Total Tayangan Halaman

Kamis, 08 Juni 2017

SEMANTIK



BAB I
PENDAHULUAN

1.1            LATAR BELAKANG
Semantik memiliki peran penting bagi linguistik khususnya berkaitan dengan makna.Kata semantik dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda yang berarti "tanda” atau “lambang”). Kata kerjanya adalah semaino yang beararti “menandai”atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang disini sebagai padanan kata sema adalah tanda linguistikseperti yang dikemukakan oleh Ferdinan de Sausure (Chaer, 2013:2),yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu. Kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang; sedangkan yang ditandai atau yang dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang di tunjuk. Kata semantik ini kemudian digunakan pada bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna dalam bahasa. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik.
Menurut Dale (dalam Tarigan, 1986:166-167), semantik adalah telaah makna. Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat. Oleh karena itu semantik mencakup makna-makna kata, perkembanganya dan perubahanya.
Sejalan dengan berkembangnya zaman perkembangan bahasa pun juga ikut berkembang dan mengalami pergeseran-pergeseran makna. Pergeseran makna bahasa memang tidak dapat dihindari, hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang nantinya akan di bahas secara mendalam di dalampembahasan.
Berbahasa adalah proses menyampaikan makna oleh penutur kepada pendengar melalui satu atau serangkaian ujaran. Suatu proses berbahasa dikatakan berjalan dengan baik apabila makna yang dikirimkan penutur di persepsikan oleh pendengar persis dalam yang dimaksudkan oleh penutur. Kemampuan yang memadai dari penutur dalam memproduksi ujaran dan kemampuan yang memadai dari pendengar dalam mempersepsikan ujaran akan menyebabkan makna-makna yang dikirimkan penutur dapat diterima dengan tepat oleh pendengar. Seandainya sebuah makna kata berubah, maka perubahan tersebut tidak akan mengurangi pemahaman jika penutur dan pendengar tetap memiliki kemampuan untuk memahami perubahan makna kata tersebut.
Makna kata merupakan bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik.yang mempelajari tentang makna suatu kata dalam bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia makna adalah arti, maksud pembicara atau penulis, pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Dalam pembahasan sebelumnya sudah disebutkan bahwa makna sebuah kata secara sinkronis (bersangkutan dengan peristiwa yang terjadi dalam suatu masa yang terbatas) tidak akan berubah. Pernyataan ini menyiratkan juga pengertian bahwa jika secara sinkronis makna sebuah kata tidak akan berubah maka secara diakronis (Ling berkenaan dengan pendekatan terhadap bahasa dengan melihat perkembangan sepanjang waktu bersifat historis) ada kemungkinan bisa berubah. Jadi, sebuah kata yang pada suatu waktu dulu bermakna ‘A’, misalnya, maka pada waktu sekarang bisa bermakna ‘B’, dan pada suatu waktu kelak mungkin bermakna ‘C’ atau bermakna ‘D’.
Pernyataan bahwa makna sebuah kata secara sinkronis dapat berubah menyiratkan pula pengertian bahwa tidak setiap kata maknanya harus atau akan berubah secara diakronis. Perubahan makna sebuah kata dapat disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan dalam ilmu dan teknologi, perkembangan sosial dan budaya, perbedaan bidang pemakaian, adanya asosiasi, pertukaran tanggapan indra, perbedaan tanggapan, adanya peningkatan, proses gramatikal, dan pengembangan istilah. Banyak kata yang maknanya sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.Malah jumlahnya mungkin lebih banyak daripada yang berubah atau pernah berubah.
Akan tetapi seiring perkembangan zaman sering kita jumpai bahasa dalam media massa yang digunakan tidak seperti umumnya bahasa tersebut digunakan. Akhirnya, masyarakat pembacalah yang menentukan sendiri makna yang muncul dari ketidak umuman penggunaan bahasa tersebut, sehingga terjadilah perubahan makna kata yang digunakan dalam media massa. Penggunaan bahasa yang memungkinkan terjadinya perubahan makna, diantaranya terdapat pada berita dalam surat kabar. Kata-kata dalam konteks kalimat di surat kabar tidaklah mengandung makna yang sebenarnya, tetapi mengandung makna kiasan. Kata-kata tersebut dimunculkan untuk memberikan kesan yang lebih hidup sehingga berita dalam surat kabar lebih indah, lebih menarik, bahkan dapat mempengaruhi orang yang membacanya. Kata-kata tersebut memunculkan makna baru sebagai pengalihan dari persamaan atau perbandingan dengan makna kata yang sebenarnya.
Sebagai sarana komunikasi, media massa berfungsi untuk menyampaikan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Surat kabar, televisi, dan film pada umumnya adalah konsusmsi masyarakat secara keseluruhan. Media massa sarat dengan tujuan dan manfaat, baik bagi pengirim maupun penerimanya. Media massa adalah bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri tidak netral, tidak bebas konteks, tidak bebas nilai, melainkan sarat dengan kepentingan inheren. Wartawan dan editor bebas memilih dan memanfaatkan kosa kata tertentu, baik dengan tujuan untuk memperoleh popularitas maupun memberikan penegasan tertentu, bahkan untuk juga membelokkan kebenaran.
Peranan media massa bertambah penting dengan adanya wilayah yang sangat luas terdiri dari pulau-pulau sedangkan bangsa indonesia memiliki satu bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia, media massalah, khususnya surat kabar memegang peranan penting untuk mempersatukan bangsa Indonesia dengan bahasanya. Media massa mempercepat penyebaran istilah dan kata-kata baru, singkatan dan akronim, dialek dan cara-cara pengucapan tertentu. Tidak terhitung jumlah istilah yang berhasil dipopulerkan oleh media massa. Mulai dari pemilihan kata-kata, penyusunan kalimat, sampai penggunaan gaya bahasa, disesuaikan dengan kepentingan tertentu. Demikian juga istilah-istilah yang terdapat pada berita metropolis dalam surat kabar.
Perubahan makna suatu kata dapat terjadi karena perbedaan gaya bahasa yang digunakan penulis. Penulis yang kreatif akan mengemukakan gagasan-gagasan baru dan menggunakan gaya yang membedakan dirinya dengan penulis lain. Dengan kata lain, penyebab terjadinya perubahan bahasa ditentukan oleh kreatifitas seorang penulis.
Surat kabar memiliki keunggulan dibangdingkan media lain. Hal ini karena bahasa tulisan yang digunakan surat kabar memberikan peluang yang sangat besar kepada manusia untuk berinteraksi dengan diri sendiri, berimajinasi, mengabstraksikan informasi apapun yang berasal dari surat kabar. Isi surat kabar memberikan dorongan yang lebih besar kepada manusia untuk kreatif dibandingkan dengan radio ataupun TV. Jika tayangan TV adalah “bahan jadi” yang kita telan begitu saja, maka isi surat kabar adalah “ bahan setengah jadi” yang harus kita olah sebelum kita memahaminya. Kita dapat menguraikan, menyimpulkan, menggeneralisasikan, atau meringkaskan informasi dalam surat kabar. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki surat kabar dengan penggunaan bahasa yang menarik, menjadi perhatian berbagai kalangan, intelektual untuk menelitinya.
Berdasarkan uraian diatas, kami sebagai penulis akan melakukan penelitian tentang sabab-sebab perubahan makna pada sebuah berita Surya Female “Cutting Atasan Lebih Seksi”, Jumat, 10 Maret 2017, halaman 6.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakangdi atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana sebab-sebab perubahan makna perkembangan dalam ilmu dan teknologi pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
2.   Bagaimanasebab-sebab perubahan makna perkembangan dalam sosial dan budaya pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
3.    Bagaimana sebab-sebab perubahan makna perbedaan bidang pemakaian pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
4.  Bagaimana sebab-sebab perubahan makna adanya asosiasi pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
5.     Bagaimana sebab-sebab perubahan makna pertukaran tanggapan indra pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
6.  Bagaiamanasebab-sebab perubahan makna perbedaan tanggapan pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
7.      Bagaimanasebab-sebab perubahan makna adanya penyingkatan pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
8.    Bagaimana sebab-sebab perubahan makna proses gramatikal pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?
9.  Bagaimana sebab-sebab perubahan makna pengembangan pada surat kabar Surya Female, Jumat, 10 Maret 2017?

1.2         MANFAAT PENELITIAN
Ada dua manfaat yang harus dicapai dalam penelitian ini, yaitu manfaat teoretis danmanfaat praktis.
a)         Manfaat teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan serta wawasan lebih mengenai ilmu semantik khususnya tentang makna dan mampu memahami sebab-sebab perubahan makna lebih mendalam.
b)        Manfaat praktis
Penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan informasi pada pembaca tentang sebab-sebab perubahan makna dan dapat dijadikan bahan informasi bagi guru bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar.

1.4       TUJUAN PENELITIAN
            Dari rumusan masalah di atas yang akan dibahas, berikut adalah tujuan penelitiannya:
1.      Mengkaji perkembangan dalam ilmu dan teknologi yang mempengaruhi terjadinya perubahan makna sebuah kata dalam surat kabar.
2.      Mengkaji perkembangan dalam sosial dan budayayang mempengaruhi terjadinya perubahan makna sebuah kata dalam surat kabar.




BAB II
KAJIAN TEORI

PERKEMBANGAN DALAM ILMU DAN TEKNOLOGI
Perkembangan dalam bidang ilmu dan kemajuan dalam bidang teknologi dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna sebuah kata. Di sini sebuah kata yang tadinya mengandung konsep makna mengenai sesuatu yang sederhana, tetap digunakan walaupun konsep makna yang dikandung telah berubah sebagai akibat dari pandang baru, atau teori baru dalam suatu bidang ilmu atau sebagai akibat dalam perkembangan teknologi. Perubahan makna kata sastra dan makna ‘tulisan’ sampai pada makna ‘karya imaginatif’ adalah salah satu contoh perkembangan bidang keilmuan. Pandangan-pandangan teori baru mengenai sastra menyebabkan makna kata sastra itu berubah. Pandangan baru atau teori barulah yang menyebabkan kata sastra yang tadinya bermakna buku yang baik isinya dan baik bahasanya ‘menjadi berarti’ karya yang bersifat imaginatif kreatif.  
Sebagai akibat perkembangan teknologi kita lihat pada kata berlayar yang pada awalnya bermakna ‘perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar’. Walaupun kini kapal-kapal besar tidak lagi menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan tenaga mesin, malah juga tenaga nuklir, namun kata berlayar masih digunakan. Nama perusahaannya pun masih bernama pelayaran seperti Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Malah lebih jauh lagi bagi umat Islam di Indonesia kata berlayar diberi makna ‘pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah’. Kini pun, meskipun ke Mekkah sudah tidak lagi menggunakan kapal laut, sudah diganti dengan kapal terbang, masih terdengar ucapan “Ínsya Allah tahun depan kami akan berlayar” belum terdengar ucapan “Insya Allah tahun depan kami akan terbang”.

PERKEMBANGAN SOSIAL DAN BUDAYA
Perkembangan dalam bidang sosial kemasyarakatan dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna. Di sini sama dengan yang terjadi akibat perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi, sebuah kata yang pada mulanya bermakna ‘A’, lalu berubah menjadi bermakna ‘B’ atau ‘C’. Jadi, bentuk katanya tetap sama tetapi konsep makna yang dikandungnya sudah berubah. Misalnya kata saudara dalam bahasa Sanskerta bermakna ‘seperut’ atau ‘satu kandungan’. Kini ata saudara, walaupun masih juga digunakan dalam arti ‘orang yang lahir dari kandungan yang sama’ seperti dalam kalimat Saya mempunyai seorang saudara di sana, tetapi digunakan juga untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang sama. Misalnya dalam kalimat Surat Saudara sudah saya terima, atau kalimat Di mana Saudara dilahirkan?
Selain kata saudara hampir semua kata atau istilah perkerabatan seperti bapak, ibu, kakak, adik dan nenek telah pula digunakan sebagai kata sapaan untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang pantas disebut adik, dan pantas disebut nenek. Malah kata bapak dan ibu  tidak hanya digunakan untuk menyebut atau menyapa orang yang menurut usianya pantas disebut bapak atau ibu, tetapi juga untuk menyebut atau menyapa orang yang mempunyai kedudukan atau status sosial yang lebih tinggi, walaupun usianya mungkin lebih juah muda daripada usia orang yang menyapa atau menyebutnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Di sinilah barangkali sebab dari persoalannya. Dulu sebelum zaman merdeka (dan juga beberapa tahun setelah kemerdekaan) utnuk menyebut dan menyapa orang yang lebih tinggi status sosialnya digunakan kata tuan untuk laki-laki dan nyonya untuk perempuan. Kemudian setelah kemerdekaan dan timbulnya kesadaran bahwa sebutan tuan  berbau kolonial kita menggantiannya dengan kata bapak dan ibu. Dewasa ini kata tuan sudah hampir tidak digunakan lagi. Kata bapak dan ibu ini memang berbeda dengan kata kaka, adik, dan nenek yang memang digunakan terhadap orang yang menurut usianya pantas disebut kakak, adik, dan nenek.

PERBEDAAN BIDANG PEMAKAIAN
Perbedaan makna berdasarkan bidang pemakaian maksudnya adalah kata-kata tersebut bisa jadi mempunyai arti yang tidak sama dengan arti dalam bidang asalnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa makna baru kata-kata tersebut masih ada kaitannya dengan makna asli.Misalnya dalam bidang Sastra, istilah- istilah yang identik adalah istilah seperti cerpen, novel, puisi, sajak, drama, intrinsik, ekstrinsik, latar, watak, dan sebagainya.Sementara di bidang olahraga ada istilah gol, gawang, basket, bola, sepak bola, lempar lembing, dan sebagainya.
Perbedaan bidang pemakaian pada kata ‘watak’ dalam bidang sastra, berbeda dengan penggunaan kata ‘watak’ di bidang umum atau katakanlah bidang psikologi.Watak dalam bidang sastra bermakna karakter dari tokoh fiksi/rekaan dalam sebuah karya sastra baik itu cerpen atau novel.Sementara ‘watak’ dalam dunia psikologi artinya kepribadian seorang manusia baik sebagai obyek penelitian maupun manusia yang berdiri utuh.
Dalam bagian yang lalu sudah dibicarakan bahwa setiap bidang kehidupan atau kegiatan memiliki kosa kata tersendiri yang hanya dikenal dan digunakan dengan makna tertentu dalam bidang tersebut. Seumpanya dalam bidang pertanian ada kata-kata benih, menuai, hama. Dalam pendidikan formal di sekolah da kata-kata murid, guru, ujian, menyalin, menyontek, membaca, dan menghapal. Dalam bidang agama Islam ada kata-kata seperti iman, imam, khotib, adzan, halal, haram, subuh, puasa, zakat, dan fitrah. Sedangkan dalam bidang pelayaran ada kata-kata seperti sauh, berlabuh, haluan, buritan, nahkota, palka, pelabuhan, dan juru mudi.
Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang tertentu itu dalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat terbantu dari bidangnya: dan digunakan dalam bidang lain untuk menjadi kosa kata umum. Oleh karena itu, kata-kata tersebut menjadi memiliki makna  baru atau makna lain di samping makna aslinya (makna yang berlaku dalam bidangnya). Misalnya kata menggarap  yang berasal dari bidanh pertanian dengan segala macam derivasinya, seperti tampak dalam frase  menggarap sawah, tanah garapan, dan petani penggarap, kini banyak digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna ‘mengerjakan’ seperti tampak digunakan dalam frase menggarap skripsi, menggarap usul para anggota, menggarap generasi muda, dan menggarap naskan drama. Kata membajak dalam segala bentuk derivasinya seperti, pembajakan, dibajak, bajakan, pembajak, yang berasal dari bidang pertanian, kini juga telah bisa digunakan dalam bidang lain dengan makna ‘melakukan dengan kekerasan atau paksaan untuk memperoleh keuntungan’ seperti tampak dalam frase  membajak pesawat terbang, buku bajakan, dan kaset bajakan.  Katan jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas dan makna ‘arah’ kini juga digunakan dalam bidang pendidikan  dengan makna ‘seksi’ atau ‘bagian bidang ilmu’seperti dalam bidang frase fakultas teknik jurusan elektro, dan fakultas hukum jurusan perdata.contoh lain kata menggembleng yang berasal dari bidang pandai besi dan dengan arti  ‘menempa’ kini dipakai juga dalam bidang politi dengan makna ‘memasukkan semangat’ seperti kita lihat dalam frase menggembleng generasi muda, gemblengan yang berhasil dari pimpinan orde baru, dan mereka digembleng selama satu tahun.
Dari contoh-contoh diatas sekali lagi bisa dikatakan bahwa karena kata-kata itu digunakan dalam bidang lain maka kata-kata itu mempunyai arti lain yang tidak sama dengan arti dalam bidang atau lingkungan aslinya. Hanya perlu dilihat bahwa makna baru kata-kata tersebut masih ada kaitannya dengan makna asli yang digunakan  dalam bidang asalnya. Kata-kata tersebut digunakan dalam bidang lain secara metaforis, atau secara perbandingan. Kata menggarap dalam frase menggarap skripsi adalah digunakan secara metaforis, sedangkan kata menggarap dalam frase menggarap sawah bukan secara metaforis.
Kesimpulan lain yang bisa ditarik dari uraian diatas adalah bahwa makna kata yang digunakan bukan dalam bidangnya itu dan makna kata yang digunakan dalam bidang aslinya masih berada dalam poliseminya karena makna-makna tersebut saling berkaitan atau masih ada persamaan antara makna satu dengan makna yang lainnya.

ADANYA ASOSIASI
Asosiasi biasa disebut persamaan, ikut mengubah sebuah makna kata. Perubahan makna ini terjadi karena adanya persamaan antara kata yang digunakan atau hal lain yang berkaitan dengan kata tersebut sehingga menjadi makna baru. Kata-kata yang digunakan di luar bidangnya ini mempunyai hubungan atau pertautan makna dengan makna yang digunakan di bidang asalnya.Ini berbeda dengan perubahan makna karena pemakaian makna baru.
Kata-kata yang digunakan di luar bidangnya, seperti dibicarakan di atas masih ada hubungan atau pertautan maknanya dengan makna yang digunakan pada bidang asalnya. Umpamanya kata mencatut yang berasal dari bidang atau lingkungan perbengkelan dan pertukangan mempunyai makna bekerja dengan menggunakan ‘catut’. Dengan menggunakan catut ini maka pekerjaan yang dilakukan, misalnya mencabut paku,  menjadi dapat dilakukan dengan mudah. Oleh karena itu, kalau digunakan dalam frase seperti mencatut karcis akan memiliki makna ‘memperoleh keuntungan dengan mudah melalui jual beli karcis’.
Agak berbeda dengan perubahan makna yang terjadi sebagai akibat penggunaan dalam bidang yang lain, disini makna baru yang muncul adalah berkaitan dengan hal atau peristiwa lain yang berkenaan dengan kata tersebut. Umpamanya kata amplop yang berasal dari bidang administrasi atau surat-menyurat, makna asalnya adalah ‘sampul surat’. Ke dalam amplop itu selain biasa dimasukkan surat tetapi bisa pula dimasukkan benda lain, misalnya uang. Oleh karena itu, dalam kalimat Beri saja amplopmaka urusan pasti beres kata amplop di situ bermakna ‘uang’ sebab amplop yang dimaksud bukan berisi surat atau tidak berisi apa-apa melainkan berisi uang sebagai sogokan.
Asosiasi antara amplop dengan uang ini adalah berkenaan dengan wadah. Jadi, menyebut wadahnya yaitu amplop tetapi yang dimaksud adalah isinya, yaitu uang. Contoh lain kalau kita masuk ke rumah makan dan setelah menghabiskan secangkir kopi, lalu mengatakan minta secangkir lagi maka pemilik atau pelayan rumah makan itu sudah mengerti apa yang kita maksud. Dia tidak akan memberikan satu cangkir kosong melainkan satu cangkir yang sudah berisi kopi yang diseduh dengan air panas diberi gula dan sebagainya.
Selain asosiasi yang berkenaan dengan data ada pula asosiasi yang berkenaan dengan waktu. Misalnya perayaan 17 Agustus maksudnya tentu ‘perayaan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia’ karena proklamasi tersebut terjadi pada tanggal 17 Agustus tersebut. Jadi di sini, yang disebut waktunya tetapi yang dimaksud adalah peristiwanya. Contoh lain, upacara 1 Oktober, tentu yang dimaksud adalah upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, karena pada tanggal 1 Oktober (1965) Pancasila yang menjadi dasar falsafah dan dasar negara kita telah terbukti memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga penyelewengan G 30 S/PKI dapat digagalkan.

PERTUKARAN TANGGAPAN INDRA
Alat indra kita yang lima sebenarnya sudah mempunyai tugas-tugas tertentu untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini. Umpamanya rasa pahit, getir, dan manis harus ditanggap oleh perasa lidah. Rasa panas, dingi dan sejuk harus ditanggap oleh alat perasa pada kulit. Gejala yang berkenaan dengan cahaya seperti terang, gelap, dan remang-remang harus ditanggap dengan alat indra mata; sedangkan yang berkenaan dengan bau harus ditanggap dengan alat indra penciuman, yaitu hidung.
Namun, dalam penggunaan bahasa banyak terjadi kasus pertukaran tanggapan antara indra yang satu dengan indra yang lain. Rasa pedas, misalnya, yang seharusnya ditanggap dengan alat idra perasa pada lidah, tertukar menjadi ditanggap oleh alat indra pendengaran seperti tampak dalam pujaran kata-katanya cukup pedas. Atau kasar yang harus ditanggap dengan alat indra perasa pada kulit, ditanggap oleh alat indra penglihatan mata, seperti dalam kalimat tingkah lakunya kasar. Keadaan ini, pertukaran alat indra penanggap, biasanya disebut dengan istilah sinestesia. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani sun artinya ‘sama’ dan aisthetika artinya ‘tampak’. Contoh lain perhatikan kalimat-kalimat berikut:
-          Suaranya sedap didengar
-          Warnanya enak dipandang
-          Suaranya berat sekali
-          Bentuk manis
-          Lukisannya sangat ribut
-          Kedengarannya memang nikmat
Sedap adalah urusan indra perasa lidah, tetapi dalam contoh di atas menjadi tanggapan indra pendengar; enak adalah juga urusan indra perasa lidah, tetapi dalam contoh di atas menjadi tanggapan indra penglihatan yaitu mata; suara adalah urusan indra pendengar tetapi dalam contoh di atas menjadi urusan perasa. Begitu juga contoh lain, manis, ribut, dan nikmat yang ditanggap oleh indra yang bukan seharusnya.


PERBEDAAN TANGGAPAN
Perbedaan tanggapan memunculkan perubahan makna.Setiap unsur leksikal atau kata sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna leksikal yang tetap.namun karena pandangan hidup dan ukuran dan ukuran dalam norma kehidupan di dalam masyarakat maka banyak kata yang menjadi memiliki nilai rasa yang “rendah”, kurang menyenangkan. Di samping itu ada juga yang memiliki nilai rasa yang “tinggi”, atau yang mengenakan. Kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah ini lazim disebut peyoratif, sedangkan yang nilainya naik menjadi tinggi disebut amelioratif. Kata bini dewasa ini dianggap peyoratif, sedangkan kata istri dianggap amelioratif, kata laki dianggap peyoratif berbeda dengan suami  yang dianggap amelioratif . contoh lain kata bang (seperti dalam bang dul) dianggap peyoratif; sebaliknya kata bung  (seperti dalam Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Gafur) dianggap amelioratif.
Apakah nilai peyoratif dan amelioratif sebuah kata bersifat tetap? Tentu saja tidak. Nilai rasa itu kemungkinan besar Cuma bersifat sinkronis ada kemungkinan bisa berubah. Perkembangan pandangan hidup yang biasanya sejalan dengan perkembangan budaya dan kemasyarakatan dapat memungkinkan terjadinya nilai peyoratif  atau amelioratifnya sebuah kata. Sebagai contoh, kata jamban dulu dianggap bersifat peyoratif oleh karena itu orang tidak mau menggunakanya, dan menggantinya dengan kata kakus atau W.C. tetapi dewasa ini kata jamban itu telah kehilangan sifat peyoratifnya karena pemerintah DKI secara resmi menggunakan lagi kata itu sebagai istilah baku seperti dalam frase jamban keluarga. (tentang nilai rasa lihat lagi 4.3).

ADANYA PENYINGKATAN
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering digunakan maka kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu maka kemudian orang lebih banyak menggunakan singkatannya saja daripada menggunakan bentuk utuhnya. Misalnya, kalau dikatakan Ayahnya meninggal tentu maksudnya adalah meninggal dunia. Begitu juga dengan kata berpulang tentu maksudnya adalah berpulang ke rahmatullah.
Di sini termasuk kata-kata yang disingkat seperti dok, maksudnya ‘dokter’, lok maksunya ‘lokomotif’, dan let maksunya ‘letnan’. Serta bentuk-bentuk yang disebut akronim seperti tilang untuk bukti ‘pelanggaran’, satpam untuk ‘satuan pengaman’, hankam untuk ‘pertahanan keamanan,dan  mendikbud  untuk ‘menteri pendidikan dan kebudayaan’.
Kalau disimak sebetulnya dalam kasus penyingkatan ini bukanlah peristiwa perubahan makna yang terjadi sebab makna konsep. Yang terjadi adalah perubahan bentuk kata. Kata yang semula berbentuk utuh (panjang) disingkt menjadi bentuk tidak utuh (pendek). Malah dalam penyingkatan ini bisa terjadi pula pada bentuk-bentuk yang sudah dipendekkan seperti AMD adalah kependekan dari Abri Masuk Desa, dan Abri itu sendiri adalah kependekan dari Angkatan Bersenjata Rebpublik Indonesia .

PROSES GRAMATIKAL
Proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi (penggabungan kata) akan menyebabkan pula perubahan makna. Tetapi dalam hal ini yang terjadi sebenarnya bukan perubahan makna, sebab makna kata itu sudah berubah sebagai hasil gramatikal. Dalam bagian pendahuluan sudah dibicarakan kalau bentuk berubah maka makna pun akan berubah atau berbeda. Jadi, tidaklah dapat dikatakan kalau dalam hal ini telah terjadi perubahan makna, sebab yang terjadi adalah proses gramatikal, dan proses gramatikal “melahirkan” makna-makna gramatikal.
Proses gramatikal adalah proses terbentuknya sebuah kata, frase, sampai wacana, untuk memahami proses gramatikal. Proses gramatikal ikut serta dalam mengubah satu makna menjadi makna yang berbeda atau makna yang lain kita harus memahami beberapa hal penting yang akan dipaparkan sebagai berikut:
  1. Bentuk Tunggal
Bentuk tunggal adalah bentuk terkecil dan satu-satunya.Artinya tidak bisa diurai lagi karena tidak ada lagi bentuk setelah bentuk terkecil itu. Contoh: kursi, jalan, malam, hijau, kasur, nikmat, dan lain-lain. Artinya kata ‘kursi’ tidak bisa diurai menjadi yang lebih kecil lagi.Makna dari bentuk tunggal itu pun leksikal, atau sesuai dengan kamus.Misalnya kursi adalah tempat untuk duduk.
  1. Bentuk Kompleks
Bentuk kompleks adalah satuan yang terdiri dari dua bentuk.Biasanya terdiri dari imbuhan (afiks) ditambah kata tunggal.
Contoh:
Bersepeda  à ber – sepeda
Melangkah à me –  langkah
Kedinginan à ke – dingin – an
Tiga contoh di atas memiliki makna yang berbeda dari kata tunggalnya. Misalnya bersepeda merupakan pembentukan dari imbuhan depan (prefiks) ber- ditambah dengan kata tunggal ‘sepeda’. Artinya, bersepeda menjadi kata kerja dan memiliki makna ‘mengendarai sepeda sebagai alat transportasi tanpa mesin atau yang biasa dikendarai untuk keperluan jalan-jalan atau olahraga’.Sementara bentuk asalnya ‘sepeda’ bermakna ‘salah satu jenis kendaraan beroda dua yang tak memerlukan BBM’. Hal yang sama terjadi pada contoh ‘melangkah’ dan ‘kedinginan’.
  1. Satuan Gramatikal Bebas dan Satuan Gramatikal Terikat
Satuan gramatikal bebas yakni satuan yang dapat berdiri sendiri.Artinya tanpa membutuhkan imbuhan pun, satuan tersebut memiliki makna. Misalnya kerja, belajar, gunung, air, minum, dan lain- lain.Sementara satuan gramatikal terikat yakni satuan yang tidak dapat berdiri sendiri. Satuan ini bisa membutuhkan satuan lain agar menghasilkan kata atau kalimat yang bermakna. Biasanya satuan gramatikal bebas ini berupa afiks (imbuhan), preposisi (kata depan) dan konjungsi (kata hubung). Misalnya, men-, ke, di, pada, juang, lalu, dan, kemudian, dan lain-lain.
  1. Morfem
Morfem adalah satuan terkecil yang membedakan arti. Morfem bisa merupakan bentuk tunggal, bentuk kompleks, atau hasil dari proses gramatikal.
Contohnya:
Sekolah, kampus, bunga à satu morfem
Bernyanyi, berlalu, menari  à dua morfem
  1. Deretan Morfologis
Deretan morfologis adalah proses atau rumusan untuk mengetahui bentuk asal dan bentuk dasar., bentuk asal adalah satuan terkecil yang menjadi asal suatu kata. Sementara bentuk dasar adalah satuan baik yang tunggal maupun satuan kompleks, yang menjadi bentukan bagi yang lebih besar.
Contoh  bentuk asal:
Berpakaian = pakai (bentuk asal)
Berperikemanusiaan  = manusia (bentuk asal)
Menjangkiti=  jangkit (bentuk asal)
Contoh bentuk dasar:
Berpakaian = pakaian (bentuk dasar)
Berprikemanusiaan  = kemanusiaan(bentuk dasar)
Menjangkiti =  jangkiti (bentuk dasar)

PENGEMBANGAN ISTILAH
Istilah memiliki makna yang tepat dan cermat serta digunakan untuk satu bidang tertentu, sedangkan nama masih bersifat umum. Hal ini tercermin dari kata leinga dan kuping yang menurut umum merupakan suatu kesatuan makna.Yakni alat pendengaran.Namun di bidang kedokteran, telinga dan kuping ini adalah kata yang memiliki makna yang berbeda.Telinga merupakan sebutan untuk alat pendengaran bagian dalam, sementara kuping adalah alat pendengaran bagian luar.
Salah satu dalam upaya pengembangan atau pembentukan istilah baru adalah dengan memanfaatkan kosakata bahasa Indonesia yang ada dengan jalan memberi makna, entah dengan menyempitkan makna kata tersebut, meluaskan, maupun memberi arti baru sama sekali. Misalnya kata papan yang semula bermakna ‘lempengan kayu (besi dan sebagainya) tipis, kini diangkat istilah untuk makna ‘pemahaman’ kata sandang yang semula bermakna ‘selendang’ kini diangkat istilah untuk makna ‘pakaian’ dan kata teras yang semula bermakna ‘inti kayu’ atau ‘saripati kayu’ kini diangkat menjadi unsur pembentuk istilah untuk makna ‘utama’ atau ‘pimpinan’. Maka itu pejabat teras berarti pejabat utama atau ‘pejabat yang merupakan pimpinan’.



BAB III
METODE PENELITIAN

JENIS PENELITIAN
Dalam penulisan di penelitian ini kami  menggunakan metode kualitatif dimana dalam penelitian ini lebih menekankan pada makna dan proses daripada hasil suatu aktivitas. Metode dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud. Data kualitatif adalah data yang dapat mencakup hampir semua data non-numerik. Data ini dapat menggunakan kata-kata untuk menggambarkan fakta dan fenomena yang diamati.
Menurut Bogdan dan Taylor (L.J. Maleong, 2011) metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang manghasilkan data deskriptif beupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Selain itu, metode penelitian kualitatif menurut Syaodih Nana, (2007:60) adalah cara untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena peristiwa, aktifitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi,  pemikiran orang secara individual atau kelompok.
Sugiono (2008:15) bahwa penelitian kualitatif deskriptif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositifisme yang biasanya digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif alamiah dimana peneliti berperan sebagai instrumen kunci .sementara itu, nawawi dan martini (1994:73) mendefinisikan metode deskriptif sebagai metode yang melukiskan suatu keadaan objektif atau peristiwa tertentu berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana mestinya yang kemudian diiringi dengan upaya pengambilan kesimpulan umum berdasarkan fakta-fakta historis tersebut. Sedangkan menurut Winarno (Dadang supardan, 2000:103) adalah suatu penelitian yang tertuju pada penelaan masalah yang ada pada masa sekarang.
Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang hendaknya menjadi pedoman oleh peneliti, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh  Bogdan dan Biklen (1982:27-29) bahwa karakteristik penelitian kualitatif diantaranya:
1.      Peneliti sendiri sebagai instrumen utama untuk mendatangi secara langsung sumber data.
2.     Mengimplementasikan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung kata-kata daripada angka.
3.      Menjelaskan bahwa hasil penelitian lebih menekankan kepada proses tidak semata-mata kepada hasil.
4.      Melalui analisis induktif, peneliti mengungkapkan makna dari keadaan yang terjadi.
5.      Mengungkapkan makna sebagai hal yang esensial dari pendekatan kualitatif.

SUMBER DATA
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama)contohnya,contoh yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau juga hasil wawancara peneliti dengan narasumber. Sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang ada.contohnya catatan atau dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji, laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh dari majalah, koran, dan lain sebagainya.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah surat kabardalam salah satu berita jawa pos metropolis “mulai terapkan parkir meter untuk umum” dalam surat kabar  jawa pos, jumat, 3 februari 2017, halaman 26.

INSTRUMEN ANALISIS DATA
Sugiono (2009:305-308) mengemukakan instrumen penelitian adalah alat yaitu peneliti sendiri atau fasilitas yang digunakan dalam pengumpulan data agar pengerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih mudah dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga akan mudah diolah. Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri sehingga peneliti harus “divalidasi”. Validasi terhadap peneliti meliputi; pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian baik secara akademik maupun logiknya.
Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya. Peneliti sebagai instrumen atau alat penelitian karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian,
2.      Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus,
3.  Tiap situasi merupakan keseluruhan artinyatidak ada suatu instrumen berupa test atau angket yng dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia.
4.      Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata dan untuk memahaminya, kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita,
5.  Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika,
6.      Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau perlakuan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN
            Banyak ditemukan data dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017. Dari sembilan sebab-sebab perubahan makna yang ada dalam buku Pengantar Semantik Bahasa Indonesia karangan Abdul Chaer yang terdiri dari: (1) Perkembangan dalam Ilmu dan Teknologi; (2) Perkembangan Sosial dan Budaya; (3) Perbedaan Bidang Pemakaian; (4) Adanya Asosiasi; (5) Pertukaran Tanggapan Indra; (6) Perbedaan Tanggapan; (7) Adanya Penyingkatan; (8) Proses Gramatikal; dan (9) Pengembangan Istilah, kami sebagai peneliti hanya menemukan beberapa faktor penyebab perubahan makna tersebut:   
Sebab-sebab Perubahan Makna dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi
Jumat, 10 Maret 2017
Perbedaan Bidang Pemakaian
Pertukaran Tanggapan Indra
Proses Gramatikal
Adanya Penyingkatan
Pengembangan Istilah
 
Berikut adalah hasil penelitiannyayang ditemukan dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017:
1.      Perbedaan Bidang Pemakaian
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi  Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu kata saja yang mengalami perubahan makna dalam perbedaan bidang pemakaian pada kata “potong”.
2.      Pertukaran Tanggapan Indra
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi  Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu kata saja yang mengalami perubahan makna dalam pertukaran tanggapan indra pada kalimat Hiasan kepala yang manis”.
3.      Adanya Penyingkatan
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi  Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu kata saja yang mengalami perubahan makna dalam adanya penyingkatan pada:
-          Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia
-          Surabaya Fashion Trend
4.      Proses Gramatikal
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi  Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu kata saja yang mengalami perubahan makna dalam proses gramatikal pada bentuk tunggal, bentuk kompleks, satuan gramatikal bebas dan terikat, morefem, dan deretan morfologis.
5.      Pengembangan Istilah
Dalam Berita Surya Female Cutting Atasan Lebih Seksi  Jumat, 10 Maret 2017 hanya ditemukan satu kata saja yang mengalami perubahan makna dalam pengembangan istilah pada kata “gaya”

 


PEMBAHASAN
            Dalam pembahasan ini, kami sebagai peneliti akan membahas secara keseluruhan sesuai dengan sebab-sebab perubahan makna dalam buku Pengantar Semantik Bahasa Indonesia karangan Abdul Chaer yang terdiri dari: (1) Perkembangan dalam Ilmu dan Teknologi; (2) Perkembangan Sosial dan Budaya; (3) Perbedaan Bidang Pemakaian; (4) Adanya Asosiasi; (5) Pertukaran Tanggapan Indra; (6) Perbedaan Tanggapan; (7) Adanya Penyingkatan; (8) Proses Gramatikal; dan (9) Pengembangan Istilah.
Berikut pembahasan berdasarkan rincian data yang ditemukan dalamberita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017

Perkembangan dalam Ilmu dan Teknologi
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk dianalisis dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017.
            Perkembangan Sosial dan Budaya
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk dianalisis dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017.
Perbedaan Bidang Pemakaian
Perbedaan makna berdasarkan bidang pemakaian maksudnya adalah kata-kata tersebut bisa jadi mempunyai arti yang tidak sama dengan arti dalam bidang asalnya. Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang tertentu itu dalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat terbantu dari bidangnya: dan digunakan dalam bidang lain untuk menjadi kosa kata umum. Oleh karena itu, kata-kata tersebut menjadi memiliki makna  baru atau makna lain di samping makna aslinya (makna yang berlaku dalam bidangnya).
Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 ditemukan data yakni pada kata:
-          Potongan
Yang terdapat pada kutipan “Soal potongan, Dyan memilih bagian atas lebih seksi”.
Dalam bidang fashion kata “potongan” memiliki makna ‘hasil memotong (memangkas, menggunting)’.Namun, kini banyak digunakan dalam bidang-bidang lainnya dengan makna ‘pengurangan’ seperti tampak digunakan dalam frase potongan harga, potong gaji, dan upah dipotong.
Adanya Asosiasi
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk dianalisis dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017.
Pertukaran Tanggapan Indra
Alat indra kita yang lima sebenarnya sudah mempunyai tugas-tugas tertentu untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini.Namun, dalam penggunaan bahasa banyak terjadi kasus pertukaran tanggapan antara indra yang satu dengan indra yang lain.
Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 ditemukan data yakni pada kalimat:
-           Hiasan kepala yang manis
Manis adalah urusan indra perasa lidah, tetapi dalam data di atas menjadi tanggapan indra pengelihatan mata.
Keadaan ini, pertukaran alat indra penanggap, biasanya disebut dengan istilah sinestesia. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani sun artinya ‘sama’ dan aisthetika artinya ‘tampak’.
Perbedaan Tanggapan
Tidak ditemukan data yang dibutuhkan untuk dianalisis dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017.
Adanya Penyingkatan
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering digunakan maka kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu maka kemudian orang lebih banyak menggunakan singkatannya saja daripada menggunakan bentuk utuhnya.
Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 ditemukan data yakni pada:
-          Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia
Yang disingkat menjadi APPMI
-          Surabaya Fashion Trend
Yang disingkat menjadi SFT

Proses Gramatikal
Proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi (penggabungan kata) akan menyebabkan pula perubahan makna.Proses gramatikal adalah proses terbentuknya sebuah kata, frase, sampai wacana, untuk memahami proses gramatikal. Proses gramatikal ikut serta dalam mengubah satu makna menjadi makna yang berbeda atau makna yang lain.
 Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 ditemukan data yakni pada:

  •  Busana
Kata “busana” termasuk dalam bentuk tunggal,yaitu bentuk terkecil dan satu-satunya.Artinya kata ‘busana’ tidak bisa diurai menjadi yang lebih kecil lagi.Makna dari bentuk tunggal itu pun leksikal, atau sesuai dengan kamus yang memiliki makna pakaian atau baju. 

  • Bergerak (Ber+gerak)
Kata “bergerak” termasuk dalam bentuk kompleks, yaitu satuan yang terdiri dari dua bentuk.Biasanya terdiri dari imbuhan (afiks) ditambah kata tunggal.
Bergerak merupakan pembentukan dari imbuhan depan (prefiks) ber- ditambah dengan kata tunggal ‘gerak’. Artinya, bergerak menjadi kata kerja dan memiliki makna ‘usaha untuk melakukan gerakan tubuh baik dengan tangan maupun kaki’.Sementara bentuk asalnya ‘gerak’ bermakna ‘perahilan tempat atau kedudukan’.
  • Kata-kata yang termasuk satuan gramatikal bebas (satuan yang dapat berdiri sendiri) artinya tanpa membutuhkan imbuhan pun, satuan tersebut memiliki makna, yaitu:
-          Rambut
-          Kepala
-          Mawar
Sementara satuan gramatikal terikat (satuan yang tidak dapat berdiri sendiri)  artinya satuan ini bisa membutuhkan satuan lain agar menghasilkan kata atau kalimat yang bermakna. Biasanya satuan gramatikal bebas ini berupa afiks (imbuhan), preposisi (kata depan) dan konjungsi (kata hubung). Berikut datanya:

Afiks
Preposisi (kata hubung)
Konjungsi (kata depan)
Menggunakan (mendapat imbuhan meng-)
Sedangkan
Untuk
Digunakan (mendapat imbuhan di-)
Karena

Kebanyakan (mendapat imbuhan ke-)
Tetapi


Meski


Dan


Sehingga

  • Kata-kata yang termasuk morfem yakni satuan terkecil yang membedakan arti baik secara bentuk tunggal, bentuk kompleks, atau hasil dari proses gramatikal:

Satu Morfem
Dua Morfem atau Lebih
Bagian
Mengutamakan
Perhatian
Menjadikan
Istimewa
Membuat

Menarik

Berbeda

Memperlihatkan

  • Kata-kata yang termasukderetan morfologis yakni proses atau rumusan untuk mengetahui bentuk asal dan bentuk dasar, yaitu:
Bentuk Asal:
Menghadirkan = hadir (bentuk asal)
Dikenakan = kena (bentuk asal)
Menutupi  = tutup (bentuk asal)
Bentuk Dasar:
Menghadirkan = hadirkan (bentuk dasar)
Dikenakan = kenakan(bentuk dasar)
Menutupi = tutupi (bentuk dasar)

Pengembangan Istilah
Istilah memiliki makna yang tepat dan cermat serta digunakan untuk satu bidang tertentu, sedangkan nama masih bersifat umum.Dalam berita Surya Female Cutting Atasan lebih Seksi Jumat, 10 Maret 2017 ditemukan data yakni pada kata:
-          Gaya
Kata “gaya” yang semula bermakna ‘sikap’ atau ‘gerakan’ kini diangkat menjadi istilah untuk makna “mode” yang memiliki makna ‘ragam (cara, bentuk) yang terbaru pada suatu waktu terntentu (tentang pakaian, potongan rambut, corak hiasan, pemakaian bahasa dan lain sebagainya).



BAB V
PENUTUP
  
KESIMPULAN
Dalam buku karangan Abdul Chaer yang berjudul Pengantar Semantik Bahasa Indonesia ada sembilansebab-sebab perubahan makna yang terdiri dari: (1) Perkembangan dalam Ilmu dan Teknologi; (2) Perkembangan Sosial dan Budaya; (3) Perbedaan Bidang Pemakaian; (4) Adanya Asosiasi; (5) Pertukaran Tanggapan Indra; (6) Perbedaan Tanggapan; (7) Adanya Penyingkatan; (8) Proses Gramatikal; dan (9) Pengembangan Istilah. Makna itu sendiri merupakan suatu arti atau maksud terhadap sesuatu yang akan dimaknai dalam pemakaian makna.
Dari penelitian yang kami lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam berita Surya Female Jumat, 10 Maret 2017 terdapat beberapa faktor yang menyebabkan makna berubah yaitu: (1) Perbedaan Bidang Pemakaian; (2) Pertukaran Tanggapan Indra; (3) Adanya Penyingkatan; (4) Proses Gramatikal; dan (5) Pengembangan Istilah. Hal ini dikarenakan kata-kata yang digunakan dalam berita tersebut jika di tinjau lebih dalam lagi memiliki makna yang berbeda-beda, sehingga memudahkan kami untuk menganalisisnya sesuai dengan rumusan masalah yang ada.

SARAN
   Saran kami ditujukan pada pembaca makalah penelitian khususnya masyarakat Indonesia dan mahasiswa hendaklah di zaman yang serba berubah ini kita lebih tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi khususnya dalam bidang bahasa Indonesia. Kita harus melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan kita harus menggunakan bahasa Indonesia dengan sebaik mungkin. Perubahan yang terjadi perlu kita cermati dengan baik agar bahasa Indonesia tetap terjaga.



DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2013. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Wiwit Purwanto 10 Maret, 2017. Cutting Atasan Lebih Seksi. Surya Female, hlm 6
repository.upi.edu/2133/4/T_BIND_1101600_Chapter1.pdf. (28 Maret 2017, pukul 09.50)
http://ahmadzulbahasa.blogspot.com/2010/09/tugas-makalah-semantik.html?m=1 (28 Maret 2017, pukul 10.00)
repository.radenintan.ac.id/246/4/BAB_III.pdf (31 Maret 2017, pukul 09.30)
http://www.bimbie.com/perubahan-makna.htm (04 April 2017, pukul 14.44)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

TEBAK KATA MATERI: Struktur Anekdot LANGKAH-LANGKAH Guru mempersiapkan media yang sudah lengkap dengan huruf-huruf. ...