BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Semantik memiliki peran
penting bagi linguistik khususnya berkaitan dengan makna.Kata semantik dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa
Yunani sema (kata benda yang berarti
"tanda” atau “lambang”). Kata kerjanya adalah semaino yang beararti “menandai”atau “melambangkan”. Yang dimaksud
dengan tanda atau lambang disini sebagai padanan kata sema adalah tanda linguistikseperti
yang dikemukakan oleh Ferdinan de Sausure (Chaer, 2013:2),yaitu yang terdiri
dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa
dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
Kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang; sedangkan yang ditandai
atau yang dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim
disebut referen atau hal yang di tunjuk. Kata semantik ini kemudian digunakan
pada bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik
dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam
linguistik yang mempelajari makna dalam bahasa. Oleh karena itu, kata semantik
dapat diartikan ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari
tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik.
Menurut Dale (dalam Tarigan, 1986:166-167), semantik
adalah telaah makna. Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang
menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya
terhadap manusia dan masyarakat. Oleh karena itu semantik mencakup makna-makna
kata, perkembanganya dan perubahanya.
Sejalan dengan
berkembangnya zaman perkembangan bahasa pun juga ikut berkembang dan mengalami
pergeseran-pergeseran makna. Pergeseran makna bahasa memang tidak dapat
dihindari, hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang nantinya akan di bahas
secara mendalam di dalampembahasan.
Berbahasa adalah proses
menyampaikan makna oleh penutur kepada pendengar melalui satu atau serangkaian
ujaran. Suatu proses berbahasa dikatakan berjalan dengan baik apabila makna
yang dikirimkan penutur di persepsikan oleh pendengar persis dalam yang
dimaksudkan oleh penutur. Kemampuan yang memadai dari penutur dalam memproduksi
ujaran dan kemampuan yang memadai dari pendengar dalam mempersepsikan ujaran
akan menyebabkan makna-makna yang dikirimkan penutur dapat diterima dengan
tepat oleh pendengar. Seandainya
sebuah makna kata berubah, maka perubahan tersebut tidak akan mengurangi
pemahaman jika penutur dan pendengar tetap memiliki kemampuan untuk memahami
perubahan makna kata tersebut.
Makna kata merupakan
bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik.yang mempelajari tentang makna
suatu kata dalam bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
makna adalah arti, maksud pembicara atau penulis, pengertian yang diberikan
kepada suatu bentuk kebahasaan.
Dalam
pembahasan sebelumnya sudah disebutkan bahwa makna sebuah kata secara sinkronis
(bersangkutan dengan peristiwa yang
terjadi dalam suatu masa yang terbatas) tidak akan berubah. Pernyataan ini
menyiratkan juga pengertian bahwa jika secara sinkronis makna sebuah kata tidak
akan berubah maka secara diakronis (Ling
berkenaan dengan pendekatan terhadap bahasa dengan melihat perkembangan
sepanjang waktu bersifat historis) ada kemungkinan bisa berubah. Jadi,
sebuah kata yang pada suatu waktu dulu bermakna ‘A’, misalnya, maka pada waktu
sekarang bisa bermakna ‘B’, dan pada suatu waktu kelak mungkin bermakna ‘C’
atau bermakna ‘D’.
Pernyataan bahwa makna
sebuah kata secara sinkronis dapat berubah menyiratkan pula pengertian bahwa
tidak setiap kata maknanya harus atau akan berubah secara diakronis. Perubahan
makna sebuah kata dapat disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan
dalam ilmu dan teknologi, perkembangan sosial dan budaya, perbedaan bidang
pemakaian, adanya asosiasi, pertukaran tanggapan indra, perbedaan tanggapan,
adanya peningkatan, proses gramatikal, dan pengembangan istilah. Banyak kata
yang maknanya sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.Malah jumlahnya
mungkin lebih banyak daripada yang berubah atau pernah berubah.
Akan tetapi seiring
perkembangan zaman sering kita jumpai bahasa dalam media massa yang digunakan
tidak seperti umumnya bahasa tersebut digunakan. Akhirnya, masyarakat
pembacalah yang menentukan sendiri makna yang muncul dari ketidak umuman
penggunaan bahasa tersebut, sehingga terjadilah perubahan makna kata yang
digunakan dalam media massa. Penggunaan bahasa yang memungkinkan terjadinya
perubahan makna, diantaranya terdapat pada berita dalam surat kabar. Kata-kata dalam konteks kalimat di surat kabar tidaklah
mengandung makna yang sebenarnya, tetapi mengandung makna kiasan. Kata-kata
tersebut dimunculkan untuk memberikan kesan yang lebih hidup sehingga berita
dalam surat kabar lebih indah, lebih menarik, bahkan dapat mempengaruhi orang
yang membacanya. Kata-kata tersebut memunculkan makna baru sebagai pengalihan
dari persamaan atau perbandingan dengan makna kata yang sebenarnya.
Sebagai sarana
komunikasi, media massa berfungsi untuk menyampaikan
berita dan pesan kepada masyarakat luas. Surat kabar, televisi, dan film pada umumnya adalah konsusmsi
masyarakat secara keseluruhan. Media massa sarat dengan tujuan dan manfaat,
baik bagi pengirim maupun penerimanya. Media
massa adalah bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri tidak netral, tidak bebas
konteks, tidak bebas nilai, melainkan sarat dengan kepentingan inheren.
Wartawan dan editor bebas memilih dan memanfaatkan kosa kata tertentu, baik
dengan tujuan untuk memperoleh popularitas maupun memberikan penegasan
tertentu, bahkan untuk juga membelokkan kebenaran.
Peranan media massa bertambah penting dengan adanya wilayah yang sangat
luas terdiri dari pulau-pulau sedangkan bangsa indonesia memiliki satu bahasa
persatuan, yaitu Bahasa Indonesia, media massalah, khususnya surat kabar
memegang peranan penting untuk mempersatukan bangsa Indonesia dengan bahasanya.
Media massa mempercepat penyebaran istilah dan kata-kata baru, singkatan dan
akronim, dialek dan cara-cara pengucapan tertentu. Tidak terhitung jumlah
istilah yang berhasil dipopulerkan oleh media massa. Mulai dari pemilihan
kata-kata, penyusunan kalimat, sampai penggunaan gaya bahasa, disesuaikan
dengan kepentingan tertentu. Demikian juga istilah-istilah yang terdapat pada
berita metropolis dalam surat kabar.
Perubahan makna suatu kata dapat terjadi karena perbedaan gaya bahasa yang
digunakan penulis. Penulis yang kreatif akan mengemukakan gagasan-gagasan baru
dan menggunakan gaya yang membedakan dirinya dengan penulis lain. Dengan kata
lain, penyebab terjadinya perubahan bahasa ditentukan oleh kreatifitas seorang
penulis.
Surat kabar memiliki keunggulan dibangdingkan media lain. Hal ini karena
bahasa tulisan yang digunakan surat kabar memberikan peluang yang sangat besar
kepada manusia untuk berinteraksi dengan diri sendiri, berimajinasi,
mengabstraksikan informasi apapun yang berasal dari surat kabar. Isi surat
kabar memberikan dorongan yang lebih besar kepada manusia untuk kreatif
dibandingkan dengan radio ataupun TV. Jika tayangan TV adalah “bahan jadi” yang
kita telan begitu saja, maka isi surat kabar adalah “ bahan setengah jadi” yang
harus kita olah sebelum kita memahaminya. Kita dapat menguraikan, menyimpulkan,
menggeneralisasikan, atau meringkaskan informasi dalam surat kabar.
Kelebihan-kelebihan yang dimiliki surat kabar dengan penggunaan bahasa yang
menarik, menjadi perhatian berbagai kalangan, intelektual untuk menelitinya.
Berdasarkan uraian
diatas, kami sebagai penulis akan melakukan penelitian tentang sabab-sebab
perubahan makna pada sebuah berita Surya Female “Cutting Atasan Lebih Seksi”,
Jumat, 10 Maret 2017, halaman 6.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar
belakangdi atas,
maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
sebab-sebab perubahan makna perkembangan
dalam ilmu dan teknologi pada surat kabar Surya Female, Jumat,
10 Maret 2017?
2. Bagaimanasebab-sebab perubahan makna perkembangan dalam sosial dan
budaya pada surat kabar Surya Female,
Jumat, 10 Maret 2017?
3. Bagaimana
sebab-sebab perubahan makna
perbedaan bidang pemakaian pada surat kabar Surya Female, Jumat,
10 Maret 2017?
4. Bagaimana
sebab-sebab perubahan makna adanya
asosiasi pada surat kabar Surya
Female, Jumat, 10 Maret 2017?
5. Bagaimana
sebab-sebab perubahan makna
pertukaran tanggapan indra pada surat kabar
Surya
Female, Jumat, 10 Maret 2017?
6. Bagaiamanasebab-sebab perubahan makna perbedaan tanggapan pada surat
kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
7. Bagaimanasebab-sebab perubahan makna adanya penyingkatan pada surat
kabar Surya
Female, Jumat, 10 Maret 2017?
8. Bagaimana
sebab-sebab perubahan makna proses gramatikal
pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
9. Bagaimana
sebab-sebab perubahan makna pengembangan
pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
1.2 MANFAAT
PENELITIAN
Ada dua manfaat yang
harus dicapai dalam penelitian ini, yaitu manfaat teoretis danmanfaat praktis.
a)
Manfaat teoretis
Penelitian
ini diharapkan dapat memberi pengetahuan
serta wawasan lebih mengenai ilmu semantik khususnya tentang makna dan mampu
memahami sebab-sebab perubahan makna lebih mendalam.
b)
Manfaat praktis
Penelitian
ini adalah diharapkan dapat memberikan
informasi
pada pembaca tentang sebab-sebab
perubahan makna dan dapat dijadikan bahan informasi bagi guru
bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar.
1.4 TUJUAN PENELITIAN
Dari rumusan
masalah di atas yang akan dibahas, berikut adalah tujuan penelitiannya:
1.
Mengkaji
perkembangan
dalam ilmu dan teknologi yang
mempengaruhi
terjadinya perubahan makna sebuah kata dalam surat kabar.
2.
Mengkaji
perkembangan
dalam sosial
dan budayayang mempengaruhi
terjadinya perubahan makna sebuah kata dalam surat kabar.
BAB II
KAJIAN TEORI
PERKEMBANGAN
DALAM ILMU DAN TEKNOLOGI
Perkembangan dalam bidang ilmu dan kemajuan dalam bidang teknologi dapat
menyebabkan terjadinya perubahan makna sebuah kata. Di sini sebuah kata yang
tadinya mengandung konsep makna mengenai sesuatu yang sederhana, tetap
digunakan walaupun konsep makna yang dikandung telah berubah sebagai akibat
dari pandang baru, atau teori baru dalam suatu bidang ilmu atau sebagai akibat
dalam perkembangan teknologi. Perubahan makna kata sastra dan makna ‘tulisan’ sampai pada makna ‘karya imaginatif’
adalah salah satu contoh perkembangan bidang keilmuan. Pandangan-pandangan
teori baru mengenai sastra menyebabkan makna kata sastra itu berubah. Pandangan
baru atau teori barulah yang menyebabkan kata sastra yang tadinya bermakna buku
yang baik isinya dan baik bahasanya ‘menjadi berarti’ karya yang bersifat
imaginatif kreatif.
Sebagai akibat perkembangan teknologi kita lihat pada kata berlayar yang pada awalnya bermakna
‘perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang
digerakkan dengan tenaga layar’. Walaupun kini kapal-kapal besar tidak lagi
menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan tenaga mesin, malah juga tenaga
nuklir, namun kata berlayar masih
digunakan. Nama perusahaannya pun masih bernama pelayaran seperti Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Malah
lebih jauh lagi bagi umat Islam di Indonesia kata berlayar diberi makna ‘pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah’.
Kini pun, meskipun ke Mekkah sudah tidak lagi menggunakan kapal laut, sudah
diganti dengan kapal terbang, masih terdengar ucapan “Ínsya Allah tahun depan
kami akan berlayar” belum terdengar ucapan “Insya Allah tahun depan kami akan
terbang”.
PERKEMBANGAN
SOSIAL DAN BUDAYA
Perkembangan dalam bidang sosial kemasyarakatan dapat menyebabkan
terjadinya perubahan makna. Di sini sama dengan yang terjadi akibat
perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi, sebuah kata yang pada mulanya
bermakna ‘A’, lalu berubah menjadi bermakna ‘B’ atau ‘C’. Jadi, bentuk katanya
tetap sama tetapi konsep makna yang dikandungnya sudah berubah. Misalnya kata saudara dalam bahasa Sanskerta bermakna
‘seperut’ atau ‘satu kandungan’. Kini ata saudara,
walaupun masih juga digunakan dalam arti ‘orang yang lahir dari kandungan yang
sama’ seperti dalam kalimat Saya
mempunyai seorang saudara di sana, tetapi digunakan juga untuk menyebut
atau menyapa siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang
sama. Misalnya dalam kalimat Surat
Saudara sudah saya terima, atau kalimat Di mana Saudara dilahirkan?
Selain kata saudara hampir semua
kata atau istilah perkerabatan seperti bapak,
ibu, kakak, adik dan nenek telah
pula digunakan sebagai kata sapaan untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang
pantas disebut adik, dan pantas disebut nenek. Malah kata bapak dan ibu tidak hanya digunakan untuk menyebut atau
menyapa orang yang menurut usianya pantas disebut bapak atau ibu, tetapi juga
untuk menyebut atau menyapa orang yang mempunyai kedudukan atau status sosial
yang lebih tinggi, walaupun usianya mungkin lebih juah muda daripada usia orang
yang menyapa atau menyebutnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Di sinilah
barangkali sebab dari persoalannya. Dulu sebelum zaman merdeka (dan juga
beberapa tahun setelah kemerdekaan) utnuk menyebut dan menyapa orang yang lebih
tinggi status sosialnya digunakan kata tuan
untuk laki-laki dan nyonya untuk
perempuan. Kemudian setelah kemerdekaan dan timbulnya kesadaran bahwa sebutan tuan berbau kolonial kita menggantiannya dengan
kata bapak dan ibu. Dewasa ini kata tuan sudah
hampir tidak digunakan lagi. Kata bapak dan
ibu ini memang berbeda dengan kata kaka, adik, dan nenek yang memang digunakan terhadap orang yang menurut usianya
pantas disebut kakak, adik, dan nenek.
PERBEDAAN
BIDANG PEMAKAIAN
Perbedaan
makna berdasarkan bidang pemakaian maksudnya adalah kata-kata tersebut bisa
jadi mempunyai arti yang tidak sama dengan arti dalam bidang asalnya. Akan
tetapi, perlu diingat bahwa makna baru kata-kata tersebut masih ada kaitannya
dengan makna asli.Misalnya dalam bidang Sastra, istilah- istilah yang identik
adalah istilah seperti cerpen, novel, puisi, sajak, drama, intrinsik,
ekstrinsik, latar, watak, dan sebagainya.Sementara di bidang olahraga ada
istilah gol, gawang, basket, bola, sepak bola, lempar lembing, dan sebagainya.
Perbedaan
bidang pemakaian pada kata ‘watak’ dalam bidang sastra, berbeda dengan
penggunaan kata ‘watak’ di bidang umum atau katakanlah bidang psikologi.Watak
dalam bidang sastra bermakna karakter dari tokoh fiksi/rekaan dalam sebuah
karya sastra baik itu cerpen atau novel.Sementara ‘watak’ dalam dunia psikologi
artinya kepribadian seorang manusia baik sebagai obyek penelitian maupun
manusia yang berdiri utuh.
Dalam bagian yang lalu sudah dibicarakan bahwa setiap
bidang kehidupan atau kegiatan memiliki kosa kata tersendiri yang hanya dikenal
dan digunakan dengan makna tertentu dalam bidang tersebut. Seumpanya dalam
bidang pertanian ada kata-kata benih,
menuai, hama. Dalam pendidikan formal di sekolah da kata-kata murid, guru, ujian, menyalin, menyontek,
membaca, dan menghapal. Dalam
bidang agama Islam ada kata-kata seperti iman,
imam, khotib, adzan, halal, haram,
subuh, puasa, zakat, dan fitrah. Sedangkan dalam bidang pelayaran ada
kata-kata seperti sauh, berlabuh, haluan,
buritan, nahkota, palka, pelabuhan, dan
juru mudi.
Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang tertentu itu dalam
kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat terbantu dari bidangnya: dan
digunakan dalam bidang lain untuk menjadi kosa kata umum. Oleh karena itu,
kata-kata tersebut menjadi memiliki makna
baru atau makna lain di samping makna aslinya (makna yang berlaku dalam
bidangnya). Misalnya kata menggarap yang berasal dari bidanh pertanian dengan
segala macam derivasinya, seperti tampak dalam frase menggarap sawah, tanah garapan, dan petani penggarap, kini
banyak digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna ‘mengerjakan’ seperti
tampak digunakan dalam frase menggarap
skripsi, menggarap usul para anggota, menggarap generasi muda, dan menggarap
naskan drama. Kata membajak dalam segala bentuk derivasinya seperti, pembajakan, dibajak, bajakan, pembajak, yang
berasal dari bidang pertanian, kini juga telah bisa digunakan dalam bidang lain
dengan makna ‘melakukan dengan kekerasan atau paksaan untuk memperoleh
keuntungan’ seperti tampak dalam frase membajak pesawat terbang, buku bajakan, dan
kaset bajakan. Katan jurusan yang
berasal dari bidang lalu lintas dan makna ‘arah’ kini juga digunakan dalam
bidang pendidikan dengan makna ‘seksi’
atau ‘bagian bidang ilmu’seperti dalam bidang frase fakultas teknik jurusan elektro, dan fakultas hukum jurusan perdata.contoh lain kata menggembleng yang
berasal dari bidang pandai besi dan dengan arti
‘menempa’ kini dipakai juga dalam bidang politi dengan makna ‘memasukkan
semangat’ seperti kita lihat dalam frase menggembleng
generasi muda, gemblengan yang berhasil dari pimpinan orde baru, dan mereka digembleng selama satu tahun.
Dari contoh-contoh diatas sekali lagi bisa dikatakan bahwa karena kata-kata
itu digunakan dalam bidang lain maka kata-kata itu mempunyai arti lain yang
tidak sama dengan arti dalam bidang atau lingkungan aslinya. Hanya perlu
dilihat bahwa makna baru kata-kata tersebut masih ada kaitannya dengan makna
asli yang digunakan dalam bidang
asalnya. Kata-kata tersebut digunakan dalam bidang lain secara metaforis, atau
secara perbandingan. Kata menggarap dalam
frase menggarap skripsi adalah
digunakan secara metaforis, sedangkan kata menggarap
dalam frase menggarap sawah bukan
secara metaforis.
Kesimpulan lain yang bisa ditarik dari uraian diatas adalah bahwa makna
kata yang digunakan bukan dalam bidangnya itu dan makna kata yang digunakan
dalam bidang aslinya masih berada dalam poliseminya karena makna-makna tersebut
saling berkaitan atau masih ada persamaan antara makna satu dengan makna yang
lainnya.
Asosiasi biasa disebut
persamaan, ikut mengubah sebuah makna kata. Perubahan makna ini terjadi karena
adanya persamaan antara kata yang digunakan atau hal lain yang berkaitan dengan
kata tersebut sehingga menjadi makna baru. Kata-kata yang digunakan di luar
bidangnya ini mempunyai hubungan atau pertautan makna dengan makna yang
digunakan di bidang asalnya.Ini berbeda dengan perubahan makna karena pemakaian
makna baru.
Kata-kata
yang digunakan di luar bidangnya, seperti dibicarakan di atas masih ada
hubungan atau pertautan maknanya dengan makna yang digunakan pada bidang
asalnya. Umpamanya kata mencatut yang
berasal dari bidang atau lingkungan perbengkelan dan pertukangan mempunyai
makna bekerja dengan menggunakan ‘catut’. Dengan menggunakan catut ini maka pekerjaan yang
dilakukan, misalnya mencabut paku, menjadi dapat dilakukan dengan mudah. Oleh
karena itu, kalau digunakan dalam frase seperti mencatut karcis akan memiliki makna ‘memperoleh keuntungan dengan
mudah melalui jual beli karcis’.
Agak
berbeda dengan perubahan makna yang terjadi sebagai akibat penggunaan dalam
bidang yang lain, disini makna baru yang muncul adalah berkaitan dengan hal
atau peristiwa lain yang berkenaan dengan kata tersebut. Umpamanya kata amplop
yang berasal dari bidang administrasi atau surat-menyurat, makna asalnya adalah
‘sampul surat’. Ke dalam amplop itu
selain biasa dimasukkan surat tetapi bisa pula dimasukkan benda lain, misalnya
uang. Oleh karena itu, dalam kalimat Beri
saja amplopmaka urusan pasti beres kata amplop
di situ bermakna ‘uang’ sebab amplop
yang dimaksud bukan berisi surat atau tidak berisi apa-apa melainkan berisi
uang sebagai sogokan.
Asosiasi
antara amplop dengan uang ini adalah berkenaan dengan wadah. Jadi, menyebut
wadahnya yaitu amplop tetapi yang
dimaksud adalah isinya, yaitu uang. Contoh lain kalau kita masuk ke rumah makan
dan setelah menghabiskan secangkir kopi, lalu mengatakan minta secangkir lagi maka pemilik atau pelayan rumah makan itu
sudah mengerti apa yang kita maksud. Dia tidak akan memberikan satu cangkir
kosong melainkan satu cangkir yang sudah berisi kopi yang diseduh dengan air
panas diberi gula dan sebagainya.
Selain
asosiasi yang berkenaan dengan data ada pula asosiasi yang berkenaan dengan
waktu. Misalnya perayaan 17 Agustus maksudnya tentu ‘perayaan hari Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia’ karena proklamasi tersebut terjadi pada tanggal
17 Agustus tersebut. Jadi di sini, yang disebut waktunya tetapi yang dimaksud
adalah peristiwanya. Contoh lain, upacara 1 Oktober, tentu yang dimaksud adalah
upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, karena pada tanggal 1 Oktober
(1965) Pancasila yang menjadi dasar falsafah dan dasar negara kita telah
terbukti memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga penyelewengan G 30 S/PKI
dapat digagalkan.
Alat
indra kita yang lima sebenarnya sudah mempunyai tugas-tugas tertentu untuk
menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini. Umpamanya rasa pahit, getir,
dan manis harus ditanggap oleh perasa lidah. Rasa panas, dingi dan sejuk harus
ditanggap oleh alat perasa pada kulit. Gejala yang berkenaan dengan cahaya seperti
terang, gelap, dan remang-remang harus ditanggap dengan alat indra mata;
sedangkan yang berkenaan dengan bau harus ditanggap dengan alat indra
penciuman, yaitu hidung.
Namun,
dalam penggunaan bahasa banyak terjadi kasus pertukaran tanggapan antara indra
yang satu dengan indra yang lain. Rasa pedas, misalnya, yang seharusnya
ditanggap dengan alat idra perasa pada lidah, tertukar menjadi ditanggap oleh
alat indra pendengaran seperti tampak dalam pujaran kata-katanya cukup pedas. Atau kasar yang harus ditanggap dengan
alat indra perasa pada kulit, ditanggap oleh alat indra penglihatan mata,
seperti dalam kalimat tingkah lakunya
kasar. Keadaan ini, pertukaran alat indra penanggap, biasanya disebut
dengan istilah sinestesia. Istilah
ini berasal dari bahasa Yunani sun artinya
‘sama’ dan aisthetika artinya ‘tampak’. Contoh lain perhatikan
kalimat-kalimat berikut:
-
Suaranya
sedap didengar
-
Warnanya
enak dipandang
-
Suaranya
berat sekali
-
Bentuk
manis
-
Lukisannya
sangat ribut
-
Kedengarannya
memang nikmat
Sedap adalah urusan indra perasa lidah, tetapi dalam contoh di
atas menjadi tanggapan indra pendengar; enak
adalah juga urusan indra perasa lidah, tetapi dalam contoh di atas menjadi
tanggapan indra penglihatan yaitu mata; suara
adalah urusan indra pendengar tetapi dalam contoh di atas menjadi urusan
perasa. Begitu juga contoh lain, manis,
ribut, dan nikmat yang ditanggap
oleh indra yang bukan seharusnya.
PERBEDAAN
TANGGAPAN
Perbedaan tanggapan
memunculkan perubahan makna.Setiap
unsur leksikal atau kata sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna
leksikal yang tetap.namun karena pandangan hidup dan ukuran dan ukuran dalam
norma kehidupan di dalam masyarakat maka banyak kata yang menjadi memiliki
nilai rasa yang “rendah”, kurang menyenangkan. Di samping itu ada juga yang
memiliki nilai rasa yang “tinggi”, atau yang mengenakan. Kata-kata yang
nilainya merosot menjadi rendah ini lazim disebut peyoratif, sedangkan yang nilainya naik menjadi tinggi disebut
amelioratif. Kata bini dewasa ini
dianggap peyoratif, sedangkan kata istri
dianggap amelioratif, kata laki
dianggap peyoratif berbeda dengan suami
yang dianggap amelioratif . contoh lain kata bang (seperti dalam bang dul) dianggap peyoratif; sebaliknya kata bung
(seperti dalam Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Gafur) dianggap
amelioratif.
Apakah nilai peyoratif dan amelioratif sebuah kata bersifat tetap? Tentu
saja tidak. Nilai rasa itu kemungkinan besar Cuma bersifat sinkronis ada
kemungkinan bisa berubah. Perkembangan pandangan hidup yang biasanya sejalan
dengan perkembangan budaya dan kemasyarakatan dapat memungkinkan terjadinya
nilai peyoratif atau amelioratifnya
sebuah kata. Sebagai contoh, kata jamban dulu
dianggap bersifat peyoratif oleh karena itu orang tidak mau menggunakanya, dan
menggantinya dengan kata kakus atau
W.C. tetapi dewasa ini kata jamban
itu telah kehilangan sifat peyoratifnya karena pemerintah DKI secara resmi
menggunakan lagi kata itu sebagai istilah baku seperti dalam frase jamban keluarga. (tentang nilai rasa
lihat lagi 4.3).
ADANYA
PENYINGKATAN
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering
digunakan maka kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan
orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu maka kemudian orang lebih
banyak menggunakan singkatannya saja daripada menggunakan bentuk utuhnya.
Misalnya, kalau dikatakan Ayahnya
meninggal tentu maksudnya adalah meninggal
dunia. Begitu juga dengan kata berpulang
tentu maksudnya adalah berpulang ke
rahmatullah.
Di sini termasuk kata-kata yang disingkat seperti dok, maksudnya ‘dokter’, lok maksunya
‘lokomotif’, dan let maksunya
‘letnan’. Serta bentuk-bentuk yang disebut akronim seperti tilang untuk bukti ‘pelanggaran’, satpam untuk ‘satuan pengaman’, hankam
untuk ‘pertahanan keamanan,dan mendikbud untuk ‘menteri pendidikan dan kebudayaan’.
Kalau disimak sebetulnya dalam kasus penyingkatan ini bukanlah peristiwa
perubahan makna yang terjadi sebab makna konsep. Yang terjadi adalah perubahan
bentuk kata. Kata yang semula berbentuk utuh (panjang) disingkt menjadi bentuk
tidak utuh (pendek). Malah dalam penyingkatan ini bisa terjadi pula pada
bentuk-bentuk yang sudah dipendekkan seperti AMD adalah kependekan dari Abri Masuk Desa, dan Abri itu sendiri adalah kependekan dari Angkatan Bersenjata Rebpublik Indonesia .
PROSES
GRAMATIKAL
Proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi
(penggabungan kata) akan menyebabkan pula perubahan makna. Tetapi dalam hal ini
yang terjadi sebenarnya bukan perubahan makna, sebab makna kata itu sudah
berubah sebagai hasil gramatikal. Dalam bagian pendahuluan sudah dibicarakan
kalau bentuk berubah maka makna pun akan berubah atau berbeda. Jadi, tidaklah
dapat dikatakan kalau dalam hal ini telah terjadi perubahan makna, sebab yang
terjadi adalah proses gramatikal, dan proses gramatikal “melahirkan”
makna-makna gramatikal.
Proses gramatikal
adalah proses terbentuknya sebuah kata, frase, sampai wacana, untuk memahami
proses gramatikal. Proses gramatikal ikut serta dalam mengubah satu makna
menjadi makna yang berbeda atau makna yang lain kita harus memahami beberapa
hal penting yang akan dipaparkan sebagai berikut:
- Bentuk Tunggal
Bentuk tunggal adalah bentuk terkecil dan
satu-satunya.Artinya tidak bisa diurai lagi karena tidak ada lagi bentuk
setelah bentuk terkecil itu. Contoh: kursi, jalan, malam, hijau, kasur, nikmat,
dan lain-lain. Artinya kata ‘kursi’ tidak bisa diurai menjadi yang lebih kecil
lagi.Makna dari bentuk tunggal itu pun leksikal, atau sesuai dengan
kamus.Misalnya kursi adalah tempat untuk duduk.
- Bentuk Kompleks
Bentuk kompleks adalah satuan yang terdiri dari dua
bentuk.Biasanya terdiri dari imbuhan (afiks) ditambah kata tunggal.
Contoh:
Bersepeda à ber – sepeda
Melangkah à me – langkah
Kedinginan à ke –
dingin – an
Tiga contoh di atas memiliki makna yang berbeda dari
kata tunggalnya. Misalnya bersepeda merupakan pembentukan dari imbuhan depan
(prefiks) ber- ditambah dengan kata tunggal ‘sepeda’. Artinya, bersepeda
menjadi kata kerja dan memiliki makna ‘mengendarai sepeda sebagai alat
transportasi tanpa mesin atau yang biasa dikendarai untuk keperluan jalan-jalan
atau olahraga’.Sementara bentuk asalnya ‘sepeda’ bermakna ‘salah satu jenis
kendaraan beroda dua yang tak memerlukan BBM’. Hal yang sama terjadi pada
contoh ‘melangkah’ dan ‘kedinginan’.
- Satuan Gramatikal Bebas dan Satuan Gramatikal Terikat
Satuan gramatikal bebas yakni satuan yang dapat
berdiri sendiri.Artinya tanpa membutuhkan imbuhan pun, satuan tersebut memiliki
makna. Misalnya kerja, belajar, gunung, air, minum, dan lain- lain.Sementara
satuan gramatikal terikat yakni satuan yang tidak dapat berdiri sendiri. Satuan
ini bisa membutuhkan satuan lain agar menghasilkan kata atau kalimat yang
bermakna. Biasanya satuan gramatikal bebas ini berupa afiks (imbuhan),
preposisi (kata depan) dan konjungsi (kata hubung). Misalnya, men-, ke, di,
pada, juang, lalu, dan, kemudian, dan lain-lain.
- Morfem
Morfem adalah satuan terkecil yang membedakan arti.
Morfem bisa merupakan bentuk tunggal, bentuk kompleks, atau hasil dari proses
gramatikal.
Contohnya:
Sekolah, kampus, bunga
à satu morfem
Bernyanyi, berlalu,
menari à dua morfem
- Deretan Morfologis
Deretan morfologis adalah proses atau rumusan untuk
mengetahui bentuk asal dan bentuk dasar., bentuk asal adalah satuan terkecil
yang menjadi asal suatu kata. Sementara bentuk dasar adalah satuan baik yang
tunggal maupun satuan kompleks, yang menjadi bentukan bagi yang lebih besar.
Contoh bentuk asal:
Berpakaian = pakai
(bentuk asal)
Berperikemanusiaan = manusia (bentuk asal)
Menjangkiti= jangkit (bentuk asal)
Contoh bentuk dasar:
Berpakaian = pakaian
(bentuk dasar)
Berprikemanusiaan = kemanusiaan(bentuk dasar)
Menjangkiti = jangkiti (bentuk dasar)
PENGEMBANGAN
ISTILAH
Istilah memiliki makna
yang tepat dan cermat serta digunakan untuk satu bidang tertentu, sedangkan
nama masih bersifat umum. Hal ini tercermin dari kata leinga dan kuping yang
menurut umum merupakan suatu kesatuan makna.Yakni alat pendengaran.Namun di bidang
kedokteran, telinga dan kuping ini adalah kata yang memiliki makna yang
berbeda.Telinga merupakan sebutan untuk alat pendengaran bagian dalam,
sementara kuping adalah alat pendengaran bagian luar.
Salah satu dalam upaya pengembangan atau pembentukan istilah baru adalah
dengan memanfaatkan kosakata bahasa Indonesia yang ada dengan jalan memberi
makna, entah dengan menyempitkan makna kata tersebut, meluaskan, maupun memberi
arti baru sama sekali. Misalnya kata papan
yang semula bermakna ‘lempengan kayu (besi dan sebagainya) tipis, kini
diangkat istilah untuk makna ‘pemahaman’ kata sandang yang semula bermakna ‘selendang’ kini diangkat istilah
untuk makna ‘pakaian’ dan kata teras yang
semula bermakna ‘inti kayu’ atau ‘saripati kayu’ kini diangkat menjadi unsur
pembentuk istilah untuk makna ‘utama’ atau ‘pimpinan’. Maka itu pejabat teras berarti pejabat utama atau
‘pejabat yang merupakan pimpinan’.
BAB III
METODE PENELITIAN
JENIS PENELITIAN
Dalam
penulisan di penelitian ini kami
menggunakan metode kualitatif dimana dalam penelitian ini lebih
menekankan pada makna dan proses daripada hasil suatu aktivitas. Metode dalam
kamus besar bahasa Indonesia adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik
untuk mencapai maksud. Data kualitatif adalah data yang dapat mencakup hampir
semua data non-numerik. Data ini dapat menggunakan kata-kata untuk
menggambarkan fakta dan fenomena yang diamati.
Menurut Bogdan dan Taylor (L.J. Maleong, 2011) metode penelitian kualitatif
sebagai prosedur penelitian yang manghasilkan data deskriptif beupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Selain
itu, metode penelitian kualitatif menurut Syaodih Nana, (2007:60) adalah cara
untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena peristiwa, aktifitas sosial,
sikap kepercayaan, persepsi, pemikiran
orang secara individual atau kelompok.
Sugiono (2008:15) bahwa penelitian kualitatif deskriptif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositifisme yang biasanya
digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif alamiah dimana peneliti berperan
sebagai instrumen kunci .sementara itu, nawawi dan martini (1994:73)
mendefinisikan metode deskriptif sebagai metode yang melukiskan suatu keadaan
objektif atau peristiwa tertentu berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana mestinya yang kemudian diiringi dengan upaya pengambilan kesimpulan
umum berdasarkan fakta-fakta historis tersebut. Sedangkan menurut Winarno (Dadang
supardan, 2000:103) adalah suatu penelitian yang tertuju pada penelaan masalah
yang ada pada masa sekarang.
Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang hendaknya
menjadi pedoman oleh peneliti, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Bogdan dan Biklen (1982:27-29) bahwa
karakteristik penelitian kualitatif diantaranya:
1.
Peneliti
sendiri sebagai instrumen utama untuk mendatangi secara langsung sumber data.
2. Mengimplementasikan
data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung kata-kata daripada
angka.
3.
Menjelaskan
bahwa hasil penelitian lebih menekankan kepada proses tidak semata-mata kepada
hasil.
4.
Melalui
analisis induktif, peneliti mengungkapkan makna dari keadaan yang terjadi.
5.
Mengungkapkan
makna sebagai hal yang esensial dari pendekatan kualitatif.
Sumber
data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer
adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama)contohnya,contoh
yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel,
atau juga hasil wawancara peneliti dengan narasumber. Sementara data sekunder
adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang ada.contohnya catatan atau
dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji, laporan keuangan publikasi
perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh dari majalah, koran, dan
lain sebagainya.
Sumber
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah surat kabardalam salah satu
berita jawa pos metropolis “mulai terapkan parkir meter untuk umum” dalam surat
kabar jawa pos, jumat, 3 februari 2017,
halaman 26.
INSTRUMEN
ANALISIS DATA
Sugiono
(2009:305-308) mengemukakan instrumen penelitian adalah alat yaitu peneliti
sendiri atau fasilitas yang digunakan dalam pengumpulan data agar pengerjaannya
lebih mudah dan hasilnya lebih mudah dalam arti lebih cermat, lengkap dan
sistematis sehingga akan mudah diolah. Dalam penelitian kualitatif, yang
menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri sehingga
peneliti harus “divalidasi”. Validasi terhadap peneliti meliputi; pemahaman
metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti,
kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian baik secara akademik maupun
logiknya.
Peneliti
kualitatif sebagai human instrumen berfungsi
menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan
pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan
membuat kesimpulan atas temuannya. Peneliti sebagai
instrumen atau alat penelitian karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat
bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya
bermakna atau tidak bagi penelitian,
2.
Peneliti
sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat
mengumpulkan aneka ragam data sekaligus,
3. Tiap
situasi merupakan keseluruhan artinyatidak ada suatu instrumen berupa test atau
angket yng dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia.
4.
Suatu
situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan
pengetahuan semata dan untuk memahaminya, kita perlu sering merasakannya, menyelaminya
berdasarkan pengetahuan kita,
5. Peneliti
sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat
menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah
pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika,
6. Hanya manusia sebagai instrumen dapat
mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan
menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan,
perbaikan atau perlakuan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN
HASIL
PENELITIAN
Banyak ditemukan data dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017. Dari sembilan sebab-sebab
perubahan makna yang ada dalam buku Pengantar Semantik Bahasa Indonesia
karangan Abdul Chaer yang terdiri dari: (1) Perkembangan dalam Ilmu dan
Teknologi; (2) Perkembangan Sosial dan Budaya; (3) Perbedaan Bidang Pemakaian;
(4) Adanya Asosiasi; (5) Pertukaran Tanggapan Indra; (6) Perbedaan Tanggapan;
(7) Adanya Penyingkatan; (8) Proses Gramatikal; dan (9) Pengembangan Istilah,
kami sebagai peneliti hanya menemukan beberapa faktor penyebab
perubahan makna tersebut:
Sebab-sebab Perubahan Makna dalam
Berita Surya Female Cutting Atasan
Lebih Seksi
Jumat, 10 Maret 2017
|
Perbedaan Bidang Pemakaian
|
Pertukaran Tanggapan Indra
|
Proses Gramatikal
|
Adanya Penyingkatan
|
Pengembangan Istilah
|
Berikut
adalah hasil
penelitiannyayang ditemukan dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017:
1. Perbedaan Bidang Pemakaian
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu
kata saja yang mengalami perubahan makna dalam perbedaan bidang pemakaian pada
kata “potong”.
2. Pertukaran Tanggapan Indra
Dalam Berita Surya
Female Cutting Atasan Lebih Seksi Jumat,
10 Maret 2017 hanya ditemukan satu kata saja yang mengalami perubahan makna
dalam pertukaran
tanggapan indra pada kalimat “Hiasan kepala yang manis”.
3. Adanya Penyingkatan
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu
kata saja yang mengalami perubahan makna dalam adanya
penyingkatan pada:
-
Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia
-
Surabaya Fashion Trend
4. Proses Gramatikal
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu
kata saja yang mengalami perubahan makna dalam proses
gramatikal pada
bentuk tunggal, bentuk kompleks, satuan gramatikal bebas dan terikat, morefem,
dan deretan morfologis.
5.
Pengembangan
Istilah
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu
kata saja yang mengalami perubahan makna dalam pengembangan
istilah pada
kata “gaya”
PEMBAHASAN
Dalam pembahasan
ini, kami sebagai peneliti akan membahas secara keseluruhan sesuai dengan
sebab-sebab perubahan makna dalam buku
Pengantar Semantik Bahasa Indonesia karangan Abdul Chaer yang terdiri dari: (1)
Perkembangan dalam Ilmu dan Teknologi; (2) Perkembangan Sosial dan Budaya; (3)
Perbedaan Bidang Pemakaian; (4) Adanya Asosiasi; (5) Pertukaran Tanggapan
Indra; (6) Perbedaan Tanggapan; (7) Adanya Penyingkatan; (8) Proses Gramatikal;
dan (9) Pengembangan Istilah.
Berikut pembahasan berdasarkan rincian data yang ditemukan dalamberita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017
Perkembangan
dalam Ilmu dan Teknologi
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk
dianalisis dalam berita Surya Female Cutting Atasan
lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017.
Perkembangan
Sosial dan Budaya
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk
dianalisis dalam berita Surya Female Cutting Atasan
lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017.
Perbedaan
Bidang Pemakaian
Perbedaan
makna berdasarkan bidang pemakaian maksudnya adalah kata-kata tersebut bisa
jadi mempunyai arti yang tidak sama dengan arti dalam bidang asalnya. Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang
tertentu itu dalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat terbantu dari
bidangnya: dan digunakan dalam bidang lain untuk menjadi kosa kata umum. Oleh
karena itu, kata-kata tersebut menjadi memiliki makna baru atau makna lain di samping makna aslinya
(makna yang berlaku dalam bidangnya).
Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017 ditemukan data yakni pada kata:
-
Potongan
Yang terdapat pada kutipan
“Soal potongan, Dyan memilih bagian
atas lebih seksi”.
Dalam bidang fashion kata “potongan” memiliki makna ‘hasil
memotong (memangkas, menggunting)’.Namun, kini banyak digunakan dalam
bidang-bidang lainnya dengan makna ‘pengurangan’ seperti tampak digunakan dalam
frase potongan harga, potong gaji, dan
upah dipotong.
Adanya
Asosiasi
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk
dianalisis dalam berita Surya Female Cutting Atasan
lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017.
Pertukaran
Tanggapan Indra
Alat indra kita yang lima sebenarnya sudah mempunyai
tugas-tugas tertentu untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia
ini.Namun, dalam penggunaan bahasa banyak terjadi kasus pertukaran tanggapan
antara indra yang satu dengan indra yang lain.
Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017 ditemukan data yakni pada kalimat:
-
Hiasan kepala
yang manis
Manis adalah urusan indra perasa lidah, tetapi dalam data
di atas menjadi tanggapan indra pengelihatan mata.
Keadaan ini, pertukaran alat indra penanggap,
biasanya disebut dengan istilah sinestesia. Istilah ini berasal dari bahasa
Yunani sun artinya ‘sama’ dan aisthetika artinya ‘tampak’.
Perbedaan Tanggapan
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk dianalisis
dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017.
Adanya
Penyingkatan
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan
yang karena sering digunakan maka kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan
secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu maka
kemudian orang lebih banyak menggunakan singkatannya saja daripada menggunakan
bentuk utuhnya.
Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017 ditemukan data yakni pada:
-
Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia
Yang disingkat menjadi APPMI
-
Surabaya Fashion Trend
Yang disingkat menjadi SFT
Proses
Gramatikal
Proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan
komposisi (penggabungan kata) akan menyebabkan pula perubahan makna.Proses
gramatikal adalah proses terbentuknya sebuah kata, frase, sampai wacana, untuk
memahami proses gramatikal. Proses gramatikal ikut serta dalam mengubah satu
makna menjadi makna yang berbeda atau makna yang lain.
Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017 ditemukan data yakni pada:
- Busana
Kata
“busana” termasuk dalam bentuk
tunggal,yaitu bentuk terkecil dan satu-satunya.Artinya kata ‘busana’ tidak bisa
diurai menjadi yang lebih kecil lagi.Makna dari bentuk tunggal itu pun leksikal,
atau sesuai dengan kamus yang memiliki makna pakaian atau baju.
- Bergerak (Ber+gerak)
Kata
“bergerak” termasuk dalam bentuk
kompleks, yaitu satuan yang terdiri dari dua bentuk.Biasanya terdiri dari
imbuhan (afiks) ditambah kata tunggal.
Bergerak merupakan pembentukan dari imbuhan depan
(prefiks) ber- ditambah dengan kata tunggal ‘gerak’. Artinya, bergerak menjadi
kata kerja dan memiliki makna ‘usaha untuk melakukan gerakan tubuh baik dengan
tangan maupun kaki’.Sementara bentuk asalnya ‘gerak’ bermakna ‘perahilan tempat
atau kedudukan’.
- Kata-kata yang termasuk satuan gramatikal bebas (satuan yang dapat berdiri sendiri) artinya tanpa membutuhkan imbuhan pun, satuan tersebut memiliki makna, yaitu:
-
Rambut
-
Kepala
-
Mawar
Sementara
satuan gramatikal terikat (satuan yang tidak dapat berdiri sendiri) artinya satuan ini bisa membutuhkan satuan
lain agar menghasilkan kata atau kalimat yang bermakna. Biasanya satuan
gramatikal bebas ini berupa afiks (imbuhan), preposisi (kata depan) dan konjungsi
(kata hubung). Berikut datanya:
Afiks
|
Preposisi (kata hubung)
|
Konjungsi (kata depan)
|
Menggunakan (mendapat imbuhan
meng-)
|
Sedangkan
|
Untuk
|
Digunakan (mendapat imbuhan di-)
|
Karena
|
|
Kebanyakan (mendapat imbuhan ke-)
|
Tetapi
|
|
Meski
|
||
Dan
|
||
Sehingga
|
- Kata-kata yang termasuk morfem yakni satuan terkecil yang membedakan arti baik secara bentuk tunggal, bentuk kompleks, atau hasil dari proses gramatikal:
Satu Morfem
|
Dua Morfem atau Lebih
|
Bagian
|
Mengutamakan
|
Perhatian
|
Menjadikan
|
Istimewa
|
Membuat
|
Menarik
|
|
Berbeda
|
|
Memperlihatkan
|
- Kata-kata yang termasukderetan morfologis yakni proses atau rumusan untuk mengetahui bentuk asal dan bentuk dasar, yaitu:
Bentuk
Asal:
Menghadirkan = hadir (bentuk
asal)
Dikenakan = kena (bentuk
asal)
Menutupi = tutup (bentuk asal)
Bentuk Dasar:
Menghadirkan = hadirkan
(bentuk dasar)
Dikenakan = kenakan(bentuk
dasar)
Menutupi = tutupi
(bentuk dasar)
Pengembangan
Istilah
Istilah
memiliki makna yang tepat dan cermat serta digunakan untuk satu bidang
tertentu, sedangkan nama masih bersifat umum.Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10
Maret 2017 ditemukan data yakni pada kata:
-
Gaya
Kata “gaya” yang
semula bermakna ‘sikap’ atau ‘gerakan’ kini diangkat menjadi istilah untuk
makna “mode” yang memiliki makna ‘ragam (cara, bentuk) yang terbaru pada suatu
waktu terntentu (tentang pakaian, potongan rambut, corak hiasan, pemakaian
bahasa dan lain sebagainya).
BAB
V
PENUTUP
Dalam buku
karangan Abdul Chaer yang berjudul Pengantar
Semantik Bahasa Indonesia ada sembilansebab-sebab perubahan makna yang
terdiri dari: (1) Perkembangan dalam
Ilmu dan Teknologi; (2) Perkembangan Sosial dan Budaya; (3) Perbedaan Bidang
Pemakaian; (4) Adanya Asosiasi; (5) Pertukaran Tanggapan Indra; (6) Perbedaan
Tanggapan; (7) Adanya Penyingkatan; (8) Proses Gramatikal; dan (9) Pengembangan
Istilah. Makna itu sendiri merupakan suatu arti atau maksud terhadap
sesuatu yang akan dimaknai dalam pemakaian makna.
Dari penelitian yang
kami lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam berita Surya Female Jumat, 10
Maret 2017 terdapat beberapa faktor yang menyebabkan makna berubah yaitu: (1)
Perbedaan Bidang Pemakaian; (2) Pertukaran Tanggapan Indra; (3) Adanya
Penyingkatan; (4) Proses Gramatikal; dan (5) Pengembangan Istilah. Hal ini
dikarenakan kata-kata yang digunakan dalam berita tersebut jika di tinjau lebih
dalam lagi memiliki makna yang berbeda-beda, sehingga memudahkan kami untuk
menganalisisnya sesuai dengan rumusan masalah yang ada.
Saran kami ditujukan pada pembaca makalah penelitian khususnya
masyarakat Indonesia dan mahasiswa hendaklah di zaman yang serba berubah ini
kita lebih tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi khususnya dalam
bidang bahasa Indonesia. Kita harus melestarikan bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional dan kita harus menggunakan bahasa Indonesia dengan sebaik
mungkin. Perubahan yang terjadi perlu kita cermati dengan baik agar bahasa
Indonesia tetap terjaga.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2013. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Wiwit Purwanto 10 Maret, 2017. Cutting Atasan Lebih Seksi. Surya Female, hlm 6
repository.upi.edu/2133/4/T_BIND_1101600_Chapter1.pdf. (28 Maret 2017, pukul 09.50)
http://ahmadzulbahasa.blogspot.com/2010/09/tugas-makalah-semantik.html?m=1 (28 Maret 2017, pukul 10.00)
repository.radenintan.ac.id/246/4/BAB_III.pdf (31 Maret 2017, pukul 09.30)
http://www.bimbie.com/perubahan-makna.htm (04 April 2017, pukul 14.44)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar