STRUKTUR PERCAKAPAN PADA KOMEDI
OPERA VAN JAVA PERIODE FEBRUARI 2013
ABSTRAK
DUWI RAHMAWATI
09344110
Duwi
Rahmawati, 2013 “Struktur Percakapan Pada Komedi Opera Van Java Episode
Februari 2013”, Skripsi, Program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP PGRI
Bangkalan, Pembimbing I : Dra. Sri Rukmiyati Ningsih M.Pd, Pembimbing II :
Sunar Dwigjdo Wahono S.Pd, M.Pd.,
Percakapan
adalah bentuk kegiatan yang paling mendasar yang dilakukan oleh manusia untuk
menjalin hubungan antara satu dengan yang lain. Dari sekian banyak bentuk
percakapan yang terjadi, sering dijumpai ketidakteraturan ujaran atau struktur
percakapan. Sama halnya pada serial komedi opera van java. Perlu diperhatikan
bahwa untuk memperlancar komunikasi, tuturan bahasa yang digunakan harus
menggunakan bahasa yang baik supaya apa yang disampaikan dapat direspon sesuai
dengan yang dibutuhkan. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah
bagaimana struktur percakapan jika dilihat dari segi jeda, bagaimana struktur
percakapan jika dilihat dari segi overlaps,
dan bagaimana struktur percakapan jika dilihat dari segi backchannel.
Pendekatan yang penulis lakukan
adalah pendekatan pragmatic. Teori – teori yang dipakai dalam menganalisis struktur
pecakapan adalah analisis percakapan, struktur percakapan yang meliputi ;
giliran bicara, pertukaran giliran, jeda, overlaps,
dan backchannel. Penelitian ini
adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data penelitian ini adalah
teknik simak dan catat yang dilakukan untuk mengambil percakapan. Sumber data
yaitu, para pemain wayang yang terdiri atas : Sule, Andre, Nunung, Desta, Aziz,
dan Parto. Data dalam penelitian ini adalah struktur percakapan wacana lisan
yang terdapat dalam serial komedi opera van java di trans 7.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa terdapat ujaran yang mengandung struktur percakapan yang dilakukan subjek
penelitan yang berupa jeda, overlaps,
dan backchannel. Dapat disimpulkan
bahwa keteraturan atau susunan percakapan pada serial komedi opera van java
akan membantu kelancaran proses komunikasi.
Kata Kunci :
struktur percakapan, opera van java, jeda, overlaps,
dan backchannel.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Opera Van Java adalah sebuah acara
komedi/humor di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, Trans 7. Ide
acara ini adalah seperti pertunjukan wayang orang pada kebudayaan Jawa. Para
wayang itu diperankan oleh beberapa pelawak terkenal, seperti Nunung Srimulat,
Aziz Gagap, Andre, Desta dan Sule. Selain wayang, juga terdapat dalang yang
diperankan oleh Parto Patrio serta para pemain gamelan dan sinden. Uniknya,
hanya dalang yang mengetahui jalan ceritanya. Bintang tamu pun sering
ditampilkan pada tiap episodenya.
Sama halnya dengan wayang
kulit/boneka, dalang berperan sebagai pengatur cerita dan ia berhak untuk
memberikan petunjuk, adegan apa yang harus dilakukan oleh para wayang
diperankan oleh para selebriti (pelawak, penyanyi, artis sinetron).
Sebagian besar percakapan pada Opera
van Java melibatkan 2 wayang atau lebih dalam pengambilan giliran berbicara,
dan hanya satu orang wayang yang
berbicara pada saat percakapan berlangsung. Pergantian yang halus dari wayang
yang lain masih dapat di hargai. Namun, adakalanya saat para wayang berusaha
untuk bercakap – cakap secara bersamaan dan tidak menemukan adanya alur atau
ritme yang lembut pada pergantiannya, sehingga percakapan antar wayang
terganggu. Perlu diperhatikan bahwa untuk memperlancar jalannya komunikasi
antar wayang, harus memperhatikan struktur percakapan.
Menurut Suhartono (dalam Riskiyah, 2012:8) menyatakan
bahwa percakapan memiliki struktur khas berupa rangkain otomatis yang
berpasangan. Salah satu struktur percakapan yakni jeda, overlaps, dan backchannel
yang menjadi dasar terbentuknya dan terpenuhinya kegiatan percakapan serta
pengambilan giliran atau penukaran giliran berbicara. Namun dalam Opera Van
Java, adanya struktur percakapan yang di dalamnya menyangkut jeda, overlaps, dan backchannel sering tidak diperhatikan.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
struktur percakapan jika dilihat dari segi jeda semua tokoh dalam serial komedi
Opera Van Java di Trans 7 periode Februari 2013?
2. Bagaimana
struktur percakapan jika dilihat dari segi overlaps
semua tokoh dalam serial komedi Opera Van Java di Trans 7 periode Februari
2013?
3. Bagaimana
struktur percakapan jika dilihat dari segi backchannel
semua tokoh dalam serial komedi Opera Van Java di Trans 7 periode Februari
2013?
Tujuan Penelitian
1. Untuk
mendeskripsikan jeda semua tokoh dalam serial komedi Opera Van Java di Trans 7
periode 2013.
2. Untuk
mendeskripsikan overlaps semua tokoh
dalam serial komedi Opera Van Java di Trans 7 periode 2013.
3. Untuk
mendeskripsikan backchannel semua
tokoh dalam serial komedi Opera Van Java di Trans 7 periode 2013.
Teori
Secara umum, Mey (dalam Riskiyah,2001:12)
mendefinisikan pragmatik sebagai studi yang dapat mengkaji perilaku bahasa
manusia secara mendalam dan lebih lengkap. Dapat disimpulkan bahwa pragmatik
merupakan ilmu yang mempelajari bahasa dari segi pengguna bahasa. Dalam
kaitannya dengan bhasa, penulis berpendapat bahwa analisis struktur percakapan
tidak lepas dari kajian pragmatik. Hal tersebut dipertegas oleh Levinson (dalam
Riskiyah,2012:9) menyatakan bahwa untuk mendapatkan pemahaman mendasar tentang
fenomena prgamatik, seseorang dapat mengkaji percakapan karena percakapan
merupakan inti atau jenis prototype penggunaan bahasa yang paling mendasar.
Demikian juga dengan percakapan dalam suatu serial komedi Opera Van Java di
Trans 7. Baik tidaknya percakapan mereka akan menentukan adanya struktur
percakapan tersebut.
Analisis percakapan merupakan interaksi komunikasi
yang melibatkan dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan ujaran. Yule
(2006:122) mengungkapkan bahwa dalam analisis percakapan terdapat giliran
tutur. Dalam percakapan yang baik selalu terjadi pergantian peran. Seorang
penutur dengan pengetahuan kurang mengenai aturan pengambilan giliran tutur
adalah penutur yang tidak memberikan kesempatan berbicara kepada lawan bicara.
Pada saat terjadi pengambilan tutur terdapat jeda, overlaps, dan backchannel.
Giliran tutur (turn-taking) adalah disaat penutur
kedua mengambil alih giliran berbicara dari penutur sebelumnya, dan juga
sebaliknya. Giliran tutur dalam percakapan mempunyai tiga inti. Pertama,
penutur mempersilahkan petutur atau mitra tutur atau memberikan respon dan
petutur berkewajiban menggunakan gilirannya. Kedua, apabila penutur tidak
mempersilahkan petutur menggunakan gilirannya maka petutur boleh menggunakan
gilirannya tetapi tidak diwajibkan. Ketiga, apabila tidak ada mitra tutur yang
menggunakan giliran bicara penutur boleh melanjutkan giliran bicaranya tetapi
tidak diwajibkan menggunakannya.
Struktur pertukaran merupakan salah satu unsur
wacana percakapan yang penting. Menurut Stubbs (dalam Riskiyah, 2012:13)
struktur pertukaran dapat digunakan untuk melihat koherensi wacana. Dalam
struktur pertukaran dalam percakapan dapat dianalisis dalam setiap satuan
pertukaran. Stubbs juga menyatakan bahwa pertukaran merupakan satuan terkecil
dalam berinteraksi.
Struktur percakapan terdiri dari tiga jenis, yaitu :
- Struktur Percakapan Jeda
Jeda
menunjukkan adanya keraguan atau kesenyapan. Yule (2006:125) menyebutkan bahwa
ada dua jenis jeda struktur percakapan, yaitu :
a. Jeda
hanya terjadi sebentar, itu menunjukkan keragu – raguan. Jeda sangat pendek itu
(ditandai dengan (-) tanda penghubung) merupakan keragu – raguan.
b. Jeda
yang panjang/kesenyapan dapat berupa ketiadaan jawaban sebagai kemungkinan
penyampaian sesuatu.
- Struktur Percakapan Overlaps
Overlaps yaitu
diantara kedua penutur mencoba berbicara pada saat yang bersamaan. Tujuannya
untuk menunjukkan rasa solidaritas atau merupakan interupsi.
- Struktur Percakapan Backchannel
Backchannel atau disebut juga penanda hubungan
akhir seperti, anggukan kepala, senyuman, ekspresi wajah, dan isyarat lainnya.
Menurut Yule (2006:130) menambahkan adanya backchannel
yang tidak diujarkan secara verbal, namun menggunakan gesture seperti
menganggukkan kepala, tersenyum dan ekspresi wajah lain yang menunjukkan bahwa
mitra tutur menyimak konversasi.
METODE PENELITIAN
Jenis/Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan peneliitian
kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Denzim dan Lincoln (dalam
Moleong 2005:05) penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan Latar
alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena – fenomena yang terjadi dan
dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.
Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian data yang dilakukan menggunakan
metode simak. Metode simak merupakan metode yang dilakukan karena data yang
diperoleh melalui menyimak penggunaan bahasa (Mahsun 20015:92).
Teknik ini diikuti dengan teknik lanjutan berupa
teknik catat atau dokumen. Dokumentasi dalam penelitian ini merupakan data
pendukung sebagai bukti untuk memperkuat data yang dianalisis.
Metode Analisis Data
Pada
tahap analisis ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode
deskriptif adalah mendeskriptifkan data yang sudah diperoleh dari hasil
pengumpulan data, baik simak dan catat untuk kemudian dilakukan penganalisisan
data pada tahap selanjutnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.
Struktur
Percakapan dilihat dari Segi Jeda
Dilihat dari struktur percakapan,
percakapan yang berlangsung pada serial komedi Opera Van Java berjalan
lancar karena setiap percakapan para wayang adakalanya terdapat hentian sementara
dalam ujaran atau tuturannya tersebut, menunjukkan bahwa adanya keraguan dan kesenyapan.
Bentuk keragu
– raguan terjadi dalam waktu yang pendek, sedangkan kesenyapan terjadi dalam
waktu yang panjang/lama. Bentuk keragu – raguan dalam percakapan antarpemain
Opera Van Java ini disebabkan oleh perasaaan takut, bingungn, dan tidak percaya
diri yang diikuti oleh senyapnya suara saat menyampaikan tuturannya.
2.
Struktur
Percakapan dilihat dari Segi Overlaps
Dilihat
dari Segi Overlaps yang terjadi pada
serial komedi Opera Van Java adalah tuturan yang dituturkan pada saat yang
bersamaan dengan penutur lainnya. Hal tersebut hampir dilakukan oleh seluruh
para wayang maupun dalang, seperti pada saat percakapan terjadi perasaan kesal,
tuturan yang tidak masuk akal, perasaan heran dan perasaan tidak setuju.
Berdasarkan
penelitian pada serial komedi Opera Van Java terdapat banyak tuturan yang
termasuk pada struktur percakapan dilihat dari segi overlaps. Hal ini dikarenakan setiap wayang mengambil alih giliran
tutur pewayang yang lain meskipun sudah melakukan gilirannya masing – masing
sehingga terjadilah overlaps pada
tuturan tersebut.
3.
Struktur
Percakapan dilihat dari Segi Backchannel
Dilihat
dari segi backchannel berbeda dengan
struktur percakapan yang lain. Berdasarkan penelitian pada serial komedi Opera
Van Java terdapat sedikit tuturan yang termasuk pada struktur percakapan
dilihat dari segi backchannel.
Backchannel disebut
juga penanda hubungan akhir dapat berupa anggukan kepala, senyuman, ekspresi
wajah, dan lainnya. Ungkapan tersebut digunakan untuk memperoleh proses
pergantian giliran secara teratur yang ditangguhkan untuk membiarkan satu
penutur untuk menggunakan gilirannya yang diperpanjang. Akan tetapi, pada
giliran yang diperpanjang, para penutur masih berharap bahwa lawan tutur mereka
menunjukkan bahwa mereka mendengarkan.
PENUTUP
·
Simpulan
Berdasarkan
dari hasil analisis, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Struktur
Percakapan jika dilihat dari Segi Jeda
a. Keragu
– Raguan
Jeda dalam bentuk keragu – raguan yang terdapat
dalam tuturan antar wayang disebabkan oleh perasaan takut, bingung,
ketidakakraban, dan tidak percaya diri. Jeda dalam keragu – raguan tersebut
terjadi dalam waktu yang pendek.
b. Kesenyapan
Selain itu terdapat pula jeda dalam kesenyapan antar
pemain Opera Van Java. Kesenyapan tersebut terjadi karena tidak adanya jawaban
dari lawan tutr yang disebabkan karena lawan tutur tidak mendengar bahkan tidak
menghiraukan tuturan yang disampaikan oleh penutur. Kesenyapan tersebut terjadi
dalam waktu yang panjang.
- Struktur Percakapan jika dilihat
dari Segi Overlaps
Pada
serial komedi Opera Van Java para wayang tidak terlalu memperhatikan struktur
percakapan yang ada sehingga tidak memberikan giliran tutur kepada pemain wayang
yang lain.
- Struktur Percakapan jika dilihat
dari Segi Backchannel
Ungkapan
seperti anggukan kepala, senyuman, ekspresi wajah digunakan untuk memperoleh
proses pergantian giliran secara teratur yang digunakan untuk membiarkan satu
penutur menggunakan gilirannya yang diperpanjang.
1) Untuk
Peneliti Selanjutnya
Diharapkan
dapat menjadi bahan pertimbangan untuk kajian struktur percakapan selanjutnya.
2) Untuk
Guru Bahasa Indonesia
Diharapkan
dapat memberikan manfaat dalam dunia kebahasaan khususnya dalam kajian
pragmatik.
3) Untuk
Mahasiswa
Diharapkan
agar mahasiswa lebih memperhatikan pemberian konstribusi informasi ketika
melakukan percakapan sehingga tercipta komunikasi yang baik dan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer.
2007. Linguistic Umum. Jakarta :
Rineka Cipta
Arikunto,
Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian :
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Nadar.
2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Hakim,
Arif Lukman. 2002. “Humor Gus Dur : Sebuah Tinjauan Pragmatik”. Skripsi Sarjana
(S-1). Semarang : Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.
Hidayati.
2009. “Analisis Pragmatik Humor Nasrudin Hoja”. Semarang : Fakultas Sastra
Universitas Diponegoro.
(http://repository.upi.edu/operator/upload/t_ling_-1007012_chapter2.pdf).
Keraf, Goys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende Flores : Nusa Indah.
Kuntjara. 2012. Gender Bahasa dan Kekuasaan.
Jakarta : Libri.
Leech, Geofrey. 1993. Prinsip – prinsip Pragmatik. Jakarta : Universitas Indonseia.
Levinson,S.C. 1992. Pragmatics (Cet. Ke-10). Cambridge : Cambridge University Press.
Mahsun, M.S. 2011. Metode Penelitian Bahasa :
Tahapan Strategi, Metode, dan tekniknya. Edisi Revisi. Jakarta : Rajawali Pers.
Meleong, Lexy J. 2005. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Edisi
Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Ozkafaci, Mahmut Tahir. 2001. “Pak Belalang
dan Nasrudin Hoja : Sebuah Analisis Komparatif”. Skripsi Sarjana (S-1).
Semarang : Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.
Putu Mas Dewantara. 2010. “Struktur
Percakapan Pola Pasangan Berdampingan Antara Siswa Kelas IX IPA di SMPN1
Sawan”. Bali : Fakultas Sastra Universitas Bali.
Wijana, Rohmadi, 2010. Analisis Wacana Pragmatik (Kajian Teori dan Analisis). Surakarta :
Mata di Presindo.
Yule, George. 2006. Pragmatic (Terjemahan). Yogyakarta : Pustaka Belajar.