BAHASA DAN USIA
Disusunoleh:
KELOMPOK 2
Desi
Widy Astutik (1534411013)
Hoirul
Mas’ud (1534411022)
Ismi
Fadhilah (1534411032)
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PGRI
BANGKALAN
TAHUN
AKADEMIK 2017-2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Bahasa
memiliki peran penting bagi kehidupan bermasyarakat sebagai alatkomunikasi.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen
yang berpola secara tetap, dan dapat dikaidahkan. Ciri dari hakikat bahasa
bahwa bahasa itu adalah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer,
produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Sistematis maksudnya, bahasa itu
tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau
sembarangan. Usia merupakan salah satu rintangan sosial yang membedakan
kelompok-kelompok manusia. Kelompok manusia ini akan memungkinkan timbulnya
dialek sosial yang akan memberikan corak tersendiri pada kelompok itu.
Perbedaan bahasa akan tampak pada kelompok usia tertentu, anak-anak, remaja,
dewasa. Tentu saja batas usia tidak dapat kita pastikan.
Suatu
hal yang dapat membedakan dialek sosial jenis ini dengan lainnya adalah dialek
sosial kelas buruh, atau dialek regional. Pada dialek tersebut kita mendapat
ciri-ciri kebahsaan yang relatif tetap pada penutur. Misal orang yang berbahasa
B1 dialek Jawa akan selamanya membawa ciri dialek tersebut.
Orang Batak akan membawa ciri
kebahsaan dalam penggunaan bahasa Indonesia sampai tua. Dialek sosial
berdasarkan usia keadaannya perbeda. Ragam tutur anak-anak akan ditinggalkan
jika usia anak semakin bertambah dewasa. Ragam tutur remaja akan ditinggalkan
pemiliknya jika mereka menjadi tua. Ragam bahasa yang relatif adalah ragam
tutur orang dewasa.
Oleh sebab
itu, usia penutur berpengaruh terhadap kebahasaan yang di komunikasikan. Bahasa
yang dikomunikasikan oleh anak-anak biasanya adalah bahasa ibu (B1). Berbeda
dengan penutur remaja yakni akan dipengaruhi bahasa Prokem (bahasa gaul). Tutur
orang dewasa berbeda juga dengan tutur anak-anak dan remaja, biasanya oranmg
dewasa cenderung menggunakan bahasa kedua B1, tergantung kepada siapa dan
dimana ia berbicara.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimana tutur bahasa anak-anak?
2. Bagaimana tutur bahasa anak remaja?
1.3 Tujuan
1. Untuk mendeskripsikan tutur bahasa
anak-anak.
2. Untuk mendeskripsikan tutur bahasa
remaja.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Tutur
Anak-Anak
Seorang anak mulai belajar berbicara
pada usia kurang lebih 18 bulan, dan pada usia kurang lebih 3 tahun, anak sudah
mulai bisa menguasai tata bahasa dari bahasa ibunya. Karena B1 anak adalah
bahasa sang Ibu.
Pada masa awal perkembangannya, bahasa
anak memiliki ciri yang unik yakni adanya penyusutan (reduksi). Kata-kata yang
disusutkan atau dihilangkan biasanya kata depan, kata sambung, partikel dan
sebagainya. Meskipun demikian, apa yang mereka ucapkan masih bisa dimengerti
oleh orang dewasa karena kata-kata yang masih betahan adalah kata-kata penuh
atau kata yang punya makna sendiri jika berdiri sendiri. Sebagai contoh “Mama,
Aan besar” yang dimaksud adalah “Mama, Aan sekarang sudah besar”. Hal semacam
ini bukan berarti sang anak tidak mampu mengolah bahasa atau bahkan merupakan
kebingungan anak, tetapi semuanya harus dianggap sebagai strategi sang anak
untuk berkomunikasi dan sebagai jalan untuk menguasai kaidah-kaidah bahasa
berikutnya.
Ada pula ciri bahasa anak yang ditinjau dari segi fonologi. Bunyi-bunyi yang mudah dihasilkan oleh sang anak adalah bunyi-bunyi bahasa bilabial Bunyi-bunyi bahasa bilabial itu sangat mudah dihasilkan karena hanya menggerakkan dua bibir. Contoh bunyi bahasa bilabial adalah mama, maem, mimik, bobok, dan lain-lain.
Ada pula ciri bahasa anak yang ditinjau dari segi fonologi. Bunyi-bunyi yang mudah dihasilkan oleh sang anak adalah bunyi-bunyi bahasa bilabial Bunyi-bunyi bahasa bilabial itu sangat mudah dihasilkan karena hanya menggerakkan dua bibir. Contoh bunyi bahasa bilabial adalah mama, maem, mimik, bobok, dan lain-lain.
Berbeda dengan bunyi bilabial yang mudah
diproduksi anak, ada beberapa bunyi yang sulit diproduksi oleh alat ucap sang
anak, bunyi-bunyi itu adalah “r”, “s”, “k”, dan lain-lain. Sering kita dengar
banyak anak yang mengatakan “jali” yang seharusnya “jari”, begitu juga dengan
“susu” yang biasa diucap “cucu”, sama halnya dengan “atu” padahal yang dimaksud
adalah “aku”.
Kosa kata anak kecil kebanyakan masih
apa yang ada disini dan apa yang terjadi, sekarang untuk perkembangannya, peran
orang tua sangat penting, terutama peran seorang ibu. Karena menurut teori yang
ada cara tutur orang tua terutama ibu sangat mempengaruhi sikap dan tutur
sosial anak di masyarakat nantinya. Biasanya seorang ibu lebih halus dalam
berbicara jika dibandingkan dengan ayahnya. Hal ini nampak jelas pada bahasa
jawa, diamana ada bahasa yang lebih halus untuk berbicara dengan orang yang
lebih tua atau disebut “krama inggil”.
Ketika seorang ibu berbicara dengan anak
menggunakan krama inggil, secara tidak langsung sang anak juga akan berbicara
hal yang serupa dengan sang ibu. Proses ini akan terus berlangsung sampai anak
memasuki usia sekolah. Dimana usia sekolah sang anak sudah mulai mengerti
dan paham dengan yang namanya sopan santun. Ragam bahasa anak ini bersifat
sementara, maksudnya mereka akan meninggalkannya ketika mereka menjadi remaja
dan dewasa. Tetapi untuk krama inggil tidak. Karena ketika usia anak- anak
mereka sudah terbiasa dengan krama inggil, maka akan selamanya mereka terbiasa
untuk krama inggil.
2.1.1
Penyusutan
dalam Tutur
Penyusutan dalam tutur tidak hanya
dilakukan oleh anak-anak, orang dewasa pun melakukan penyusutan-penyusutan
bahasa yang mereka gunakan . kita sering melihat bahasa yang digunakan dalam
menulis telegram, bila kita amati, dalam tulisan telegram yang ada hanya
bagian-bagian penting atau inti dari sebuah kalimat, seperti contoh: “Ibu
sakit, Segera pulang.” Kalimat yang lengkap seharusnya berbunyi “Ibu sedang
sakit, kamu diharap segera pulang.”
Bahasa-bahasa telegram sekarang ini
berkembang menjadi bahasa SMS. Cara kia menulis dalam SMS sama halnya dengan
kita menulis telegram. Sebagai contoh, “Skul jam berapa?” kalimat lengkapnya
“kita sekolah masuk jam berapa?”.
Antara bahasa telegram dan bahasa SMS
ini mempunyai alasan yang kuat kenapa harus menyusutkan sebuah kalimat.
Alasannya untuk menghemat biaya. Asalkan si penerima tahu dan mengerti isi
pesan yang ingin disampaikan.
2.1.2
Tutur
Anak Usia SD
Seorang anak mulai memasuki SD sekitar
usia 7 tahun. Disinilah mereka diajarkan keterampilan suatu bahasa dimana yang
diajarkan itu adalah bahasa yang sudah mereka kenal sebelumnya atau bisa
disebut bahasa ibu (B1), ataupun juga bahasa lain yang berbeda dengan bahasa
ibu (B2).
Seperti halnya anak kecil yang sedang
menguasai B1, anak yang sedang belajar B2 juga cukup kreatif dan menciptakan
bentuk-bentuk baru yang menyimpang dari yang mereka pelajari itu adalah
“selamat petang”.
2.2
Tutur
Remaja
Masa remaja merupakan masa yang paling
menarik dan mengesankan. Pada masa ini mereka punya ciri khusus dalam
sosialnya. Ciri-ciri itu tercermin juga dalam bahasa mereka. Mereka lebih suka
menciptakan bahasa-bahasa rahasia yang mereka gunakan untuk kelompok mereka
sendiri.
Ada beberapa contoh bahasa-bahasa yang
diciptakan oleh para remaja adalah:
Penyisipan konsonan V + Vokal
Penyisipan konsonan V + Vokal
Contoh: Aku=>avakuvu
Makan => mavakavan
Makan => mavakavan
Bahasa ini sudah muncul sebelum tahun 50-an. Bahasa ini sepertinya tidak hanya dalam bahasa Indonesia tapi juga bahasa Daerah juga.
Penggantian suku akhir dengan “-sye”
Contoh : Kunci =>
kunsye
Mandi => mansye
Bahasa ini telah muncul menjelang tahun
60-an.
Membalik fonem-fonem dalam kata
Contoh : Aku => uka
Makan => nakam
Nasi => isan
Bahasa Iini muncul pada tahun 60-an.
Variasi-varisai bahasa di atas muncul
kembali pada remaja sekarang, tapi mungkin tidak sepopuler tahun-tahun awal
kemunculannya. Terutama variasi bahasa yang menyisipkan “ v + vokal”.
Variasi-variasi bahasa seperti di atas muncul karena kreatifitas remaja. Tetapi
ragam bahasa seperti di atas tidak bisa dilihat dari segi linguistiknya,
melainkan dilihat dari segi sosialnya.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Usia
merupakan salah satu rintangan sosial yang membedakan kelompok-kelompok
manusia. Kelompok-kelompok manusia ini akan memungkinkan timbulnya dialek
sosial yang sedikit banyak memberikan warna tersendiri pada kelompok itu. Usia
akan mengelompokkan masyarakat menjadi kelompok anak-anak, kelompok remaja, dan
kelompok dewasa. Tentu saja usia itu tidak bisa secara tepat kita pastikan. Dan
dalam berbagai usia, manusia memiliki variasi bahasa khusus, dimana variasi-
variasi bahasa itu sebagai ciri-ciri yang digunakan masing-masing individu pada
usia tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dari
penelitian mengenai bahasa dan usia, kami sebagai peneliti menemukan beberapa
tutur bahasa daerah seperti Bahasa Madura dalam berbagai usia yang membedakan
kelompok manusia, yaitu:
3.1
Tutur
Bahasa Anak-Anak
Pada usia ini anak-anak belum mampu memahami bahasa
dengan baik dan benar. Biasanya pada masa ini anak-anak baru belajar bicara,
jadi orang tua hanya mengajarkan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak yang baru belajar bicara cenderung
menggunakan bahasa yang dia bisa untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya
meskipun ada perbedaan usia yang terpaut jauh. Contohnya dalam Bahasa Madura:
-
Ebo’, séngko’ térro jhâjhân
Makna kalimat diatas adalah anak tersebut ingin makan makanan yang dalam
Bahasa Madura “jhâjhân”. Dari cara
berkomunikasi sudah jelas bahwa tutur bahasa pada anak kecil tidak terlalu
menjadi masalah dan masih dimaklumi dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih
tua karena anak kecil belum bisa menggunakan bahasa yang baik dan benar.
·
Tutur Bahasa Anak Usia SD.
Pada usia ini anak-anak sudah mampu memahami bahasa
dengan baik walaupun belum sepenuhnya benar. Pada usia ini juga anak sudah
mulai duduk di bangku Sekolah Dasar, sehingga anak tidak hanya memperoleh
bahasa dari orang tuanya, namun juga dari sekolahnya.
Biasanya di sekolah anak akan memperoleh pelajaran
Bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya yaitu Bahasa Madura. Anak juga akan
dibimbing untuk dapat memahami lebih dalam lagi mengenai bahasa daerahnya,
misal, gurunya menerapkan metode menghafal bahasa daerah tentang penggunaan
Bhâsâ Engghi Bhuntén (BEB). Tidak hanya dibimbing namun ketika anak mulai bisa
menggunakan bahasa tersebut, guru akan membiasakan anak pada usia ini untuk
menerapkannya pada kehidupan sehari-harinya walaupun belum sepenuhnya benar.
Contoh
dalam Bahasa Madura:
-
Kaulé bâri’ mangkat sareng kakak, Pak.
Contoh di atas adalah tutur bahasa anak usia SD yang
berkomunikasi dengan orang tuanya. Menurut orang Madura, Bhâsâ Engghi Bhuntén
merupakan bahasa halus atau bahasa yang sopan untuk berkomunikasi dengan orang
yang lebih tua. Sehingga pada usia ini sudah mulai terjadi perbedaan bahasa dan
usia yang membedakan kelompok manusia.
3.2
Tutur
Bahasa Anak Remaja
Pada usia ini anak sudah memasuki usia yang
tergolong sudah mampu dan memahami tentang berbahasa yang baik dan benar.
Terlebih lagi pada usia ini anak sudah lebih banyak memperoleh pelajaran
mengenai bahasa daerahnya, baik dari sekolah maupun orang sekitarnya. Sehingga
sudah mampu menggunakan Bhâsâ Engghi Bhuntén dengan baik dan benar.
Contoh dalam Bahasa Madura:
-
Kaulé e pakon Rama mondhut rasol bhâdhi
konjhengan.
Contoh di atas merupakan penggunaan Bhâsâ Engghi
Bhuntén yang baik dan benar untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.
Sehingga pada usia ini sudah terjadi perbedaan bahasa dan usia yang membedakan
kelompok manusia.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Dari contoh-contoh penggunaan Bhâsâ Engghi Bhuntén di
atas yang kami temukan dalam kehidupan sehari-hari, dapat ditarik kesimpulan
bahwa:
1. Tutur
bahasa pada anak-anak yang masih kecil belum terjadi perbedaan bahasa dan usia
karena masih dimaklumi, namun pada anak-anak usia SD sudah mulai terjadi
perbedaan bahasa dan usia yang membedakan kelompok manusia.
2. Tutur
bahasa pada anak remaja sudah terjadi perbedaan bahasa dan usia yang membedakan
kelompok manusia. Hal ini disebabkan karena di Madura memiliki tingkatan bahasa
yang digunakan sesuai dengan usianya, selain itu karena Bhâsâ Engghi Bhuntén
itu sendiri merupakan bahasa yang digunakan untuk membedakan usia antara yang
muda dan yang lebih tua.
4.2
Saran
Saran kami ditujukan pada pembaca makalah penelitian
khususnya masyarakat Madura untuk lebih memperhatikan penggunaan Bhâsâ Engghi
Bhunten dengan baik dan benar. Agar generasi penerusnya juga dapat memahami
bahwa Bhâsâ Engghi Bhunten itu penting untuk berkomunikasi dengan orang yang
lebih tua.
DAFTAR PUSTAKA
Sumarsono. 2012. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA (Lembaga Studi Agama, Budaya dan
Perdamaian)
