bahwa Perencanaan Kurikulum merupakan kerangka yang memberikan acuan kepada pelaksanaan kurikulum itu sendiri. Di dalamnya terdapat pula tujuan, masalah, muatan serta mcam-macam pembelajaran yang dapat di implikasikan kepada siswa
SARAN
Untuk Pembaca, makalah ini memberikan wawasan untuk masalah kurikulum dan bagaimana cara pengimplikasiannya
Untuk guru, diharapkan dapat memberikan pandangan untuk memberikan pembelajaran yang selektif dan efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 2009. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Muzam. 2011. Azas-Azas Perencanaan Kurikulum. https://muzzam.wordpress.com/2011/03/20/asas-asas-kurikulum/diakses pada tanggal 1 Mei 2017
Raya. 2011. Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli. http://raya-worldabout.blogspot.co.id/2011/03/pengertian-kurikulum-menurut-para-ahli.htmldiakses pada tanggal 1 Mei 2017
Total Tayangan Halaman
Senin, 19 Juni 2017
Selasa, 13 Juni 2017
MORFOLOGI
BAB I
1. Tujuan :
1. Mahasiswa
dapat menjelaskan pengertian dan lingkup kajian morfologi.
2. Mahasiswa
dapat menidentifikasi kedudukan morfologi.
3. Mahasiswa
mampu mengontraskan morfologi dengan kajian yang lain.
2. Pokok pembahasan
Dalam
bab ini akan dibahas mengenai:
· Pengertian
morfologi
· Lingkup
Kajian
· Kedudukan
morfologi dalam Linguistik
Secara etimologi morfologi
berasal dari kata morf yang berarti ‘bentuk’ dan kata logi yang
berarti ilmu. Secara harfiah kata morfologi berarti ‘ilmu mengenai bentuk
(Chaer, 2015:3). Hal ini berbeda dengan yang disampaikan oleh Arifin (2009:2) memeberikan
pengertian bahwa morfologi adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna.
Lebih terperinci Ramlan (2016: 32) memberikan pengertian Morfologi adalah
bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk bentuk
kata terhadap golongan dan arti kata.
Dari beberapa
pengertian di atas dapat ditarik sebuah simpulan tentang pengertian morfologi
yaitu ilmu bahasa yang mempelajari bentuk-bentuk dan
pembentukan kata.
·
Lingkup Kajian
Kajian morfologi berada
diantara kajian fonologi dan sintaksis yang mempunyai kaitan baik dengan
fonologi maupun sintaksis. Keterkaitannya dengan fonologi yaitu dengan adanya
kajian yang disebut morfofonemik atau morfonologi yaitu yang mengkaji
terjadinya perubahan fonem akibat adanya proses morfologi. Chaer, 2015:4.
Dalam linguistik
model ini disebut model proses. Di samping model itu, dikenal pula model lain
yaitu model penataan dan model paradigma (lihat Hocket 1959 dan Robins 1960)
untuk menjelaskan ketiga model itu, kita ambil kata pesuruh sebagai
contoh. (Kridalaksana, 2007).
Morfologi dalam
bidang Leksiko grafi adalah kelanjutan kerja dari leksikologi, dalam arti kalau
hasil kerja leksikologi dituliskan, maka proses kerja penulisan itu adalah
disebut leksikografi ; dan hasilnya adalah sebuah kamus. Jelas, dalam proses
penyusunan kamus bidang morfoloogi ini memegang peranann pentn. Sebagian besar
proses penyusunan kamus: mengurusi: masalah bentuk dan pembentukan kata: dan
sebagian lagi adalah berkenaan dengan kerja penyusunan definisi, atau penjelasan
mengenai makna kata (Chaer, 2015: 6).
Morfologi dalam
etimologi morfologi membicarakan proses pembentukan kata yang berlaku secara
umum sebagai suatu sistem berkaidah. Sedangkan etimologi membicarakan
pembentukan atau terbentuknya kata atau asal usul yang tidak berkaidah,
misalnya, kata sinonimi berasal dari bahasa yunani syn yang artinya
‘dengan’ dan kata bahasa yunani Onoma yang berarti ‘nama’. Contoh lain kata sekaten
(dalam bahasa jawa) berasal dari kata bahasa arab Syahadatain (yaitu
ucapan dua kalimat syahadat ) (Chaer, 2015:6-7).
BAB II
3. Tujuan:
1.
Mahasiswa dapat membedakan
bentuk tunggal dan bentuk kompleks.
2.
Mahasiswa dapat
mencontohkan bentuk bebas dan bentuk ikat, bentukasal dan bentuk dasar.
3.
Mahasiswa dapat mendiskusikan morfem, morf,
dan alomorf.
4. Pokok Pembahasan
Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·
Pengertian satuan
gramatik
·
Bentuk tunggal
dan bentuk kompleks
·
Satuan gramatik
bebas dan satuan gramatik tertikat
·
Gramatik asal
dan bentuk dasar
·
Morgem, morf,
alomorf, dan kata
Ramlan (2012: 27) berpendapat bahwa gramatikal
adalah satuan-satuan yang mengandung makna baik makna leksikal maupun mkana
gramatikal.
·
Bentuk Tunggal
Dan Bentuk Kompleks Menurut Ramlan (2012: 28)
Bentuk tunggal adalah satuan gramatik yang tidak
terdiri dari satuan yang lebih kecil. Sedangkan bentuk kompleks adalah satuan
yang terdiri dari satu satuan yang lebih kecil lagi.
Menurut Yasin
(1988: 31)
Bentuk tunggal adalah kata tunggal terdiri atas satu
morfem, sedangkan bentuk kompleks terdiri atas dua morfem atau lebih.
Contoh Bentuk Tunggal Contoh
Bentuk Kompleks
Makan Makanan
Minum Minuman
Tidur Bertiduran
Duduk Kedudukan
Sepeda Bersepeda
·
Satuan Gramatik
Bebas Dan Satuan Gramatik Terikat
Menurut Kridalaksana (2007: 11)
berpendapat bahwa gramatikal bebas yaitu satuan gramatik yang memiliki potensi
untuuk berdiri sendiri secara sintaksis bisa langsung menjadi kata. Sedangkan gramatkal
terikat yaitu satuan yang merupakan peralihan diantara morfem bebas dan terikat
hal itu diuraikan secara tersendiri.
·
Jenis Morfem BI Dan
Distribusinya
Dalam
bukunya “Tata Bentuk Bahasa Indonesia”
Masnur Muslich (2010: 11-20) , mengatakan
jenis morfem BI dan distribusinya adalah sebagai berikut.
a. Jenis
morfem berdasarkan kemampuan berdistribusinya
1)
Bentuk bebas
Bentuk-bentuk yang
dapat dipakai secara tersendiri dalam kalimat atau tuturan biasa disebut bentuk
bebas atau free form atau free morpheme. Contoh bentuk bebas adalah makan,
minum, kuliah, pergi, jalan, dan lain-lain.
2)
Bentuk terikat
Bentuk yang tidak dapat
berdiri sendiri, baik dalam kedudukannya sebagai kalimat maupun kata yang menjadi
unsur pembentuk kalimat disebut bentuk terikat (bound form atau bound
morpheme). Contoh bentuk terikat adalah terbangun, janjian, terjatuh, dan
lain-lain.
3)
Bentuk semibebas
Bentuk yang masih
mempunyai kebebasan disebut bentuk semibebas (semi-free form atau semi-free
morpheme). Contoh bentuk semibebas adalah dari, ke, juga, dan lain-lain.
b. Jenis
morfem berdasarkan produktifitasnya
1.
Afiks produktif
Morfem afiks yang
terus-menerus mampu membentuk kata baru disebut afiks produktif (productive
affix). Contoh : morfem afiks (per-an) yang dapat membentuk kata-kata
sebanyak-banyaknya : perjalanan, pergaulan, perkelahian, perkebunan,
perekonomian, persaudaraan, dan lain sebagainya.
2.
Afiks tak produktif
Morfem yang sudah tidak
mampu lagi membentuk kata-kata baru disebut afiks tak produktif (anproductive
affix). Contoh : morfem ke-, -em-, -el-, dan –er-.
c. Jenis
morfem berdasarkan relasi antar unsurnya
1.
Morfem utuh
Morfem yang deretan
fonemnya tidak terpisah disebut morfem utuh. Contoh morfem utuh adalah pohon,
rumah, buku, mata, telinga, kaki, dan sebagainya.
2.
Morfem terbelah
Morfem yang terpisah
dalam deretan pemakaiannya disebut morfem terbelah. Contoh morfem terbelah
adalah ke-tuhan-an, ke-manusia-an, ke-rajin-an, di-kerja-kan, di-paksa-kan,
di-timbang, per-kuliah-an, dan sebagainya.
d. Jenis
morfem berdasarkan sumbernya
1.
Morfem yang berasal
dari bahasa indonesia asli
Morfem-morfem afiks
yang berasal dari bahasa indonesia asli disebut morfem yang berasal dari bahsa
indonesia asli. Morfem afiks yang di maksud adalah prefiks (men N-, ber-, peN-,
dan sebagainya, infiks (-el-, -em-, -er-), sufiks (-an, -kan, -i), konfiks
(pe-an, ke-an, per-an, dan sebagainya).
2.
Morfem yang berasal
dari bahasa daerah yang berada di wilayah indonesia
3.
Morfem yang berasal
dari bahasa asing.
e. Jenis
morfem berdasarkan jumlah fonem yang menjadi unsurnya
1.
Monofonemis
Morfem yang berunsur
satu fonem disebut monofenemis.morfem
bermakna yang maknanya bisa diperiksa dalam kamus disebut morfem leksikal
adalah hujan, durian, matahari, langit, awan.
2.
Morfem gramatikal
Morfem yang maknanya
baru diketahui bila sudah berada dalam kontruksi yang lebih besar , atau
dikatakan telah melekat pada bentuk-bentuk dasar , bentuk dari kelompok
pertama disebut morfem
gramatikal.
·
Menurut
Arifin (2009: 2) Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna.
Sedangkan menurut Chaer (2015: 15) Morfem merupakan barang abstrak karena ada
dalam konsep. Dalam bukunya Chaer (2015: 16) berpendapat tentang Morf yang berarti
bentuk yang belum dikethui statusnya, apakah sebagai morfem atau sebagai
alomorf. Jadi sebenarnya wujud fisik morf adalah sama dengan wujud fisik
alomorf. Arifin (2009: 3) juga memberikan pendapat bahwa Alomorf adalah anggota
satu morfem yang wujudnya berbeda tetapi mempunyai fungsi dan makna yang sama.
Selain itu Chaer (2015: 15) berpendapat lain bahwa Alomorf merupakan barang
yang konkret yang ada dalam pertuturan.
BAB III
5. Tujuan:
1. Mahasiswa
dapat menjelaskan pengertian proses morfologis.
2. Mahasiswa
dapat mengidentifikasi ciri kata yang mengalami prosoes morfologi.
3. Mahasiswa
dapat menjelaskan macam-macam proses morfologis.
4. Mahasiswa
dapat menjelaskan pembentukan kata di luar proses morfologis.
6. Pokok pembahasan:
Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·
Pengertian proses
morfologis
·
Ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis
·
Macam-macam proses
morfologis
·
Pembentukan kata di
luar proses morfologis
Yasin (1998: 48)
Proses morfologi ialah suatu pereistiwa
(cara) pembentukan kata-kata denganmenghubungkanmorfem yang satuan
morfem yang lain.
·
Ciri Suatu Kata Yang
Mengalami Proses Morfologis
Chaer (2015: 3) memberikan pendapat
mengenai ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis yaitu dengan berbagai
proses pembentukan kata seperti afiks melalui proses afiksasi, duplikasi, atau
pengulangan melalui proses reduplikasi, penggabungan melalui proses komposisi
dan lain sebagainya. Jadi akhir dari proses morfologis adalah terbentuknya kata
dalam bentuk dan makna sesuai dengan keperluan dalam suatu tindak pertuturan.
·
Macam-Macam Proses
Morfologis
Menurut Kridalaksana, Harimurti (2007:12)
1.
Derefasi zero
2.
Afiksasi
3.
Reduplikasi
4.
Abreviasi
(pemendekan)
5.
Komposisi
(perpaduan)
6.
Derivasibalik
MenurutArifin, Zaenal. (2007: 9)
a.
Derifasi zero
b.
Afiksasi
c.
Reduplikasi
d.
Komposisi
e.
Abreviasi
f.
Derivasibalik
g.
Metanalisiss
h.
Analogi
i.
kombinasi proses
Menurut Yasin, Sulchan (1988:50)
1.
afiksasi
2.
reduplikasi
3.
pemajemukan
Menurut Chaer, Abdul (2015:25)
Proses morfologi melibat kankomponen 1) Bentukdasar 2) alatpembentuk (afiksasi,
reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dankonversi) 3) maknagramatikal, dan 4)
hasil proses pembentukan.
7. Tujuan:
1. Mahasiswa dapat
menyebutkan macam-macam afiks dan afiksasi.
2. Mahasiswa dapat
mengidentifikasi kaidah morfofonemis.
3. Mahasiswa
dapat menjelaskan morfem afiks.
8. Pokok Pembahasan:
Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·
Pengertian afiks dan
afiksasi
·
Perubahan fonem akibat
afiksasi
·
Arti morfem afiks
·
Fungsi morfm afiks
Arifin (2009: 10)
berpendapat tentang pengertian afiksasi bahwa afiksasi
atau pengimbuhan adalah
proses morfologis yang mengubah sebuah leksem
menjadi kata setelah mendapat afiks, yang dalam bahasa kita cukup banyak jumlahnya.
Menurut Parera (2007:
18) proses afiksasi adalah
suatu proses yang paling umum
dalam bahasa, proses afiksasi tersebut terjadi
apabila sebuah morfem terikat
dibubuhkan pada sebuah morfem
bebas secara urutan
lurus. Namun menurut Kridalaksana (2007:
28) pengertian afiksasi adalah proses yang mengubah
leksem menjadi kata kompleks. Sedangkan menurut pendapat Alwi (2010: 31) afiks
atau imbuhan adalah bentuk
(morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan
kata.
·
Perubahan Fonem Akibat
Afiksasi
Menurut Chaer (2015: 46) Morfofonemik dalam pembentukan kata bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi. Dalam proses reduplikasi
dan komposisi hamper
tidak ada. Dalam proses afiksasi pun terutama, hanya
dalam prefiksasi ber-,
prefiksasi me-, prefiksasi pe-, prefiksasi per-, konfiksasi pe-an, dan sufiksasi –an.
·
Arti Morfem Afiks menurut Chaer (2015: 23) yaitu morfem yang bukan menjadi dasar dalam pembentukan
kata, tapi menjadi
unsur pembentuk dalam
proses afiksasi.
·
Fungsi Morfem Afiks
Dalam buku Chaer (2015:
23) fungsi morfem afiks sendiri yaitu menjadi unsur pembentuk dalam proses
afiksasi.
BAB V
9. Tujuan :
1. Mahasiswa
dapat mengidentifikasi ciri-ciri bentuk dasar kata ulang.
2. Mahasiswa
dapat mendeskripsikan jenis-jenis pengulangan dalam BI.
3. Mahasiswa
dapat menjelaskan morfem ulang.
4. Mahasiswa
dapat menjelaskan fungsi morfem ulang
10. Pokok Pembahasan :
Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·
Pengertian kata ulang (Reduplikasi)
·
Ciri bentuk dasar kata
ulang
·
Jenis pengulangan
·
Arti morfem ulang
·
Fungsi morfem ulang
Reduplikasi atau pengulangan adalah proses morfologis
yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mengalami proses morfologis
(Arifin, 2009:11). Sedangkan
Chaer (2015:178) memberikan pengertian bahwa reduplikasi atau pengulangan
bentuk satuan kebahasaan merupakan gejala yang terdapat dalam banyak bahasa di
dunia ini. Selain itu Yasin, Sulchan (1988: 129) berpendapat bahwa reduplikasi
ialah pengulangan bentuk atas suatu bentuk dasar.
Dari
beberapa pengertian di atas dapat ditarik sebuah simpulan tentang pengertian reduplikasi adalah suatu pengulangan bentuk dasar
karena mengalami proses morfologis.
·
Ciri
Bentuk Dasar Kata Ulang
Menurut
Kridalaksana (2007: 90) ciri bentuk dasar kata ulang yang bersifat non
idiomatis dan bersifat idiomatis, reduplikasi non idiomatis itu menyangkut
reduplikasi yang maknanya leksikal dari bentuk dasarnya tidak berubah,
sedangkan reduplikasi idiomatis itu pengulangan kata yang maknanya tidak sama
dengan makna leksikal komponen - komponennya.
·
Jenis pengulangan:
Menurut Yasin, Sulchan (1988: 132)
1. Pengulangan seluruh bentuk dasar tanpa variasi fonem
dan afiksasi
2. Pengulangan sebagian yang terdiri atas bentuk kompleks
dan bentuk tunggal.
3. Pengulangan dengan berimbuhan / afiksasi
Menurut Arifin, Zaenal (2009: 11)
1. Dwipurwa (pengulangan suku awal)
2. Dwilingga (pengulangan penuh)
3. Dwilingga salin suara (pengulangan penuh yang berubah
bunyi)
4. Dwiwasana (pengulangan suku akhir)
Menurut Kridalaksana, Harimurti (2007: 88) dalam bukunya sependapat dengan yang ada dalam buku
Arifin, Zaenal (2009: 11). Namun dalam bukunya, Kridalaksana menulis 3 jenis
reduplikasi atau pengulangan lebih lengkap, yakni:
1. Reduplikasi fonologis
2. Reduplikasi morfemis
3. Reduplikasi sintaksis
4. Repduplikasi Semantik
5. Repduplikasi morfologis
·
Arti Morfem Ulang
Morfem ulang bahasa indonesia dapat
membentuk kata dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja, benda, dan sifat.
Disamping itu mirfem ini ada juga yang berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam
bentuk suatu kata misal, dengan ke an dal kekuning-kuningan.
·
Fungsi Morfem Ulang
1)
Morfem ulang
sebagai pembentuk kata benda
Bentuk yang akan
dibendakan bisa disebut mengalami proses nominasi lazimnya berkelas kata kerja,
terutama kata kerja yang sudah berafiks. Tetapi tidak sembarang kata kerja
berafiks yang di ulang mampu mengubah kelas kata kerja kekata benda.
2)
Morfem ulang sebagai
pembentuk kata tugas\ sarana
Dalam tuturan anaknya
cantik-cantik. Dan gurunya galak- galak, cantik-cantik dan galak-galak tetap
berkelas kata sifat seperti bentuk dasarnya,yaitu cantik dan galak.
BAB VI
11. Tujuan:
1.
Mahasiswa
mengidentifikasi ciri-ciri kata yang mengalami proses pemajemukan.
2.
Mahasiswa dapat menjelaskan kontruksi kata majemuk.
12. Pokok Pembahasan:
Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·
Pengertian pemajemukan
·
Ciri kata yang
mengalami pemajemukan
·
Arti morfem konstruksi
majemuk
·
Fungsi Morfem
Kridalaksana (2007: 104) memberikan
pendapat tentang pengertian pemajemukan suatu proses penggabungan
dua leksem atau
lebih yang membentuk kata. Hal berbeda
disampaikan oleh Arifin (2009: 12) adalah proses morfologis yang mengubah
gabungan leksem menjadi satu kata,
yakni kata majemuk. Sedangkan menurut Ramlan (2012: 77) pemajemukan adalah kata
yang terjadi dari dua kata sebagai unsur.
Dari
beberapa pengertian di atas dapat ditarik sebuah simpulan tentang pengertian pemajemukan
adalah proses penggabungan
dua leksem atau lebih menjadi satu kata.
·
Ciri kata yang
mengalami pemajemukan menurut Yasin (1988: 152):
a.
Kedua unsurnya
menunjuk / membentuk / menimbulkan pengertian baru. Contoh:
Kapal
terbang: pesawat yang dapat terbang. Satu benda satu pengertian.
b.
Hubungan antara
kedua unsurnya sangat erat dan rapat sehingga tidak dapat dipertukarkan atau
dibolak-balik. Contoh:
|
Bentuk Majemuk
|
Tidak Dapat Dijadikan
|
|
Panjang tangan
Mata sapi
|
Tangan panjang
Sapi mata
|
c.
Hubungan kedua
unsur sangat rapat dan erat sehingga diantara keduanya tidak dapat disisipi
unsur lain. Contoh:
Mata
sapi sebagai Bentuk Majemuk berbeda pengertiannya dengan matanya sapi, mata dan
sapi, mata dari
sapi an lain sebagainya.
d.
Hubungan antara
kedua unsur sangat rapat dan erat sehingga jika diberi afiks harus kena pada
seluruh kata dan tidak boleh disisipkan diantara kedua unsurnya. Contoh:
Mata
sapi --- mata sapinya bukan matanya sapi.
·
Arti Morfem
Kontruksi Majemuk
Dalam
buku Mulsich (2010: 91-93) dapat diambil simpulan bahwa Morfem ini apabila
bergandeng dengan morfem lain dapat membentuk-bentuk majemuk. Morfem yang bergandeng dengan morfem
unik ada dua jenis, yaitu berjenis kata kerja dan berjenis kata sifat. Jenis
morfem yang diikuti morfem unik ini akan berpengaruh dalam penentuan arti
morfem unik itu sendiri.oleh sebab itulah, penentuan arti morfem unik tidak
dapat terlepas dari jenis morfem yang diikutinya.
·
Fungsi Morfem Kontruksi
Majemuk
Menurut
Muslich (2010: 99) bisa disimpulkan bahwa morfem dalam kontruksinya majemuk
bisa berubah kelas katanya. Perubahan
itu diakibatkan oleh penggabungan unsur-unsurnya. kelas kata bentuk
majemuk, disamping bisa sama persis
dengan kedua unsurnya, bisa pula sama dengan salah satu unsurnya, bahkan
berbeda sama sekali dari unsur-unsurnya.
BAB VII
13. Tujuan:
1. Mahasiswa
dapat menjelaskan perubahan bentuk dalam bahasa indonesia.
2. Mahasiswa
dapat mencontohkan perubahan bentuk BI.
3. Mahasiswa
dpat menjelaskan makna perubahan bentuk kata dalam BI.
14. Pokok Pembahasan:
Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·
Perubahan bentuk kata
dalam Bahasa Indonesia.
Dalam morfologi Bahasa
Indonesia terdapat bentuk-bentuk yang secara historis tidak berasal dari bahasa
melayu awal.
Hal ini dikemukakan oleh Muslich
(2010: 110-123):
1.
Versi
Keraf
Gorys
Keraf (1970) dalam buku Masnur Muslih ada seorang Ahli yang menjeniskan kriteria
baru dalam pembentukan kata. Berdasarkan kiteria tersebut, kata bahasa
Indonesia dapat digolongkan menjadi empat jenis sebagai berikut.
a. Kata
benda (Nomina)
Kata benda adalah segala macam kata
yang dapat diterangkan atau diperluas dengan “yang+kata sifat”. Misalnya:
·
Matahari yang terang
b. Kata
Kerja (Verba)
Kata kerja adalah segala macam kata
yang dapat diperluas dengan kelompok kata “dengan + kata sifat.” Misalnya:
·
Berlari dengan cepat
c. Kata
Sifat (Ajektival)
Kata SIfat adalah segala macam kata
yang dapat mengambil bentuk “se + reduplikasi + nya,” serta dapat diperluas
dengan: paling, lebih, sekali. Misalnya:
·
Se-pintar-pintar-nya paling pintar
d. Kata
Tugas
Kata tugas adalah segala macam kata
yang tidak termasuk salah satu jenis kata, atau menjadi subgolongan jenis-jenis
kata yang ada di atas. Kata tugas tidak bisa menduduki fungsi-fungsi pokok
dalam sebuah kalimat. Contoh kata tugas: di,ke, dari, dan, tetapi, supaya,
lagi, sudah, tidak, sebelum, tentang, dengan, akan, oleh, terhadap, bagi.
2.
Versi
Ramlan
Selain Versi Keraf yang
tertulis dalam bukunya, Ramlan juga mengemukakan tulisannya. Ramlan telah
mengemukakan bahwa penggolongan kata dalam tatabahasa structural tidak
ditentukan berdasarkan arti, melainkan secara gramatikal, berdasarkan sifat
atau perilakunya dalam membentuk satu golongan kata. Dalam bukunya, Ramlan
menggolongakan kata dalam bahasa Indonesia dapat digolongkan menjadi tiga kata
sebagai berikut.
a. Kata
Nominal
Kata nominal adalah semua kata yang
dapat menduduki tempat objek dan yang dinegatifkan denan kata bukan. Golongan
ini dapat dibedakan atas tiga golongan, ialah:
b. Kata
Adjektif
Kata
adjektif adalah semua kata yang tidak dapat menduduki tempat objek, dan
dinegatifkan dengan kata tidak. Misalnya :
Ia
bukan dokter, melainkan sopir.
Kata
adjektif dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu
1)
Kata sifat, yang dapat
didahului oleh kata amat, sangat, dan lebih.
2)
Kata kerja ajectival yang dapat didahului oleh kata boleh.
c.
Kata Partikel
Kata partikel
ialah semua kata yang tidak termasuk golongan kata nominal dan ajektival kata
pertikel ini dapat dibagi menjadi:
1)
Kata penjelas,
kata yang di dalam frasa selalu berfungsi sebagai atribut dalam kontruksi
indosentrik yang atributif; misalnya: semua, paling, suatu, lebih, boleh,
harus, sedang;
2)
Kata keterangan,
kata yang selain berfungsi sebagai keterangan bagi klausa; misalnya: dahulu,
lusa, kemarin, sekarang;
3)
Kata penanda,
kata yang menjadi director dalam kontruksi eksosentris yang direktif; misalnya:
di, dari, ke, karena;
4)
Kata perangkat,
kata yan berfungsi sebgai koordinator dalam kontruksi indosentris yang
koordinatif; misalnya; dan, atau, tetapi;
5)
Kata Tanya, kata
yang berfungsi membentuk kalimat Tanya; misalnya: bagaimana, dimana, apa,
siapa, (5W+1H)
6)
Kata seru, kata yang tidak mempunyai sifat
sebagai partikel yang lain; nih.
Berasarkan penunjuk satuan yang dipakai, dapat
digolongkan menjadi:
1)
Kata benda
manusiawi, yaitu kta benda yang mempergunakan kata orang sebagai penunjuk
satuan.
2)
Kata benda
hewani, yaitu kata benda yang mempergunakan kata ekor sebagai satuan.
3)
Kata benda
lainnya, yaitu kata benda yang tidak mempergunakan kata orang dan ekor sebagai
penunjuk satuan.
Versi lain yang telah dijelaskan dia atas ada versi
seorag ahli yang tertulis di buku Masnur Muslich yaitu versi Samsuri.
3.
Versi Samsuri
Samsuri mengelompokan
kata dalam lima golongan, yaitu:
a)
Nomina, secara
morfologis, nomina dibedakan menjadi dua golongan
1)
Nomina dasar,
sederhana dan rumit. Contoh nomina dasar sederhana, misalnya, buku. Contoh
nomina dasar rumit, misalnya, cecunguk.
2)
Nomina turunan,
yaitu bentuk yang mengantung morfem.
b)
Verba
1)
Verba dasar
2)
Verba turunan
c)
Ajectiva
1)
Ajectiva dasar
2)
Ajectiva turunan
d)
Numeralia
1)
Ajectiva dasar
2)
Ajectiva turunan
e)
Kata sarana
1)
Kata sarana
frase
2)
Kata sarana
tranformasi tunggal
3)
Kata sarana
tranformasi lajutan
4)
Kata sarana
transformasi umum
4. Tata bahasa baku Bahasa Indonesia
“Rombongan” Linguis Bahasa Indonesia
a.
Verba
Verba
bercirikan:
1)
Berfungsi
ssebagai (inti) Predikat
2)
Bermakna Dasar
3)
Verba yang
bermakna keadaan tidak bisa di prefiksi.
Dilihat dari
bentuknya verba dibedakan atas 1 asal, 2 turunan.
b.
Nomina
Dari segi
semantic, Nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang,benda, atau
konsep. Dari segi sintaksis ia bercirikan:
1)
Sebagai fungtor
subject,
2)
Takbisa dibentuk
ingkarkan dengan tidak, melainkan bukan
3)
Secara langsung
atau tidak, lazimnnya bisa di ikuti ejektiva dengan perantara yang.
Dilihat dari
segi morfologisnnya, dikenal
1)
nomina kata
dasar
2)
nomina yang
diturunkan dari kata lain.
c.
Pronominal
Pronominal
adalah kata yang di pakai untuk mengacu nomina.
1)
Pronominal
persona (aku, anda, mereka)
2)
Pronominal
penunjuk (ini, begini, demikian)
3)
Pronominal
penannya (apa, dari mana)
d.
Numeralia
Numeralia adalah
kata yang dipakai untuk menghitung banyaknnya maujud dan konsep. Numeralia
dibedakan menjadi tiga.
1)
Pokok
2)
Tingkat
3)
Pecahan
e.
Ejektiva
Kata yang
dipakai untuk menyatakan sifat/keadaan orang, benda, binatang, disebut kata
sifat atau kata keadaan atau ejektiva. Ciri-cirnya
1)
Bisa diberi
keterangan pembanding.
2)
Dapat diber
keterangan penguat
3)
Dapat di ingkari
dengan tidak
4)
Dapat diulang
dengan
5)
Pada kata
tertentu berakhir dengan –er,-i,-if.
Ada dua adjectiva, yang pertama (1) monomorfemis,
(2) polimorfemis
f.
Adverbial
Adverbial adalah
kata yang memberi keterangan pada verba, adejctiva, nomina predikatif, atau
kalimat yang sebut adverbial itu. Ada dua adverbial:
1)
Monomorfemis
2) Polimorfemis
g. Kata Tugas
Kata
ini hanaya memiliki makana gramatikal. Disampig itu, hampir semua kata tugas
tidak bisa mengalami perubahan bentuk. Ada lima kelompok dalam kata tugas:
1) Preposisi
2) Konjungsi
3) Interjeksi
4) Artikel
5)
Partikel
BAB VIII
15. Tujuan:
1. Mahasiswa
dapat mendiskusikan problem pembentukan kata BI.
16. Pokok Pembahasan
Dalam bab ini akan dibahas mengenai:
·
Problematika
pembentukan kata dalam Bahasa
Indonesia.
Ada tujuh problematika pembentukan kata dalam Bahasa
Indonesia yang dikemukakan oleh Muslich (2010:
131-139):
1.
Problematika
akibat bentukan baru
2.
Problema akibat
kontaminasi
3.
Problema akibat
adanya unsur serapan
4.
Problema akibat
analogi
5.
Problema akibat
perlakuan kluster
6.
Problema akibat
proses morfologis bentuk serapan
7.
Problema akibat
perlakuan bentuk majemuk
Setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, walaupun
dikatakan mempunyai sistem, dalam pemakaiannya selalu timbul masalah-masalah,
baik masalah yang berhubungan dengan bunyi, bentukan kata, penulisan, maupun
pemakaian kalimat.
Pemakaian
kata dalam bahasa Indonesia juga menimbulkan problema-problema. Setelah
dikelompokan, paling tidak ada tujuh problema, yaitu:
1. Problema akibat pembentukan baru, banyak sekali
bentukan baru sebagai kreasi pemakai bahsa Indonesia. Missal bentuk
memberhentikan, keberhasilan, keterbelakangan. Bentuk ini tergolong bentuk baru
sebab bentuk berkontruksi demikian (prefiks+ prefiks+bentuk dasar+sufiks).
2. Pobrelamatika akibat kontaminasi. Kontaminasi
merupakan gejala bahasa yang mengacaukan kontruksi kebahasaan. Dua kontruksi,
yang mestinya harus berdiri sendiri secara terpisah, dipadukan menjaddi satu
kontruksi. Akibatnya, kontruksi itu menjadi kacau atau rancu artinya.
Kontaminasi dalam kontruksi kata, misalnya *diperlebarkan, *mengeyampingkan,
*dipelajarkan.
3. Pobrelamatika akibat unsur serapan, adanya unsur
bahasa asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia juga membuat problema
tersendiri. Hal itu terlihat pada kekecauan dan keraguan –raguan pemakaian
bentuk data-data, datum- datum, data, datum; fakta-fakta, faktum-faktum, fakta,
faktum;
4. Pboblema akibat analogi: adalah bentuk bahasa denan
menurut contoh yang sudah ada. Gejala analogi ini sangat penting dalam
pemakaian bahasa sebab pada dasarnya pemakaian bahasa dalam penyunyusunan
kalimat, frase, dan kata beranologi pada contoh yang telah ada atau yang telah
diketahuinya. Sebagai contoh, dengan adanya bentuk ketidak adilan, kita dapat
membentuk konstruksi ketidak beresan, ketidak baikan, dan seterusnya;
5. Problema akibat perlakuan kluster; kluster atau
konsonan rangkap mengundang problema tersendiri dalam pembentukan kata bahasa
indonesiIndonesia disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal
kluster. Kata yang berkluster (yang dipakai dalam bahasa Indonesia) itu bersaal
dari unsur serapan, misalnya program, prklamasi, traktir, transfer;
6. Problematika Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan,
hampir semua bentuk serapan dalam bahasa
Indonesia dapat dibentuk dengan penambahan afiks atau pengulangan. Yang menjadi
pertanyaan adalah “ Apakahh semua bentuk serapan mengikuti sistem pembentukan
kata yang selama ini diterapkan dalam bentuk-bentuk bahasa Indonesia asli?”
Bentuk serapan, kelompok pertama dapat diperlakukan
secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia, termasuk proses morfologisnya,
sedangkan kelompok kedua belum dapat diperlakukan secara penuh mengikuti sistem
bahasa Indonesia.
7. Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk, problema
morfologis terakhir yang berhasil di catat di sini adalah problema akibat
perlakuan bentuk majemuk. Pobrelama itu terlihat pada persaingan pemakaian
bentuk pertanggng jawaban dan pertanggungan jawab, kewarganegaraan dan
kewargaan Negara, menyebarluaskan dan mnyebarakn luas. Dari contoh itu terlihat
dua perlakuan bentuk majemuk, yaitu bentuk
majemuk yang unsur-unsurnya dianggap sebgai satu kesatuan, dan bentuk majemuk
yang unsur-unsurnya dianggap renggang.
Daftar Pustaka
Ramlan, M. 2012. Morfologi Suatu Tinjaun Deskriptif. Yogyakarta:
C.V. Karyono.
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah
Tata Bahasa Deskriptif. Malang: YA3.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: P.T. Gramedia.
Yasin, Sulchan. 1988. Tinjauan Deskriptif Seputar Morfologi. Surabaya:
Usaha Nasional.
Chair, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan
Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin, Zainal. 2009. Morfologi Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta:
P.T. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Parera, Jos Daniel. 2007. Morfologi Bahasa. Jakarta: P.T. Gramedia
Pustaka Utama.
Langganan:
Komentar (Atom)
MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
TEBAK KATA MATERI: Struktur Anekdot LANGKAH-LANGKAH Guru mempersiapkan media yang sudah lengkap dengan huruf-huruf. ...
-
BAB 1 PENDAHULUAN A. STATISTIK DAN STATISTIK PENDIDIKAN 1. STATISTIK Statistik adalah kumpulan bahan keterangan yang berw...
-
TEBAK KATA MATERI: Struktur Anekdot LANGKAH-LANGKAH Guru mempersiapkan media yang sudah lengkap dengan huruf-huruf. ...
-
A. Pengertian Wacana Wacana dalam bahasa inggris disebut discourse. Secara bahasa, wacana berasal dari bahasa Sansekerta “wac/wak/vak...