Sayat Jantung di Malam Terakhir
Karya: Desi Widy Astutik
Hari ini malam minggu, lebih tepatnya malam ini adalah hari keduaku menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan 2 yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Lumpur. Di hari kedua ini aku tetap pergi bersama pujaan hatiku Sandrays sama seperti di hari pertama, maklumlah aku adalah putri bungsu dari tiga bersaudara yang terbiasa diantar jemput kalau keluar malam. Terlebih lagi saat ini aku sudah bertunangan jadi ada yang bisa diandalkan untuk sekadar minta menemani. Dan sebut saja aku dengan nama Widy.
“Titut titut titut...” Suara nada dering hpku berbunyi memecah keheningan di kamarku.
“Iya sayang, di mana kamu sekarang? Sudah otw kan? Kalau belum lebih cepat lagi! Nanti teman-temanku kelamaan nunggunya,” celotehku padanya.
Dia hanya tertawa kemudian menjawab, “Kamu berisik sayang, aku sudah di depan rumah kamu nih digigit nyamuk nunggu kamu dandan lama.”
Saat itu juga aku bangkit dari tempat tidurku dan bergegas memakai kerudung lalu keluar kamar untuk berpamitan dengan orang tua.
“Ma, aku berangkat sudah ditunggu mantunya di luar.”
Mamaku hanya tertawa mendengar caraku memanggil Sandrays dengan sebutan mantunya.
“Maaf yang, kamu sih gak bilang kalau sudah otw tadi,” dengan wajah memelas.
“Sudah ayo cepat naik!” perintahnya tanpa menggubris permintaan maafku.
Selama di perjalanan aku bercerita mengenai Festival Puisi Bangkalan 2 ketika siang harinya.
“Tadi siang lumayan menghibur, coba kamu ikut mungkin kamu tertawa terbahak-bahak sayang.”
“Lho memangnya tadi acaranya seperti apa kok kamu bilang seperti itu?”
“Apa ya? Lupa apa namanya, tapi intinya yang bikin menghibur dan tertawa itu pas pengundian nomor yang beruntung dapat hadiah buku puisi dari para penyair.”
“Terus sayang,” mulai menanggapi ceritaku dengan rasa penasaran.
“Jadi ada dosenku yang mengundi namanya Pak Buyung, beliau dosen yang bisa dibilang jago dan pintar melucu dalam suasana apa pun. Nah waktu mengundi nomor ada banyak temenku yang beruntung, salah satunya itu ada Lesvi dari kelas sebelah. Bukannya aku mau menghina sih ya, cuma aku salut saja sama kepercayaan dirinya meskipun yang lain bilang dia gendut dan lain sebagainya.”
“Jadi yang?”
“Jadi setelah semua dapat bukunya, Lesvi maju ke depan membacakan puisi salah satu penyair dengan gayanya yang penuh percaya diri. Nah di sini yang membuatku terhibur, saat dia baca puisinya yang lainnya tertawa dan semua menyorakkan ‘huuu haaa’ dia di depan karena baca puisinya lucu jadi aku ikut tertawa menyaksikannya.”
“Ah kamu gak boleh seperti itu, belum tentu kamu bisa seperti dia kan?” sambil tertawa.
“Gak boleh seperti itu, tapi kamu sendiri tertawa.”
“Bercanda yang, bentar lagi sudah sampai nih!” memberi petunjuk.
Setiba di rumah temanku Senja, aku dan dia langsung duduk di teras sembari menunggu yang lainnya datang. Di sana aku banyak bercerita tentang bagaimana acara penutupan Festival Puisi Bangkalan 2 nanti, bahagia bercampur lelah hadir menghiasi tubuhku. Namun, setiap kali aku melihat semangat dari teman-temanku aku pun jadi ikut bersemangat lagi.
“Kira-kira nanti itu akan seru gak ya acaranya puncaknya?” tanyaku pada Rizqia.
“Aku juga gak tahu, Wid. Bisa jadi seru bisa jadi juga enggak.”
“Ya kali acara puncak gak seru? Pasti seru kok.”
“Tapi yang lain ini pada ke mana sih? Sudah pukul 19.00 WIB gak datang-datang, sampai jamuran yang nunggu.”
“Hahaha... Jangan berlebihan seperti itu, Riz. Mungkin mereka masih di jalan,” gurauku.
“Ya mungkin mereka terkena jebakan cabe-cabean di jalan makanya lama. Hahaha…”
Selang 5 menit akhirnya semua teman-temanku datang dan kami pun semua berangkat bersama-sama. Sepanjang perjalanan kami dipenuhi dengan canda tawa, hingga tanpa kusadari kami sudah tiba di tempat acara tersebut. Tetapi ada yang aneh pada malam ini. Ya, Sandrays mengoceh terus-menerus tentang helmku yang tidak mau aku kaitkan di jok sepedanya.
“Malam ini helmnya kaitkan di sepeda saja ya? Aku khawatir,” ucapnya penuh perhatian.
Aku yang sedari ta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar